Cinta Ramadan Tumbuh dari Langgar Kampung

Ketika suasana shaum Ramadan tiba, yang teringat oleh saya pertama adalah saat beraktivitas di sebuah langgar kecil depan rumah Mbah Modin. Jarak dari rumah orang tua saya di Desa Gondang Pelosok Nganjuk sekitar 25 meter.

Zaman itu permainan masih sangat sederhana, tapi kami sangat menikmatinya di siang hari Ramadan. Area mainnya di sawah dan pekarangan sekitar rumah dan langgar. Seingat saya, jika Ramadan, sekolah libur sebulan penuh. Kegiatan kami bersama teman-teman kalau pagi sehabis Subuh ya mainan di sekitar langgar. Kalaupun ada ngaji yang dipandu kakak kelas, bukan guru khusus yang mengajar ngaji di pagi hari. Tidak ada pembinaan khusus seperti sekolah-sekolah boarding yang ada saat ini. Sebab, selama puasa Ramadan, kegiatan ngaji yang selama ini dilakukan usai Magrib sampai menjelang Isya diliburkan.

Suasana seperti ini saya nikmati sampai kelas V SD. Sebab, saat kelas VI saya dihijrahkan bapak ke pondok di desa sebelah, yaitu Desa Senggowar bernama Pondok Gebangsari yang diasuh Romo Kiai Abdul Karim (Allah ya arham). Mulai terbiasa dengan kegiatan pondok walau kami menikmatinya mulai menjelang Magrib hingga bakda Isya. Walau malam ikut kegiatan ngaji tingkat dasar, pagi-siangnya masih harus ikut sekolah umum di SD setempat. Bapak saat itu dhawuh: ”Le, sekolah agama itu untuk bekal akhirat, dan sekolah umum untuk bekal dunia-akhirat. Maka, sekolahlah dua-duanya agar kamu nanti memperoleh banyak nikmat dunia dan akhirat”.

Maka dari itu, masa kecil saya itu isinya sekolah, main, dan ngaji. Saat main, ya main tapi saat harus cari rumput maupun menggembala kambing ya dilakukan. Saat mencari rumput dan menggembala sambil main yang terjadwal rutin tiap hari mulai sepulang sekolah hingga waktu Asar tiba dan dilanjutkan menjelang Magrib. Sebelum Magrib, kami sudah wajib di rumah untuk siap-siap ke masjid. Setelah di masjid, ada semacam undang-undang tidak tertulis kalau semua santri harus menyumbang 5 timba air untuk mengisi jedhing pondok dengan menimba dari sumur pondok. Maklum, dulu belum ada pompa air seperti sekarang. Yang ada adalah kerekan untuk mengangkut air dari sumur.

Praktis di masa kecil saya rasakan sangat membahagiakan karena berisi hal-hal yang menyenangkan. Hal yang sangat dinanti-nantikan adalah saat berbuka dengan terdengarnya suara meriam (blanggur) saat tanda berbuka puasa. Sebelum berbuka biasanya hunting bahan makanan di sawah simbah. Saat itu seingat saya tanaman simbah ada semangka, mentimun, dan tomat.

Meningkat kelas saat SMP, pelajaran ngaji tidak hanya di tingkat dasar. Sudah di kelas lanjut, yang mengajar Abah Kiai Azhari Amin yang sekarang beliau pengasuh Ponpes Al Banaat Gebangsari, Desa Senggowar, Kecamatan Gondang, Kab Nganjuk, penerus Romo Kiai A. Karim, pendiri pondok ini. Kegiatan Ramadan diisi full ngaji kitab klasik yang pada hari biasa diajarkan bakda Magrib hingga Isya. Jam ngaji dimulai bakda Asar dan bakda Subuh.

Target untuk satu Ramadan selesai 2 kitab. Saat itu belum dapat merasakan apa gunanya ngaji dengan waktu dan target yang seperti ini. Belum juga paham dan merasakan apa dampak dan akibat langsung dari banyak membaca kitab-kitab ini (misal kitab Uquddulijain). Yang terasa langsung adalah tuntunan ibadah menjadi lebih terarah dan penanaman pembiasaan misalnya saat belajar kitabul ta’lim wa muta’alim.

Seusai Tarawih biasanya kami pulang dan mengambil bekal sahur karena kami sahur rame-rame di langgar dekat rumah bersama teman-teman. Mengapa sahur tidak di rumah? Alasan yang jelas adalah agar dapat bermain-main lebih lama dengan teman-teman. Di langgar tidak ada bantal empuk, yang ada adalah bantal dari kayu randu. Benda ini spesial sekali untuk alas kepala. Kalau Subuh tiba, sambil nunggu imam salat datang, teman-teman melakukan puji-pujian berirama lembut namun menyentuh hati.

Saat SMA, saya harus ke kota karena saat itu di Desa Gondang belum ada SMA. Yang ada adalah Sekolah Menengah Teknologi Pertanian (SMTP). Pak Lik tidak setuju saya sekolah di SMTP Balonggebang, syukur alhamdulillah diterima sebagai siswa panggilan ke SMAN 1 Nganjuk. Maka, saya harus meninggalkan kegiatan rutin di masjid dan langgar desa. Lagi-lagi jika Ramadan saya pulang ke kampung untuk mengikuti tradisi ngaji yang selama ini saya ikuti yang diasuh Abah Azhari Amin. Sampai-sampai saat diterima di Jerman untuk S-3, saya mohon doa dan nasihat beliau sekaligus minta maaf karena tidak dapat meneruskan ke jurusan ilmu agama. Saat itu ada nasihat indah beliau yang sangat menyemangati saya:

”Mas, Sampean ke Jerman iki yo sinau ilmune Gusti Allah… dum-dum tugas. Niat lillahi ta’ala. Muslim iku kudu ana sing paham ilmu biologi kayak Sampean iki ben iso ngimbangi ilmuwan saka mancanegara.” (Mas, Anda ke Jerman itu juga belajar ilmu Allah, bagi-bagi tugas. Niat lillahi ta’ala. Muslim itu harus ada yang paham ilmu biologi seperti Anda ini untuk mampu mengimbangi ilmuwan luar negeri). Wawasan untuk cinta ilmu ditorehkan Abah Azhari yang sangat terasa sampai saat ini.

Torehan cinta ilmu ini menjadi tonggak inspirasi pengembangan keilmuan yang saya tekuni. Inspirasi penelitian ternyata banyak datang dari ayat-ayat kauniyah (tentang alam) yang saat belajar ngaji dulu tidak terasa maknanya, baru sekarang sangat terasa.

Pemaksaan oleh bapak dan kadang oleh ibu untuk selalu ke masjid jika tidak ada kegiatan sekolah menjadikan sebuah pengalaman rohani agar selalu mencintai masjid. Bahkan saat dapat kesempatan belajar di Jerman, bisa amanah untuk menjadi juru kunci masjid di apartemen mahasiswa. Saya syukuri untuk menjadi juru kunci sekaligus marbot di apartemen (Wohnung) di Richard-Paulick Strasse 13 Halle (Saale).

Sebab, di apartemen ini ternyata cukup banyak mahasiswa muslim dari Indonesia dan jazirah Arab (Jordania, Libya, Mesir, Palestina, Sudan, Marokko, dan lain-lain). Di masjid ini terjalin networking semakin kuat dengan datangnya Ramadan. Karena ternyata mereka juga rata-rata mengambil program yang sama dengan kami. Saling berbagi dan membantu adalah sebuah kejadian yang sangat indah karena kami memiliki kesulitan yang beragam. Bahkan, sampai sekarang kami masih menjalin komunikasi dengan teman-teman yang saat itu sama-sama menjadi jamaah masjid di apartemen mahasiswa.

Sepulang sekolah dari Jerman pada 2003, romantika cinta masjid membawa saya untuk khidmat di masjid karena diminta jamaah di kampung saya tinggal karena rumah kami dikelilingi 3 masjid dengan jarak yang tidak berjauhan. Berkhidmat di masjid kampung ini banyak memberikan pengalaman yang sangat mengesankan karena kami mampu menampilkan harmoni antara masyarakat yang NU dan Muhammadiyah. Kehidupan jamaah sangat harmonis karena kita ajak jamaah menjaga harmoni tersebut.

Sepuluh tahun mencintai masjid di kampung ini, Allah menakdirkan kami di tempat baru di dekat sekolah boarding yang sedang kami siapkan untuk tumbuh cepat. Alhamdulillah, didekatkan masjid lagi di kawasan depan UMM kampus 3. Seiring dengan ini, adik-adik alumni Al Banaat Gebangsari berinisiatif mendirikan sekolah di bekas tempat ngaji SD dulu bernama An-Nahdlah Al Islamiyah. Sekolah semakin berkembang begitu juga dengan sekolah boarding yang kami tumbuh kembangkan. Semoga sekolah-sekolah ini menjadi bagian dari penyiapan generasi paripurna (insan kamil) dan pengembang peradaban Islam yang menjaga harmoni dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamiin.

Selain romantika cinta masjid dan cinta Ramadan, romantika cinta ilmu makin terasa dengan makin nikmatnya berkarya mengkaji ciptaan Allah dari bidang life science yang mengacu pada referensi ayat-ayat kauniyah. Sebagai guru, harmoni kedua sumber ilmu ini begitu indah terangkai saat melakukan penelitian bersama mahasiswa dan kolega. Temuan-temuan yang berorientasi pada kemaslahatan umat adalah sebuah impian yang memicu dan memacu kreativitas berkarya. Terima kasih bapak ibuku…Romo Kiai A. Karim dan Abah Kiai Azhari Amin atas torehan indah nilai-nilai spiritual dan ukiran kehidupan lainnya yang memberikan inspirasi saya menjalani kehidupan ini. (c2/abm)

Penulis: Prof Dr agr Mohamad Amin SPd MSi, adalah guru besar Biologi Universitas Negeri Malang (UM)