Cinta Puspita Indra S. P. N., Juara Tinju Amatir Se-Jawa

Gemar Tinju sejak TK, Jatuhkan Lawan di Ronde Pertama

Cinta Puspita Indra Sari Putri Ngabalin bergaya di depan deretan piala, di base camp Pertina Kota Batu, kemarin (20/1).

Usianya baru 8 tahun. Tapi, Cinta Puspita Indra Sari Putri Ngabalin garang saat di ring tinju. Tak butuh waktu lama untuk menjatuhkan lawannya, satu ronde langsung jatuh. Pantas saja, bocah kelas III SD itu juara tinju amatir se-Jawa.

Hujan deras mengguyur Kota Batu kemarin sore (20/1). Cinta Puspita Indra Sari Putri Ngabalin tampak asyik bermain gadget di salah satu ruang kantor Pertina (Persatuan Tinju Amatir Indonesia) Kota Batu, Jalan Ir Soekarno. Bocah itu begitu semringah ketika Jawa Pos Radar Malang menyambanginya. Dia berlari mengambil medali emas yang menggantung di sela-sela deretan piala, kemudian menyerahkan kepada wartawan koran ini.

”Ini yang saya raih pada Juni 2017 lalu,” ujar Cinta–sapaan akrabnya– dengan wajah yang sedikit malu-malu.

Sekilas, tidak ada bedanya antara Cinta dengan bocah lain seusianya. Dia adalah bocah lugu yang membutuhkan perhatian dan suka dimanja. Sangat kontras dengan keganasannya saat bertanding di ring tinju. Ya, Cinta merupakan petinju terbaik di tingkat Jawa untuk kelas 24 kilogram. Juni 2017 lalu, Cinta meraih gelar sebagai petinju terbaik se-Jawa setelah menjatuhkan lawannya pada ronde pertama.

Kala itu, Cinta mengikuti kejuaraan tinju Antar Lintas 3 Provinsi di Pulau Jawa. Cinta sempat grogi saat melawan petinju dari Brebes, Jawa Tengah. Maklum, itu merupakan pengalaman kali pertama. Selain itu, lawannya lebih senior.

”Sempat deg-degan. Apalagi lawannya tuan rumah dan sudah berpengalaman.

Sementara saya juga baru latihan dua minggu sebelum pertandingan itu,” kata siswi kelas III SDN Sisir 04 Kota Batu itu.

Namun, groginya tak lama karena dia berhasil menenangkan diri. Apalagi saat mendengar teriakan dukungan dari suporternya di luar ring, semangat Cinta pun berkobar. Dia merasa mendapatkan energi untuk bertanding.

Gadis berzodiak Pisces itu tidak butuh waktu lama untuk mengalahkan lawannya. Pada ronde pertama, Cinta memukul lawannya hingga terjatuh. Serangan terus dilancarkan pada ronde kedua. Tepat pada ronde ketiga, lawannya babak belur hingga menangis. Menyadari keganasan Cinta, pihak lawan pun langsung melempar handuk sebagai simbol menyerah.

”Pertandingan selama tiga ronde itu, saya tidak kena pukul sama sekali,” kata Cinta.

Dia berhasil menang KO (knockout). Padahal, lawan Cinta itu sudah kelas IV SD, lebih tua satu tingkat jika dibanding Cinta yang masih kelas III SD. ”Lawan saya ini memang dari pihak tuan rumah, tapi banyak yang dukung saya,” kenang Cinta.

*Selengkapnya baca Jawa Pos Radar Malang edisi Minggu 21 Januari 2018

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Aris Dwi