Chairul S. Sabaruddin, Pelukis yang Karyanya Kerap Terpajang di Majalah Mancanegara

Banyak pelukis di Malang Raya. Namun, hanya segelintir yang bisa go international. Salah satunya Chairul S. Sabaruddin. Pelukis asal Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, tersebut sudah menghasilkan ribuan karya dan terbit di majalah di berbagai negara.

SIANG itu (29/11), Chairul S. Sabaruddin tampak serius melukis di rumahnya, Jalan Genuk Watu Barat, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing. Bila diamati dari caranya menggoreskan pensil ke kanvas, dia tampak piawai melukis.

Ya, Iroel, sapaan akrab Chairul S. Sabarudin, bukanlah pelukis biasa. Dia adalah pelukis yang karyanya sudah merajai di berbagai majalah internasional. Di antaranya, majalah Asian Art News Singapura pada 2010. Setidaknya, ada delapan lukisan karya Iroel yang mengisi dua halaman majalah berbahasa Inggris tersebut.

”Sudah banyak majalah yang menampilkan karya saya,” ujar Iroel sembari menunjukkan beberapa majalah berbahasa Inggris yang menampilkan karyanya.

Selain majalah Singapura, Iroel juga menunjukkan lukisannya menjadi cover majalah Colored Pencil USA edisi Februari 2012. Ayah dua anak itu sangat senang karena lukisannya tentang zebra pada 2008 lalu menjadi sampul majalah yang menjadi referensi pembaca karya lukis pensil tersebut.

Majalah lain yang memajang karyanya adalah UK Coloured Pencil Society Magazine. Pada 2012 silam, majalah yang mengupas kreativitas karya pensil warna itu juga memajang karya Iroel dalam empat halaman. ”Saya bukan anggota organisasi. Tapi, alhamdulillah lukisan saya masuk,” tukasnya.



”Terbaru, majalah arsitek nasional CASA Indonesia edisi November IV/2017 juga memamerkan karya saya,” tambah alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Bakat Iroel di dunia seni lukis pensil sudah terlihat sejak kecil. Meski tak memiliki darah seniman dari orang tuanya, tapi Iroel kecil selalu suka menggambar. Meski begitu, tidak adanya fasilitas yang mewadahinya membuat kreativitasnya tidak terlihat.

Karya Iroel mulai bermunculan pada 2004. Saat itu, dia mulai bekerja di sebuah hotel di Nusa Dua, Provinsi Bali. Tugasnya melukis tamu-tamu dari mancanegara yang menginap di hotel. Karena bekerja sesuai keinginannya, Iroel merasa nyaman.

”Hanya sebentar bekerja di Bali. Para tamu yang saya lukis banyak yang senang. Bahkan ada yang mengajak saya ke negaranya. Katanya mau memasarkan lukisan saya,” kata dia.

Meski hanya satu tahun di Bali, tapi nama Iroel sudah dikenal oleh banyak komunitas pelukis pensil. Selain karena lukisannya sering booming, Iroel juga mudah bergaul. Setiap ada waktu luang, dia menyempatkan diri nongkrong bersama para pelukis pensil. Dalam setiap pertemuan, para pelukis pensil itu seolah berlomba-lomba. Mereka menentukan satu objek secara, kemudian bersama-sama melukis objek yang sudah disepakati tadi.

Hasil karya Iroel kerap membuat teman-temannya di komunitas takjub. Padahal, peralatan yang dia pakai tidak spesial. Bahkan termasuk berkualitas rendah. ”Pensilnya saja saya beli eceran. Banyak teman-teman di Bali yang mencarikan pensil eceran,” ucapnya.

Pada 2005, Iroel pulang ke kampung halamannya di Kota Malang. Mulanya dia ingin merasakan pekerjaan lain selain melukis. Namun nasib tidak berkata begitu. Komunikasinya dengan teman-temannya sesama pelukis pensil di Bali terus terjalin, dan itu membuat kehidupannya di Malang juga diisi dengan dunia seni lukis.

”Mungkin karena sudah passion menjadi pelukis,” kata dia.

Kini, Iroel sibuk menggelar pameran. Sejak 2012 hingga 2016, Iroel aktif tergabung dalam pameran tahunan Art Bazar Jakarta. Iroel absen mengikuti pameran hanya jika banyak permintaan lukisan yang tidak bisa dia tinggalkan. Hingga saat ini, sudah ribuan karya Iroel yang tersebar pada penikmat lukis pensil dari seluruh dunia.

Melalui lukisan itu juga Iroel bertemu beberapa tokoh penting di Indonesia. Di antaranya, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi. Juga, dia pernah bertemu dengan Titik Soeharto, politisi dari Partai Golkar sekaligus putri mantan presiden Soeharto.

Iroel mengatakan, waktu yang dia butuhkan untuk menuntaskan satu karya beragam. Misalnya, untuk lukisan berukuran sekitar 2 x 3 meter dibutuhkan waktu satu bulan. Mengenai harga, Iroel tidak mematok standar utama.

Bagi Iroel, melukis dengan pensil merupakan media yang paling sulit. Sebab, sekali pensil digoreskan, warnanya tidak bisa dihapus. Namun, dia menyatakan, selama ini tidak pernah gagal. Saat ini, Iroel sedang merampungkan lukisan berukuran 15 meter yang dianggapnya sebagai masterpiece.

”Bagi saya, semua karya saya itu masterpiece. Karena saat melukis saya selalu ingin hasilnya memuaskan,” pungkasnya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Fajrus Shiddiq