Cerita Tiga Siswa SMAN 1 Singosari Juara II Se-Asia Tenggara

Tiga siswa asal SMAN 1 Singosari ini bikin bangga warga Kabupaten Malang. Bagaimana tidak, mereka juara II se-Asia Tenggara dalam kompetisi teknologi. Menariknya, mereka juara berkat teknologi terkini. Teknologi ini sama dengan teknologi yang digunakan di Piala Dunia 2018. Seperti apa ceritanya?

 

Pada momen Piala Dunia 2018 di Rusia beberapa waktu lalu, ada teknologi yang baru digunakan untuk kali pertama. Namanya adalah teknologi Augmented Reality (AR). Dengan teknologi ini, wasit dalam dunia sepak bola bisa terbantu untuk melihat fakta sesungguhnya yang masih samar-samar, misalnya soal penalti.

Teknologi ini sebenarnya seperti video. Namun, teknologi temuan ilmuwan Morton Heilig ini menggabungkan sensorama dengan visual. Dengan teknologi ini, video yang dihasilkan seperti video tiga dimensi. Jadi, lebih jelas dan detail.

Rupanya, tiga siswa dari SMAN 1 Singosari (Smanesi) itu berhasil meraih prestasi internasional berkat kreasi mereka menggunakan teknologi Augmented Reality (AR). Tiga siswa tersebut adalah Ratna Zamawa, Kamila Ratnawati, dan Muhamad Ihsan Huda.



Sebelum menjelaskan perihal juara II di tingkat Asia Tenggara (ASEAN), Ratna yang merupakan ketua kelompok ini bercerita panjang lebar asal muasal dirinya mengenal dunia teknologi. Kali pertama masuk ruangan laboratorium komputer di area sekolah, ketika itu dia masih berumur 15 tahun. Dia dan kedua temannya itu merasa kebingungan. Masalahnya, ketiga siswa ini sama sekali tidak memiliki minat pada dunia teknologi informasi.

Tantangan yang dibuat sang guru, Eko Bhudi Kurniawati, awalnya membuat dia patah arah. Lantaran, Ratna dan kedua rekannya ini tidak ada basic sama sekali dalam dunia information technology (IT). ”Waktu dipanggil Bu Eko ke laboratorium komputer, saya bingung harus ngapain,” ucap siswi kelas XII IPA ini.

Karena masih awam di dunia teknologi, mereka selama tiga bulan harus belajar tentang ilmu dasar, yakni bahasa pemprogaman (coding). Banyak suka duka yang mereka alami. Karena minimnya penguasaan tentang dunia IT, mereka harus benar-benar kerja keras agar dapat mengikuti kompetisi di level Asia Tenggara pada Februari lalu. Event ini diselenggarakan The Southeast Asian Ministers of Education Organization (Seameo). Organisasi ini adalah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang berada di Asia Tenggara. ”Total pesertanya waktu itu ada 208 se-Asia Tenggara,” imbuhnya.

Karena ajang ini merupakan ajang kejuaraan di luar bidang akademis, banyak omongan miring yang harus tim ini terima. Termasuk dari beberapa temannya yang sempat menyepelekan usaha mereka. Tak hanya itu, ketiganya juga sempat menumpang belajar di SMKN 2 Kota Malang.

Ini karena ketika itu di sekolahnya belum ada tutornya. Tentu saja, proses menumpang belajar ini menjadi tantangan tersendiri, apalagi SMKN 2 Malang adalah rivalnya di kompetisi itu. ”Kami minder waktu belajar AR di SMKN 2 Malang karena mereka juga ikut serta dalam lomba tersebut,” imbuhnya.

Sedangkan untuk inovasinya karena tim ini memiliki kepedulian tentang gizi, maka itulah yang dikembangkan melalui teknologi AR. Mereka membuat iklan tentang asupan gizi bagi pelajar. Iklan ini berupa ajakan agar pelajar tidak lupa memakan buah dan sayur.

Dalam video berdurasi 2 menit 12 detik tersebut, mereka memberi judul videonya Education to Life Clean and Healthy. Menariknya, di video ini ada permainan visual yang apik. Pertama yang muncul adalah foto aneka makanan sehat.

Lalu, gambar itu berubah menjadi video yang seolah-olah ada di atas sebuah buku. Nah, tidak lama berselang, makanan itu bergoyang-goyang ke atas seolah ada keinginan kalau mereka sedang menunggu untuk dimakan. Setelah itu, ada tata cara cuci tangan yang benar. Video tiga dimensi ini menunjukkan seseorang yang sedang mencuci tangannya.

Terakhir, di video itu juga ada anjuran untuk berlari. Uniknya, ada gambaran orang yang sedang berlari di atas sebuah buku. Orang tersebut ditampilkan dalam visual tiga dimensi sehingga tidak membosankan ketika ditonton. Apalagi, aneka macam gambar itu dibarengi dengan musik yang santai.

Menurut Ratna, ada tanggung jawab moral kenapa isu kesehatan yang mereka bawa. ”Awalnya saya memang menjadi duta gizi di tingkat SMA, dari situlah saya mendapat ide mengembangkan teknologi AR dengan tema kepedulian asupan gizi,” imbuh Ratna.

Selanjutnya karena juara II yang diraih, saat ditemui kemarin, matanya tampak berbinar ketika mengenang waktu meraih penghargaan di tingkat Asia Tenggara. Menurut dia, banyak hal yang harus dilalui untuk kemudian menjadi juara. ”Satu bulan jelang perlombaan itu, saya sudah hampir menyerah dan ingin keluar dari tim, tapi berkat semangat dan dukungan Bu Eko beserta teman-teman akhirnya saya mampu,” kata gadis yang rencananya ingin melanjutkan kuliah di bidang kesehatan.

Untuk belajar tentang teknologi AR,  mereka banyak belajar melalui YouTube dan membaca sejumlah artikel. ”Kami justru banyak mendapat masukan pengetahuan dari YouTube,” imbuh Kamila, teman satu timnya.

Kreasi mereka pada puncaknya dipresentasikan pada 6 Februari lalu di Jakarta. Sebenarnya kompetisi ini berpusat di Bangkok, tapi untuk di Indonesia dipresentasikan di Jakarta. Pada kompetisi ini, dia meraih juara II. Karena prestasi ini, Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur menyebarluaskan karyanya itu ke seluruh instansi SMA di wilayah  Jawa Timur. Tim ini dinilai sebagai pionir pengembangan teknologi tepat guna sebagai media yang memudahkan anak-anak belajar.

 

Pewarta: Miftahul Huda
COpy Editor: Dwi Lindawati
Penyutning: Irham Thoriq