Cerita Suwandi Waeng, Pelukis Asal Batu yang Kreatif

Suwandi peka terhadap lingkungannya sekitar, terutama sampah plastik. Dia menuangkan sampah plastik itu dalam sebuah karya yang indah. Hal itu sebagai edukasi kepada publik kalau penggunaan sampah plastik secara berlebihan akan merusak lingkungan. Maka, mendaur ulang sampah menjadi barang yang bernilai merupakan sesuatu yang perlu. Bagaimana proses kreatifnya?

Lukisannya Jadi Kritik Budaya Komsumtif Plastik Masyarakat

Suwandi peka terhadap lingkungannya sekitar, terutama sampah plastik. Dia menuangkan sampah plastik itu dalam sebuah karya yang indah. Hal itu sebagai edukasi kepada publik kalau penggunaan sampah plastik secara berlebihan akan merusak lingkungan. Maka, mendaur ulang sampah menjadi barang yang bernilai merupakan sesuatu yang perlu. Bagaimana proses kreatifnya?

Sekitar tujuh lukisan menghiasi dinding rumah yang terletak tak jauh dari Balai Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu. Beberapa lukisannya beraliran realis dengan bentuk tas plastik, tampak indah dan elegan. Rumah itu milik Suwandi Waeng, seorang pelukis asal Kota Batu. Dia bercerita banyak mengenai proses kreatifnya dalam seni lukis saat ngobrol dengan Jawa Pos Radar Batu kemarin (1/3).

”Saya mulai tertarik dengan tas plastik sejak 2016 lalu. Kalau melukis sudah lama. Sejak SMP sudah senang menggambar,” kata Suwandi sambil tersenyum.

Ihkwal mengangkat tema tas plastik sebagai karya lukisan, Suwandi menjelaskan, idenya muncul karena banyak sampah plastik di sekitarnya. Dari situ, Suwandi kemudian berusaha mengumpulkan aneka warna plastik, lalu disusun menjadi sebuah karya. ”Kok bagus ya setelah saya susun. Lalu saya potret, setelah itu saya lukis,” kata pria yang lahir 15 Desember 1978 ini.



Orang-orang yang terlalu komsumtif terhadap plastik membuat sampah plastik semakin membeludak. Tentu saja itu akan mengancam lingkungan. Suwandi pun berusaha mengajak publik untuk mengurangi dan mengolah sampah plastik menjadi barang yang indah dan bernilai. ”Saya mengubah perspektif banyak orang kalau sampah plastik itu jorok. Ide kreatif bisa mengubah sampah plastik jadi barang yang elegan,” katanya.

Lukisan plastik yang terpajang di dinding rumahnya tampak nyata. Nyaris seperti potret foto. Lukisan Suwandi yang realis itu berkat teknik melukis serta pemilihan warna dan gradasi cat akriliknya. Lukisannya pun tidak bertekstur seperti tiga dimensi. ”Ini judulnya Sedang Tumbung, yang artinya tumbuh dalam konotasi yang luas, terutama di pertanian. Desember–Januari lalu pameran di Bali,” terang Suwandi menunjukkan salah satu lukisannya.

Dia bercerita, dirinya mulai melukis plastik pada 2016 lalu. Dia menciptakan sebanyak tujuh karya, lalu mendapatkan kesempatan menggelar pameran tunggal di Artotel, Surabaya, yang bertahuk Trans Plastik. ”Pasca pameran itu, saya terus termotivasi untuk berkarya dengan tema plastik. Hingga kini, sudah ada 15 karya dengan tema serupa,” kata pria yang dikaruniai dua anak ini.

Sebelum mengenal lukisan plastik, Suwandi sudah jadi perupa sejak tahun 2008. Sebenarnya dia tidak memiliki garis keturunan seniman. Tapi, pada dasarnya dia memang gemar menggambar. ”Saat SMA di Pasuruan, saya menjadi ketua bidang kesenian berkat suka menggambar dan melukis,” kenangnya.

Setelah lulus SMA, dia pergi ke Kota Batu untuk belajar kepada perupa yang lebih senior, seperti Isa Ansori, Koeboe Sarawan, Anwar, dan perupa lainnya. Saat itu, menjadi pelukis bukan mata pencaharian utamanya. Dari siang sampai sore hari, Suwandi menjadi barberman atau tukang cukur rambut selama 8 tahun. ”Waktu itu saya sudah berkeluarga, lalu mulai tergugah meninggalkan barbershop untuk total melukis,” urai dia. ”Saya mempertimbangkan keluar dari barbershop selama satu tahun. Istri juga mendukung, sehingga tidak ada kendala, walaupun istri sedikit meragukan,” terangnya sambil tertawa kecil.

Karya lukis dari Suwandi kian indah. Lukisannya pun memikat Manajemen Galeri dari Singapura. Dia kemudian dikontrak untuk berkarya, dan lukisan karyanya dipajang di Singapura selama tiga tahun. ”Mulai 2010–2013, setiap bulan bisa menghasilkan satu hingga dua karya, lalu dipajang di sana (Singapura). Lebih banyak lukisan profil dan human interest,” beber Suwandi. ”Berkat bisa masuk di Singapura, karya saya juga banyak dikenal publik internasional dan nasional,” kata pria berusia 39 ini.

Setelah kontrak dengan Manajemen Galeri habis, Suwandi lebih banyak menggelar pameran di tingkat nasional. Banyak kompetensi yang sudah dia diikuti. Karyanya juga masuk nominasi nasional. ”Saya menciptakan karya dengan berbagai tema lingkungan. Lalu, pada 2016 muncullah lukisan plastik hingga sekarang,” tuturnya.

Selama menjadi perupa, dia sangat mengapresiasi idenya sendiri hingga proses kreatifnya. Walau lukisannya dimiliki kolektor, tapi idenya, paling tidak, sudah tersampaikan. ”Saya kira, perupa yang melukis plastik tidak saya saja. Namun yang membedakan adalah idenya,” tutupnya.

Pewarta : Aris Syaiful
Penyunting : Aris Syaiful
Copy Editor : Arief Rohman
Foto :Aris Syaiful