Cerita Para Model di Balik Panggung Runway, Cuma Punya 30 Detik Ganti

JawaPos.com – Melihat seorang model tampil menarik berjalan di atas runway (catwalk) rasanya membuat siapa saja terinspirasi. Mereka pandai merepresentasikan busana koleksi desainer sehingga membuat penonton terpukau. Tapi tahukah Anda, apa yang tampil di atas panggung tak sama seperti apa yang terjadi di belakamg panggung?

Seorang model dituntut harus tetap tampil profesional. Apapun yang terjadi di belakang panggung, tak boleh mengganggu penampilan. Model dan Brand Ambassador Jakarta Fashion Week Juwita Rahmawati bercerita banyak tentang repotnya para model bersiap-siap atau berganti busana di balik panggung. Bahkan hanya punya waktu singkat.

“Wah apa yang terjadi di belakang panggung itu hectic banget sih. Kadang 1 slot itu bisa 3 kali ganti baju. Di depan kan musik jalan terus. Di belakang para model harus ganti baju kadang cuma punya waktu mungkin kurang dari 30 detik. Cepat banget harus urus diri sendiri. Waktu awal-awal pasti nanya, sepatu saya mana, baju saya mana. Lama-lama sudah pengalaman, kalau mau show saya sudah persiapkan lebih cepat,” tutur Wita, sapaannya, saat berbincang dengan JawaPos.com baru-baru ini.

Hal senada juga dialami para model muda. Ajang JFW kali ini memang dibuat lebih segar agar sesuai dengan semangat para milenial. Seperti yang diungkapkan Devona Cools dan Axel Jan Thierry Leijen sebagai JFW 2020 Icons.

Devona Cools dan Axel Jan Thierry Leijen sebagai JFW 2020 Icons. (Instagran Devona Cools)

Sebagai model muda, mereka juga menuturkan hal yang sama mengenai pengalamannya di balik panggung runway. Apalagi sekelas pekan mode JFW, menjadi pencapaian tertinggi di usia mereka yang lahir tahun 1990-an.

“Di belakang panggung sih sudah enggak peduli lagi. Dikasih baju siap-siap sesuau line-up. Lari ke sana ke mari hectic banget. Jeda hanya 1 menit paling lama, bahkan 30 detik,” kata Devona.

“Desainer biasanya meminta para model menyesuaikan cara jalan. Maunya bagaimana, edgy kah, lebih pelan atau lebih cepat,” tambah Axel.

Persiapan Sebelum Tampil

Juwita mengungkapkan penonton selalu melihat para model tampil sempurna di atas runway. Namun perjuangan yang dilakukan untuk mendapatkan penampilan yang sempurna tidaklah mudah. Para model bahkan harus datang sejak pukul 4-5 pagi di venue atau di lokasi tempat mereka akan tampil. Padahal tampilnya bisa dimulai sore atau malam hari.

“Orang-orang mengiranya ya jadi model enak. Tampil cakep keren pakai busana branded. Padahal ya, show jam 7 malem itu kani tetap harus stand by jam 5 pagi. Kayak JFW show-nya bisa sehari 3 kali. Jam 4 pagi make-up, ganti make-up tiap show lagi. Karena diawali oleh gladiresik jam 6 pagi misalnya. Itu karena kita harus datang dan GR sebelum mal buka. Lalu semakin mendekati show, bikin rambut, make-up lagi, lalu show,” ungkap Juwita.

Pengalaman sama juga dialami Axel dan Devona, para model muda yang kini semakin serius menapaki karirnya. Mereka baru kali pertama mengikuti ajang besar sekelas JFW yang menuntut mereka harus disiplin.

Model mengenakan busana rancangan Oscar Lawalata saat peragaan busana ‘Aku dan Kain’ pada Jakarta Fashion Week 2020 di Senayan City, Jakarta, Selasa (22/10/2019). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Show siang datang jam 4 pagi karena benar sebelum mal buka. Ya memang tantangannya lelah kurang tidur. Paling kalau ada jerawat atau wajah lelah menyiasatinya dengan make-up sih,” kata Axel dan Devona.

Mereka juga mempersiapkan fisik dan mental sebelum tampil di runway. Para model juga dilatih untuk bugar agar mereka tetap prima saat berjalan.

“Biasanya diet kan. Jaga kondisi saja sih. Jangan sampai tiba-tiba sakit atau apa. Vitamin, banyak minum,” kata Axel.

“Kalau persiapan, tentunya mental ya karena apalagi show sebesar JFW. Banyak yang nonton, enggak boleh malu. Fisik, iya pasti ada olahraga,” tambag Devona.

Harus Profesional Lakukan Keinginan Desainer

Seorang model tak bisa menolak atau menawar keinginan desainer dalam merepresentasikan koleksinya. Meski begitu, bagi Juwita, terkadang di dalam hatinya seringkali berpikir mengenai konsep busana yang didesain oleh para desainer. Misalnya ketika busana yang dikenakan sangat berat dengan material beragam atau aksesori rambut dan kepala yang begitu rumit.

“Desainer kan buat karya ya baik baju, sepatu, atau aksesori. Nah sebagai model kadang suka mikir gini. Dulu-dulu zaman awal-awal kan banyak busana couture, bajunya berat, pakai headpiece juga berat. Wah sesulit itu ya kita harus pakai. Tapi ini tanggung jawab seorang model bagaimana terus latihan seperti yang diinginkan desainer. Misalnya pernah pakai baju seberat 20 kilogram atau sepatu tinggi banget. Makanya itu gunanya GR,” jelas Wita.

Begitu pula pemilihan make-up di mana biasanya sudah didukung oleh sponsor dalam show tersebut. Model mau tak mau harus menggunakan make-up tersebut meski belum tentu cocok dengan jenis kulitnya.

“Cuma biasanya kalau saya datang sudah pakai pelembab dan based sendiri. Tinggal make-up tambahin sesuai tema, kadang harus profesional misalnya sponsor brand make-up tertentu, dan tanya dulu boleh enggak pakai based sendiri? Kalau enggak boleh ya mau enggak mau, paling nanti bersihinnya harus ekstra,” jelasnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani