Suasana guyub memang tampak dalam acara temu kangen para alumnus SMAN 1 Lawang untuk angkatan 1982 pada Sabtu lalu (29/4). Ditambah dengan kehadiran KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang juga alumnus sekolah yang berlokasi di Jalan Pramuka No 152, Lawang, Kabupaten Malang.

Arek asli Singosari ini merupakan lulusan Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP) Malang angkatan 1982. Kini, sekolah tersebut sudah berganti nama menjadi SMAN 1 Lawang.

Hadi memang tampak bahagia dan semringah saat bertemu teman-temannya semasa remaja. Sejak kedatangannya, Sabtu lalu, sekitar pukul 18.30, orang nomor satu di lingkungan TNI-AU ini pun langsung disambut oleh kawan-kawannya. Bahkan tak jarang, teman lamanya berebut untuk berbicara dan berfoto bersama dengan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1986 itu.

Bahkan, beberapa temannya mengeluarkan celetuk-celetukan lucu. ”Sek iling ambek aku gak (Masih ingat sama saya tidak)?” kata salah seorang temannya.

Untuk diketahui, nama Hadi mulai dikenal publik saat dia menjadi Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Adi Sumarmo, Solo, pada 2010 lalu. Suami dari Nanik Istumawati ini terbilang spesial karena berhasil memecahkan beberapa rekor saat terpilih menjadi KSAU ke-21.

Bapak dua anak ini mematahkan mitos di kalangan TNI-AU bahwa lulusan AAU angkatan tahun genap tidak akan pernah menduduki puncuk pimpinan matra udara. Sebab, dalam sejarah TNI-AU, belum pernah ada KSAU yang berasal dari angkatan tahun genap.

Bahkan, Hadi menjadi kepala dinas penerangan (kadispen) pertama yang berhasil duduk di pucuk pimpinan TNI-AU. Sebelumnya, dia pernah menjabat sebagai kadispen TNI-AU pada 2013–2015.

Selain itu, perwira tinggi kelahiran 8 November 1963 tersebut juga mencatatkan rekor sebagai KSAU pertama yang pernah menjabat sebagai komandan Lanud Adi Sumarmo. Jabatan ini diemban oleh pria berkumis dan berambut tebal itu saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Wali Kota Solo pada 2010–2011.

Kemudian tahun 2015–2016, Hadi sempat menduduki posisi sekretaris militer presiden (sesmilpres) menggantikan Laksamana Muda Tri Wahyudi Sukarno. Menjadi sesmilpres, membuat mantan perwira penerbang Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh ini kembali dekat dengan Jokowi.

Tak lama, ayah dari Hanica Relingga Dara Ayu dan Handika Relangga Bima Yogatama ini kemudian mendapat tugas baru sebagai Irjen Kementerian Pertahanan pada 2016 lalu hingga dilantik menjadi KSAU. Sosoknya pun dikenal karena mempunyai karir yang cukup cemerlang.

Melihat sejumlah prestasi yang Hadi raih, tak heran bila banyak kawan lamanya yang berebut untuk mengabadikan momen bersamanya. Setelah beberapa saat menyapa teman-temannya saat temu kangen, mantan Komandan Satuan Udara Pertanian Komando Operasi Angkatan Udara I ini menyempatkan diri untuk makan malam.

Lalu, dia pun juga berkeliling ke beberapa sudut sekolah yang pernah menjadi tempatnya belajar. Lulusan Sekolah Penerbang TNI-AU tahun 1987 itu pun juga mengunjungi beberapa kelas yang pernah ditempatinya saat sekolah dulu.

Pada 30 April lalu, SMAN 1 Lawang menggelar Reuni Akbar SMA/SMPP/SMUNELA/SMANELA alumni tahun 1969–2016. Namun, berhubung Hadi tidak bisa menghadiri reuni tersebut, dia pun menyempatkan diri untuk bertemu puluhan teman seangkatannya pada Sabtu malam (29/4).

Kepada Jawa Pos Radar Malang, Hadi mengaku sangat merindukan suasana saat dia menuntut ilmu di sekolah yang telah berusia 50 tahun itu. ”Banyak sekali kesan-kesannya saat bersekolah di sini. Saya memang bercita-cita masuk SMPP karena namanya yang terkenal saat itu,” katanya di sela-sela bernostalgia dengan teman lamanya.

Hadi mengaku memilih bersekolah di SMAN 1 Lawang yang memiliki nama bagus itu agar jalannya menuju AAU terbuka lebar. Sebab, putra dari pasangan Serka (Purn) Bambang Sudarto dan Nur Sa’adah ini bercita-cita menjadi penerbang sejak kecil. ”Jadi, saya rasa bersekolah di SMAN 1 Lawang merupakan suatu pilihan yang tepat. Saya sendiri dulu masuk di Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),” terang mantan direktur Operasi dan Latihan Badan SAR Nasional ini.

Jarak sekolah dari rumahnya yang berlokasi di Singosari, diakuinya, tidak begitu jauh. Hadi menyatakan, saat berangkat sekolah, dia biasanya naik dokar menuju ke pangkalan bus. Setelah itu, dia oper dengan bus menuju Lawang.

”Saya dulu biasanya diberi uang Rp 25 untuk naik bus. Kalau tidak ada uang, ya saya selalu bangun subuh saat akan berangkat sekolah, lalu saya gandol (menumpang) truk ke sekolah,” ujar pria yang juga fasih berbahasa Prancis ini.

Hadi mengaku hingga saat ini ada beberapa guru SMAN 1 Lawang yang masih dia ingat. Salah satunya bernama Bu Lasmi. Dia mengingat sosok guru tersebut karena bibirnya yang selalu berwarna merah saat mengajar di kelas. ”Ada lagi guru yang paling cantik. Bu Sulis namanya. Dulu kalau saya melihat guru mata pelajaran Kimia (Bu Sulis) itu seperti melihat Luna Maya,” jelasnya diikuti tawa riuh teman-temannya.

Kepada SMAN 1 Lawang, Hadi berpesan agar tetap meningkatkan mutu pendidikan dan pengajarannya. Sebab, sekolah tersebut diakuinya telah mencetak banyak pejabat negara mulai dari kalangan TNI, Polri, pemerintahan, politikus, dan swasta.

”Bila tidak ditingkatkan, nantinya mutu pendidikan bisa menurun. Para guru saat ini juga harus mengajarkan siswa-siswinya tentang budi pekerti. Sebab, bila dulu mengingatkan siswa-siswinya bisa dengan satu-dua kali saja, tapi kini guru harus mengingatkan mereka hingga sepuluh kali,” beber mantan Pamen Sekretaris Militer Kementerian Sekretaris Negara ini.

Menurut Hadi, mengajar siswa sekolah saat ini perlu cara yang jitu. Sebab, eranya kini telah memasuki era teknologi. Sehingga, kemajuan teknologi diakuinya cukup berpengaruh kepada pengembangan skill mereka.

”Siswa-siswi harus sering dilihat isi tasnya. Sebab, mungkin mereka menyimpan obat-obatan terlarang maupun celurit. Karena lebih mudah mendidik anak zaman saya sekolah dulu daripada mendidik anak zaman sekarang,” jelas dia diikuti tawa riuh teman-temannya.

Berkunjung ke Malang memang beberapa kali dilakukan Hadi. Seperti saat mendatangi akad nikah putri dari Koosahli KSAU Marsda TNI Usra Hendra Harahap pada 4 Maret lalu. Namun, dia mengaku ada beberapa hal yang membuatnya kangen dengan suasana Malang, yakni mendol dan botok sembukan.

”Di Jakarta, sudah jarang ada mendol. Saya juga suka makan dengan botok sembukan. Jadi, botok itu isinya daun sembukan dan baunya (maaf) seperti kentut. Anak zaman sekarang pasti nggak ada yang tahu itu,” pungkasnya.

Pewarta: Daviq Umar
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Darmono