Cerita Jaksa Agung ST Burhanuddin soal Kedekatannya dengan M Prasetyo

Cerita Jaksa Agung ST Burhanuddin soal Kedekatannya dengan M Prasetyo - JPNN.com

Jaksa Agung ST Burhanuddin. Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA – Jaksa Agung ST Burhanuddin mengaku punya kedekatan personal dengan M Prasetyo yang menjadi pendahulunya di kursi orang nomor satu Korps Adhyaksa. Tak sekadar dekat, Prasetyo bahkan punya panggilan khusus untuk mantan Jaksa Agung Muda Tata Usaha Negara (Jamdatun) itu.

“Di antara senior-senior sayalah yang paling dekat dengan beliau. Saya sejak menjadi JAM (jaksa agung muda, red) beliau tetap panggil saya Bur. Sampai sekarang pun Bur. Artinya, kami sangat dekat,” kata Burhanuddin dalam acara pisah sambut dengan Prasetyo di kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Senin (28/10).

Jaksa Agung ke-24 RI itu menjelaskan, panggilan Bur menjadi kebanggan tersendiri baginya. Sebab, Bur mengaku sudah dianggap sebagai adik sendiri oleh Prasetyo.

“Itu akan selalu saya ingat,”  ungkap adik kandung anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR Tubagus Hasanuddin itu.

Lebih lanjut Burhanuddin mengaku berterima kasih kepada Prasetyo. Menurut dia, Prasetyo yang pernah menjadi Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Japidum) telah membentuk Kejaksaan Agung menjadi organisasi yang baik.

“Sehingga kami tidak terlalu berat untuk melangkah. Kami memohon bantuan bapak dan ibu, membimbing saya dalam pelaksanaan tugas yang berat ini,” katanya.
 
Atas nama Korps Adhyaksa, Bur mengucapkan terima kasih atas bimbingan dan arahan Prasetyo selama lima tahun belakangan ini. Selain itu, Bur juga mengharapkan Prasetyo tetap mau membimbingnya dalam melaksanakan tugas untuk lima tahun ke depan.

“Selanjutnya kami memohon doa restu, semoga saya secara pribadi bisa melanjutkan apa yang telah bapak tanamkan kepada teman-teman di sini,” ujarnya.

Bur juga berpesan kepada Wakil Jasa Agung Arminsyah, para JAM, kepala kejaksaan tinggi, kepala kejaksaan negeri, serta ibu-ibu Ikatan Adhyaksa Dharmakarini bisa menerimanya menjadi warga Kejaksaan Agung lagi. “Kami ibarat anak hilang, selama hampir empat tahun kami ada di luar, tetapi di dada kami kami adalah Adhyaksa,” kata pria kelahiran 17 Juli 1954 di Cirebon itu.