Cerita Dua Bocah yang Baru Pulang Kontes Robotik di Malaysia


LUAR BIASA: Revan Oktaviano dan Rener Setia Atmaja saat diarak dari balai desa ke sekolahnya.
(MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/RADARTULUNGAGUNG.ID)

Revan Oktaviano dan Rener Setia Atmaja baru saja memborong sembilan medali di kontes robotik internasional yang diselenggarakan Internasional Robotic Training and Competition (IRTC) selama dua hari di Malaysia. Persiapannya pun hanya sebulan. Itu menjadi pengalaman kali pertama ikut di ajang internasional.

MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Gandusari, Radar Blitar

Dari kantor Desa Soso, Kecamatan Gandusari, dua bocah itu diarak menuju Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah Soso, kemarin (14/2). Tampak sejumlah guru dan kedua orang tua (ortu) bocah tersebut mengikuti di belakangnya.

Memasuki gang madrasah, puluhan siswa berseragam Pramuka sudah berdiri di sepanjang gang. Mereka menyambut dua bocah yang telah berhasil menyabet juara kontes robot tingkat Internasional di Johor Baru, Malaysia, beberapa hari lalu.

Sambil diiringi musik drumband dan yel-yel, langkah kaki dua bocah itu akhirnya sampai juga di halaman madrasah. Puluhan siswa dan sejumlah ortu siswa sudah menanti kedatangannya. Suasana penyambutan dua bocah kelas V itu benar-benar meriah.

Setibanya di madrasah, langsung dilakukan upacara penyambutan. Kepala sekolah, guru, kepala desa, hingga pejabat Kecamatan Gandusari memberikan selamat kepada dua bocah itu. Keduanya adalah Revan Oktaviano dan Rener Setia Atmaja.

Dua siswa kelas V itu baru saja menjuarai kontes robotik skala internasional yang diselenggarakan oleh Internasional Robotic Training and Competition (IRTC) di Malaysia pada 7-8 Februari lalu. Tak main-main, dua bocah itu pun berhasil memborong sembilan medali sekaligus dari beberapa kategori lomba.

Tampak sejumlah medali itu dikalungkan di lehernya sembari membawa piala ketika diarak menuju madrasah. Keduanya tidak menyangka bisa menjuarai kontes robot dengan pesaing dari sejumlah negara lain itu. “Nggak nyangka. Ini yang kali pertama juara internasional,” ungkap Revan dengan polosnya saat ditanya Koran ini usai penyambutan kemarin.

Saat itu, Revan dan Rener mengikuti beberapa kategori kontes robot. Di antaranya ada soccer, battle solving, transporter, sumo RC 0,6 kilogram (kg), dan line follower analog. Semua kategori itu berhasil dia juarai. “Ada juara I, juara II, dan juara III. Ada yang masing-masing dan tim,” ujar bocah 10 tahun ini.

Revan bercerita, mengenal dunia robot sejak kelas IV. Awalnya saat itu dia sering main game robot di ponselnya dan menonton video tentang kontes robot di kanal YouTube. Dari situlah anak pasangan Sumardi dan Sugiarti menjadi tertarik.

Seperti halnya bocah pada umumnya, Revan minta dibelikan robot seperti di video yang ditontonnya. Satu paket robot itu dibelinya dengan harga jutaan rupiah. “Belinya online,” katanya.

Karena belum tahu cara pengoperasiannya dan penasaran, Revan pun wadul ke orang tua dan gurunya. Dia minta untuk diajarkan pengoperasian hingga pemrograman robot. “Terus sama guru dicarikan pelatih. Setelah itu diikutkan lomba kali pertama di Bandung,” jelasnya.

Hal sama juga diungkapkan Rener. Awal suka robotik juga karena sering ngegame dan nonton video kontes robot dikanal YouTube. “Biasa habis pulang sekolah ngegame-nya,” kata Rener.

Keduanya lantas belajar dan berlatih mengoperasikan hingga memprogram. Kemampuan Revan dan Rener dalam bermain robot terus diasah oleh sang pelatih. Kebetulan, salah satu guru yang menjadi pendamping ajang kontes robot di Malaysia mempunyai teman ahli robotik.

Dimintalah dia untuk melatih kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya pihak sekolah mengikutkan kontes robot untuk yang kali pertama. Waktu itu ikut kontes di Bandung dan berhasil meraih juara dua.

Melihat semangat dua bocah itu bermain robotik, pihak madrasah semakin terpacu untuk melatihnya. Hingga memutuskan mengirim dua bocah itu untuk ikut kontes robotik Internasional di Johor Baru, Malaysia, awal Februari lalu.

Usahanya tidak sia-sia, Revan dan Rener seketika memborong sembilan medali dari beberapa kategori lomba. Masing-masing meraih juara I sampai III.

Selama di sana, keduanya ditemani guru pendamping Saiq Anwar. Dialah yang selama ini mendorong dua bocah tersebut untuk terus berlatih dari mengikuti kontes. “Pertama akhir 2019 saya punya keinginan ikutkan kontes di Trans Studio Bandung. Alhamdulillah juara. Yang melatih mereka kebetulan teman sekolah saya,” ujarnya.

Pendamping yang juga guru di MI Islamiyah Soso mengatakan, sebenarnya madrasah tidak ada latar belakang memiliki ekstrakurikuler (ekskul) robotik. Namun melihat perkembangan teknologi kini dan banyaknya bocah bermain game online, membuat tekadnya untuk mengikuti kontes robot semakin kuat. “Waktu itu saya tawarkan ke anak-anak siapa yang mau ikut kontes robotik. Terutama mereka yang suka ngegame, tapi tidak semua mau. Akhirnya saya melihat Revan dan Rener lah yang paling tertarik dan mau,” bebernya.

Ke depan, seiring prestasi yang disabet dua siswanya itu, dia berharap, madrasah bisa membuka ekskul robotik sendiri. Kesukaan anak-anak terhadap robotik bisa dikembangkan lewat ekskul itu. “Kita tidak perlu menutup mata dengan kemajuan teknologi saat ini. Namanya madrasah tidak hanya pintar ilmu agama, tetapi juga pintar teknologi. Jika memegang teguh Alquran, teknologi bisa diaplikasikan untuk membantu manusia,” ujarnya.

Fitriana Ratnasari, ortu Rener mengungkapkan, sejak SD putranya memang suka main game di ponsel. Hampir setiap pulang sekolah gadget selalu dipegangnya. “Pokoknya terus main, tetapi tetap harus saya batasi. Kalau waktu belajar harus berhenti,” ungkap perempuan berjilbab ini.

Meski begitu, baik Fitriana maupun Sugiarti, ortu Revan, tetap mengupayakan anaknya untuk belajar. Kalaupun bermain game harus dibatasi. “Saya kasih waktu satu jam saja kalau main game,” kata Sugiarti.

Kini, kedua bocah itu juga sedang menjalani masa karantina sejak pulang dari Malaysia. Karantina dilakukan sebagai upaya antisipasi penyebaran virus korona. Mengingat, di Malaysia ditemukan kasus warga yang positif terinfeksi virus tersebut. 

(rt/kan/did/JPR)