Cerita di Balik Meninggalnya 7 Orang di Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang

Foto semasa hidup Ahmad Saifudin, ia salah satu korban dari 7 orang yang meninggal akibat keracunan gas CO2 dari jenset di balai desa Ngadas kecamatan Poncokusumo kabupaten Malang.

Ada banyak cerita mengharukan yang mengiringi peristiwa tewasnya 7 orang di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusomo, Kabupaten Malang, kemarin pagi (29/9).

Suasana duka terlihat di Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Sebab, empat korban yang meninggal dunia dalam musibah ini berasal dari desa tersebut. Masih tinggal di satu gang, di RT 05/RW 02, bahkan tiga orang di antaranya masih saudara. Mereka yang mempunyai ikatan saudara adalah Ahmad Saifudin, Nurokhim, dan Imam Syafi’i. Rumah mereka pun berimpitan. Sedangkan rumah Irawan tak jauh dari rumah Saifudin.

Untuk diketahui dalam tragedi tersebut tujuh orang tewas, mereka adalah Nurokhim, 33; Ahmad Saifudin, 38; Imam Syafi’i, 19; Irawan, 35, warga RT 5, RW 2, Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo; dan Jumadi, 35,  warga RT 02, RW 02, Desa Gedogwetan, Kecamatan Turen. Selain itu, ada Hasrul Prio Utomo, 29, warga Desa Mojodadi, RT 04, RW 04, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan; serta Muhammad Yusuf, 18, warga Jalan Jaksa Agung Suprapto Blok 1/93D RT 01, Samaan, Klojen, Kota Malang.

Di rumah korban Ahmad Saifudin, kesedihan mendalam terlihat pada wajah sanak saudara yang datang. Istri Saifudin, Dian Puri Indah Wati, hanya tampak terdiam di dalam kamar sambil memeluk anaknya, Azahra, yang masih berusia kurang lebih 3 tahun. Dian tak kuasa menahan tangis atas kejadian yang menimpa suaminya.

Apalagi mereka berdua juga baru menikah kurang lebih satu bulan lalu. Saifudin memang menikahi Dian yang seorang janda beranak satu.

Saat itu, Supriyono, kakak ipar Saifudin, terlihat menyendiri. ”Padahal, malam nanti (kemarin malam, 29/9) dia sudah janji pulang,” ucapnya lirih. Menurut dia, Saifudin merupakan kakak ipar dari Supriyono. Menurut dia, baru sebulan lalu Saifudin menikahi adik perempuannya yang bernama Dian Puri Indah Wati.

Kemarin, Supriyono menyatakan, seharusnya dilangsungkan selamatan selapanan atau 40 hari pernikahan. ”Sudah direncanakan pakai tumpeng kenduren,” lanjutnya.

Supriyono juga menyatakan, Saifudin akan pulang bersama Jumadi, 35, warga Gedogwetan, Kecamatan Turen. Keduanya memang masih sanak famili. Jumadi merupakan tetangga sekaligus kemenakan Supriyono. Namun, bukannya pulang dengan bahagia, keduanya pulang membawa kabar duka. Menurut Supriyono, keluarga di rumah tidak kuat mendengar informasi tragedi tersebut.

Supriyono menyatakan, Jumadi diketahui baru kali pertama ini bekerja di proyek bangunan. Sebelumnya, Jumadi hanya tukang cangkul dan bertani. Jumadi ke Ngadas atas ajakan Saifudin.

Sedangkan menurut Muhammad Nurkholis, keponakan Ahmad Saifudin, yang tinggal serumah, juga tidak menyangka pamannya akan meninggal dengan cara seperti itu. ”Dia pekerja keras, saya jarang ketemu. Karena kan saat saya pulang, Cak Din (Ahmad Saifudin) sudah tidur. Pas dia berangkat, saya juga masih tidur,” terang dia. Menurut dia, Saifudin selama ini memang terkenal baik.

Nurkholis menceritakan, jika Saifudin, Nurokhim, dan Imam masih saudara satu mbah. Rumah mereka pun berdempetan. Sementara itu, Jumi, istri Nurokhim, terlihat tak kuasa menahan sedih. Dengan mengenakan jilbab warna merah marun dan baju biru gelap, dia bersandar di tembok ruang tamu. ”Terakhir bertemu juga biasa saja, tidak ada apa-apa,” kata Jumi, dengan nada terbata-bata sambil menahan tangis.

Dia mengaku, terakhir bertemu suaminya Kamis lalu (28/9). Saat itu, Nurokhim berangkat kerja ke Ngadas. Nurokhim meninggalkan satu putra bernama Pito Audrea Andrean Saputra yang saat ini masih kelas IV SD.

Sementara Sumaiyah, nenek dari Imam pun mengaku tidak percaya jika nasib buruk menimpa keluarganya. ”Dia (Imam) masih perjaka, ibunya sudah meninggal sejak dia kecil,” singkat dia, sambil menahan air mata di wajahnya yang renta itu.

Sedangkan Satrio Widodo, ayah dari korban Muhammad Yusuf, 18, warga Jalan Jaksa Agung Suprapto, Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, itu tampak tak tenang bersama keluarga. Dia hanya bisa merenung dan sedikit berbicara. Padahal, dia masih ingat saat anaknya pamit berangkat ke Ngadas pada Kamis (28/9). ”Kemarin kami masih ngobrol,” katanya, lalu langsung menangis.

Yusuf memang bekerja sebagai vendor Telkomsel. Yusuf juga anak satu-satunya dari Widodo. ”Kemarin seperti bingung anaknya saat berangkat kerja,” kata dia dengan terbata-bata. Widodo lalu duduk di kursi bersama keluarga lain menunggu jenazah keluar dari kamar mayat RSSA Malang.

Tidak hanya itu, Jumadi, ayah dari Imam Syafi’i, 19, warga Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, ini juga hanya bisa mengelus dada ketika anak ketiganya menjadi korban dalam tragedi itu. ”Sudah satu minggu sudah tidur di situ,” katanya, didampingi keluarga lainnya. Jumadi terakhir bertemu dengan Imam pada hari Rabu (27/9). Dia saat itu bersama anaknya (Imam) dan dua kerabat lain sedang membicarakan jaranan. ”Kami suka jaran kepang. Itu yang kami bahas sebelum mereka berangkat,” pungkasnya tampak sedih saat di RSSA Malang. (ARIS DWI KUNCORO-Fajrus Shiddiq/c2/lid)

Pewarta: Aris Dwi & Fajrus Shiddiq
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Edito: Dwi Lindawati