”Celeng”, Pengingat dari Mana Kita Berasal

MALANG KOTA – Satu pesan kuat diusung Abqoriyin Hizan dalam pameran tunggal bertajuk Celeng di Omah Co., Jalan Mayjend Panjaitan. Dia ingin mengingatkan, sebagai apa saja, kita harus ingat siapa diri kita dan dari mana kita berasal.

Ari, sapaan akrab Abqoriyin Hizan, menjelaskan, pameran yang dia gelar rata-rata adalah hasil karyanya yang berupa pepaduan urban art dengan tradisional. Yang disajikan dalam bentuk seni terapan atau custom dalam bentuk pakaian yang tidak terpakai.

Alasan Ari memakai media tersebut adalah karena dia sudah bosan melukis dengan media kanvas. ”Tidak seperti Fine Art, karya saya jika untuk dipakai sehari-hari masih bisa kok,” terang Ari.

Ari mengaku, pameran tersebut digelar karena kegelisahan yang dia alami ketika dia pulang ke daerah asalnya. Ada beberapa batasan yang membelenggunya dalam berkarya, terutama dari daerah asalnya, Bondowoso, yang masih lekat dengan seni tradisional.

Ari menyatakan kegelisahannya seperti celeng yang tidak terlihat tapi mengikuti, kegelisahan tersebut akhirnya mendorongnya untuk menggelar pameran tersebut.



”Karya saya sebelumnya memang terlalu urban, sehingga pada pameran kali ini saya mengangkat judul Celeng, cek eleng (supaya ingat) sama budaya kita,” terang Ari.

Koordinator Pameran tersebut, Sofyan Joyo Utomo, menyatakan, selain memamerkan karya, pameran tersebut juga menggelar rangkaian acara yang lain.

Seperti pagelaran teater, diskusi terkait tema pameran, workshop tentang pembuatan topeng Malangan, serta penayangan film ”Ningrat”. Sofyan menambahkan bahwa pagelaran teater yang ditampilkan berjudul Celeng yang disutradarai Bejo Supangat.

”Sebenarnya komunitas teater Ari Art sendiri lebih merespons dari pameran ini sih. Jadi, kisah dan penampilan juga seputar dari karya-karya yang ditampilkan oleh Mas Ari,” terang Sofyan.

 Pewarta : nr4
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib