Celagi Village, Sensasi Ngopi di Desa, Tempat Pemotretan Bali Kuna

Celagi Village, Sensasi Ngopi di Desa, Tempat Pemotretan Bali Kuna

DESA : Sesuai dengan tagline Celagi Village, yakni Ngopi di Desa, maka menu utamanya adalah kopi. Namun, kopi yang disajikan hanya kopi jenis single origin, bukan kopi press machine.
(ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR – Menikmati secangkir kopi dengan suasana pedesaan yang nyaman, bisa jadi menjadi salah satu impian bagi penikmat kopi di Kota Denpasar. Apalagi untuk menemukan suasana pedesaan di Kota Denpasar  kini sudah semakin sulit. Namun, di Celagi Village suasana itu akan ditemukan.

Celagi Village di Jalan Noja No 23 Denpasar, tidak saja menyuguhkan kopi ala pedesaan, namun juga menawarkan sensasi minum kopi di rumah tua pedesaan. Tiga orang pengelola Celagi Village, Arief Muttaqin sebagai Operational Manager, Raja Gama, Event Organizer ,  dan Coffee Consultants Celagi Village, Alief Agi , ketika ditemui Rabu (17/1) kemarin, menceritakan  Celagi Village  memang didesain sebagai warung kopi yang tidak saja menyuguhkan kopi khas Indonesia, namun juga memberikan pengalamanan ngopi di desa bagi para pelanggan.

Begitu memasuki warung ini, pelanggan akan merasa sensasi berada di tengah sebuah desa yang sangat jauh dari Kota Denpasar. Sebab , begitu memasuki halaman  Celagi Village  pelanggan akan disambut dengan tumpukan sabut kelapa yang tersusun rapi di halaman. “Suasana pedesaan inilah yang memang kami ingin tampilkan, karena di tengah hiruk pikuknya Kota Denpasar, masyarakat masih bisa menikmati suasana pedesaan yang alami,” jelas  Raja Gama kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Tak hanya tumpukan sabut kelapa yang tersusun rapi dengan batang kayu sebagai penyangganya, nuansa pedesaan di  Celagi Village semakin terasa melalui konsep dekorasi warung yang berarsitektur khas Bali. Secara umum, Gama menjelaskan, arsitekturnya  memiliki dua konsep tempat, yakni yang berada di bale utama dan konsep out door. Secara keseluruhan tempat ini didesain menggunakan konsep arsitektur tradisional Bali dengan bahan-bahan lokal. Mulai konsep bale panjang yang tampak di sisi utara warung dengan tiang-tiang bangunan yang menggunakan batang pohon lontar, juga daun kelapa dipakai sebagai atapnya.

Penggunaan batang pohon lontar ini, lanjutnya,  karena pihaknya ingin kembali memperkenalkan bahan bangunan tradisional khas Bali. “Saat ini bangunan tradisional Bali memang sangat banyak digunakan untuk desain rumah makan ataupun villa di Bali, namun penggunaan bahan baku lokal saya rasa masih sangat kurang. Melalui warung ini kami ingin memperkenalkan kembali bahan baku tradisional khas Bali,” paparnya.

Berikutnya adalah areal out door yang berada di halaman  Celagi Village. Di areal out door ini, pengunjung bisa memilih beberapa spot, seperti meja batu bundar yang ada di bawah pohon Celagi (pohon asam) atau di meja dan kursi kurungan ayam yang diletakkan di beberapa spot di halaman terbuka .

Sesuai dengan taglinenya, yakni Ngopi di Desa, maka menu utama dari Celagi Village ini adalah kopi. “Namun untuk kopinya, kami hanya menyajikan kopi jenis single origin, bukan kopi press machine,” lanjut Alief Agi.

Untuk jenis kopi ini, per harinya Celagi Village memiliki sebanyak empat sampai lina jenis kopi yang berasal dari seluruh Indonesia. Sehingga pelanggan bisa memilih sendiri kopi yang diinginkan sebelum kopi diseduh.

Bagi yang tidak suka kopi, Celagi Village juga menawarkan beberapa jenis minuman lainnya, mulai dari green tea, white tea, dan herbal tea. Namun di Celagi Village ini, juga punya satu jenis minuman khas, yakni Es Celagi.

Es Celagi ini memang benar-benar menggunakan sari buah Celagi sebagai bahan dasarnya. “Es Celagi ini sangat cocok dinikmati di siang hari, karena rasanya yang asam selayaknya Celagi, namun ada rasa manis yang didapat dari penambahan gula batu,” tambahnya. 

Celagi Village, Sensasi Ngopi di Desa, Tempat Pemotretan Bali Kuna

Selain sebagai tempat minum kopi dengan suasana pedesaan, Celagi Village juga sangat cocok digunakan sebagai tempat pemotretan, apalagi yang mengambil tema suasana Bali kuna. Raja Gama menegaskan ,  Celagi Village didesain memang mencirikan kehidupan pedesaan Bali pada masa kuna. “Yang melakukan pemotreatan di Celagi Village ini adalah mereka yang ingin tampil dengan nuansa Bali kuna,” paparnya.

“Siapa saja bisa melakukan aktivitas di Celagi Village ini. Karena selain sebagai tempat ngopi, Celagi Village ini juga  sebagai tempat berkumpul dan melakukan beragam aktivitas.

Berbicara tentang harga, minuman di Celagi Village dibanderol mulai dari Rp 12 ribu sampai dengan Rp 30 ribu. Sedangkan untuk sewa tempat, lanjut Gama, harganya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dari pelanggannya.” Apakah memerlukan property tambahan dan lain sebagainya,” pungkasnya.

(bx/gek/rin/yes/JPR)