Cegah Radikalisme Marak di Sekolah

MALANG KOTA – Upaya mencegah generasi mudah agar tak terpengaruh aksi radikalisme terus dilakukan. Selain lewat sosialisasi, pengenalan tentang budaya dan kearifan lokal juga bisa mencegah anak-anak hanya beroikir hitam dan putih.

Seperti yang digelar di aula Tugu SMAN 3 Malang kemarin (19/4). Ratusan siswa gayeng mengikuti sosialisasi yang dikemas dengan tema Mudah Berkarya Melawan Terorisme Dunia Maya tersebut. Para siswa juga diajak mendalami budaya Indonesia sebagai benteng dari gerakan radikalisme.

Sejumlah narasumber yang ahli di bidangnya ikut turun. Mulai dari Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Hamli, Wakapolres Malang Kota Kompol Bambang Christianto serta budyawan, Aziz Franklin. Acara yang diikuti ratusan siswa dari SMA dan SMK di Kota Malang ini juga merupakan upaya sosialisasi terkait pencegahan radikalisme di kalangan pelajar.

”Jadi, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ini harus dijaga keutuhannya dari semua kalangan,” ungkap Hamli di depan peserta.

Menurutnya, radikalisme merupakan pemantik terorisme. Sehingga, pihaknya ingin mengajak seluruh elemen untuk mencegah ini. Termasuk kepada siswa, kata Hamli, BNPT ingin melakukan upaya pencegahan. Dengan begitu, generasi muda tetap mempunyai nasionalisme untuk menjaga negara ini.



Hamli menambahkan, peran yang bisa dilakukan para pelajar generasi milenial ini sangat banyak. Termasuk membuat meme maupun video untuk melawan radikalisme yang banyak menyebar di jejaring media sosial. Gambar-gambar kekerasan yang dilakukan anggota gerakan radikal di Timur Tengah sangat tidak pantas untuk dilihat oleh para generasi muda.

”Kita ini bangsa yang santun, kenapa harus mencontoh yang seperti itu?” imbuh perwira polisi dengan bintang satu ini.

Hamli juga mencontoh bahwa para Wali Songo yang menyebarkan Islam tidak menggunakan kekerasan. Malah, terjadi akulturasi budaya antara ajaran Islam dengan budaya orang Jawa. Sehingga, Islam bisa diterima baik oleh masyarakat. Dia mencontohkan, seperti wayang kulit yang dipakai Wali Songo untuk berdakwah malah, itulah yang membuat Islam mudah diterima masyarakat pada saat itu.

Di sisi lain, Aziz Franklin menyatakan setuju dengan konsep yang digagas BNPT. Yakni, mengolaborasikan ajaran Islam dengan budaya yang ada. Apalagi, para siswa mau mengkreasikannya dengan teknologi. Dengan ini, diharapkan budaya asli Indonesia tidak lenyap, karena dianggap usang dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

”Kalau mau dakwah pakai media juga bisa kan? Jadi semakin banyak mencegahnya,” kata Aziz.

Tak hanya itu, Aziz menerangkan jika para siswa ini bisa memaknai pelajaran budaya dengan baik. Dengan demikian, budaya Indonesia akan terus terjaga.

Pewarta: Rino Hayyu
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Rino Hayyu