Cegah Masalah saat Coblosan, KPU Gelar Simulasi

KOTA BATU – Antisipasi menangkal munculnya permasalahan saat coblosan pilgub (pemilihan gubernur) Jawa Timur dilakukan KPU Kota Batu kemarin (9/6). Caranya dengan menggelar simulasi sekaligus langkah pencegahan atas potensi masalah yang terjadi.

Simulasi melibatkan panitia pemilihan kecamatan (PPK), panitia pemungutan suara (PPS), Panwaslu Kota Batu, satpol PP, koramil, hingga pegiat disabilitas.

Ketua KPU Kota Batu Rochani menjelaskan, ada banyak kegiatan yang digelar dalam simulasi ini. Menurut dia, apa yang disimulasikan tersebut semuanya sudah ada dalam aturan. Petugas yang ada di lapangan saat pilgub nantinya tinggal mengikuti saja.

”Namun, membaca saja tidak cukup, harus praktik langsung,” ujar dia.

Seperti halnya simulasi mengatasi masalah saat terjadi kekurangan alat kelengkapan pemilihan. ”Nah, ini bagaimana? Misalnya kurang plano. Jadi, saya minta agar saat logistik datang, itu harus diinventarisasi dulu,” ujar dia.

”Jangan hanya melihat kecukupan surat suara saja, namun berbagai kebutuhan lain. Itu harus segera dilaporkan, sehingga bisa segera diberikan dan tidak menganggu jalannya proses pemilihan,” tambah Rochani.

Selain kemungkinan adanya kekurangan logistik, ada juga potensi masalah yang dipetakan. Di antaranya adalah bagaimana saat ada pemilih penyandang disabilitas, pemungutan suara untuk narapidana di Polres Batu, atau tahanan Kejaksaan Negeri Kota Batu di lembaga pemasyarakatan (LP).

”Sampai bagaimana saat pemungutan suara di rumah sakit, TPS mana saja yang akan bertugas semuanya harus tahu,” ungkap alumnus Universitas Brawijaya itu.

Selain masalah tersebut, yang disimulasikan adalah bagaimana jika ada pemilih yang hanya membawa E-KTP (KTP elektronik) namun tidak membawa formulir C6 (undangan memilih) atau sebaliknya.

”Juga bagaimana saat ada wisatawan yang membawa surat pindah memilih dan berniat ikut mencoblos pilgub di Kota Batu,” ungkapnya.

”Semuanya kami langsung perlihatkan disimulasi ini,” ujar dia.

Dia melanjutkan, semua kegiatan yang di luar normal ini disimulasikan dan ditunjukkan solusinya. Simulasi ini dilakukan agar semua unsur yang terlibat dalam pilkada tahu dan mengerti. Dari penyelenggaraaan sebelumnya, jelas Rochani, beberapa permasalahan pilkada memang pernah terjadi.

”Potensi yang di luar prediksi pernah terjadi, misalnya masih ada kekurangan logistik tertentu, karena itu kami minta untuk inventarisasi dulu,” ujarnya.

Dengan simulasi ini, dia berharap, semua yang bertugas dalam pilkada mulai dari PPS, PPK, dan kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) tahu apa yang dilakukan dan bisa menjalankan tugasnya dengan benar. Sehingga, tidak menuai masalah di kemudian hari, karena kesalahan prosedur yang dilakukan.

”Dari kegiatan ini, semua tahu dan bisa saling mengingatkan saat ada permasalahan yang muncul,” tukas Rochani.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Achmad Yani
Foto: Rubianto