Cegah Kanker Serviks, Vaksin HPV Rp 2,1 Juta

Bagi sebagian orang, Rp 2,1 juta untuk vaksin human papilloma virus (HPV) mungkin dianggap kemahalan. Tapi, nilai itu sebenarnya amat kecil bila melihat fungsinya sebagai pencegah kanker serviks.

MALANG KOTA – Bagi sebagian orang, Rp 2,1 juta untuk vaksin human papilloma virus (HPV) mungkin dianggap kemahalan. Tapi, nilai itu sebenarnya amat kecil bila melihat fungsinya sebagai pencegah kanker serviks.

Vaksin HPV diberikan selama tiga kali. Pemberian tiga kali vaksin itu dilakukan dalam rentang waktu enam bulan. Yakni melalui suntikan pada lengan.

Setiap kali vaksin, biayanya sekitar Rp 700 ribu. Artinya, untuk mengikuti tiga kali vaksinasi itu, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 2,1 juta.

”Untuk saat ini, biaya vaksin itu belum ditanggung dinas kesehatan,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang Husnul Muarif kemarin (13/6). Sebab, vaksin HPV belum masuk ke dalam program imunisasi nasional.

Tapi, Anda bakal merasa angka Rp 2,1 juta itu kecil bila melihat betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh mereka yang sudah terkena kanker serviks. Seperti yang terjadi pada mendiang artis Julia Perez. Kabarnya, Jupe sampai menghabiskan miliaran rupiah untuk pengobatan kanker serviks yang dia derita.



Lalu, bagaimana prosedur vaksinasi HPV? Ketua Divisi Onkologi Kandungan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) dr Tatit Nurseta SpOG (K) menjelaskan, vaksin HPV sudah bisa diberikan kepada anak perempuan saat usianya masih 11 tahun.

Saat vaksin diberikan kepada anak berusia 11–14 tahun, biayanya bisa lebih murah. Sebab, vaksinasi hanya perlu dilakukan dua kali.

Lalu, bagaimana efektivitasnya? ”Keefektifan vaksin HPV bisa mencapai 92% (mencegah kanker serviks),” kata Tatit. Apalagi, ketika vaksin itu diberikan lebih awal.

Sayangnya, belum banyak orang yang menyadari betapa pentingnya vaksin HPV ini. Seperti diberitakan sebelumnya, berdasarkan data dari Dinkes Kota Malang, hanya ada 3.171 perempuan yang mengikuti vaksinasi kanker serviks selama Januari hingga April 2017.

Angka itu hanya 1,2 persen dari total populasi perempuan berusia 30–50 tahun yang mencapai 257.209 jiwa. Karena itu, tak heran bila jumlah penderita kanker serviks terus meningkat. ”Kebanyakan penderita yang datang (untuk berobat) sudah masuk stadium IIB ke atas,” ujarnya.

Lebih lanjut Tatit menyatakan, virus HPV sebenarnya terbagi dalam 150-an macam. Tapi, virus-virus itu bisa digolongkan dalam dua jenis berdasarkan tingkat risikonya. Yakni low risk (risiko rendah) dan high risk (risiko tinggi).

Kanker serviks masuk dalam kategori high risk. Sementara itu, penyakit-penyakit kelamin lainnya masuk dalam kategori low risk. ”Saya imbau agar masyarakat segera memeriksakan diri sejak awal. Jangan menunggu sampai kondisinya parah,” pungkas pria kelahiran Surabaya tersebut.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Indra Mufarendra