[Catatan] Refleksi ASEAN Dengue Day: Mewaspadai Musim Liburan

Jentik nyamuk

Tahukah anda bahwa tanggal 15 Juni diperingati sebagai hari demam berdarah ASEAN? Demam Derdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan yang mendapat perhatian utama di negara-negara ASEAN. Hal ini karena DBD adalah penyakit yang dapat berisiko pada kematian bila tidak segera ditangani oleh tenaga kesehatan.

Apakah Demam Berdarah itu ?

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue (DEN) yang tergolong Arthropod?Borne Virus, genus Flavivirus, famili? Flaviviridae. Virus dengue mempunyai 4 serotype yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Perbedaan dominasi dari keempat serotype tersebut bisa berubah-ubah setiap tahunnya dan dari wilayah satu kewilayah lainnya. Untuk mengetahui serotipe apa yang menginfeksi seorang penderita diperlukan pemeriksaan laboratorium dengan biaya mahal. Karena itu pemeriksaan jenis ini umumnya dilakukan untuk keperluan penelitian saja.

Manifestasi dari infeksi dengue tidak selalu menimbulkan gejala. Hal ini disebut Asimtomatik.

Manifestasi yang menimbulkan gejala bisa berupa sindrom demam virus yang tidak jelas, sindrom Demam Dengue (baik dengan perdarahan ataupun tanpa perdarahan), dan Demam Berdarah Dengue (baik dengan syok maupun tanpa syok). Kondisi yang paling parah adalah DBD karena terjadi kebocoran plasma darah yang dapat mengarah pada syok yang ditandai dengan melemahnya nadi, kulit tangan dan kaki yang dingin serta penderita menjadi gelisah.

Distribusi Penyakit DBD

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit tropis yang banyak terjadi di negara-negara ASEAN. Dalam 50 tahun terakhir kejadian DBD telah meningkat 30 kali lipat dengan perluasan geografis ke negara-negara non tropis. Lebih dari 70 % populasi berisiko DBD tinggal di negara-negara Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Wabah DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat yang pelu mendapat perhatian besar sebagaimana di Myanmar, Sri Lanka, Thailand dan Timor Leste. Negara-negara ini berada dalam zona dengan musim hujan tropis dan khatulistiwa dimana Aedes aegypti menyebar baik di kota maupun di pedesaan. Banyak serotipe dari virus dengue ini yang beredar dan menyebabkan penderitanya harus masuk rumah sakit atau bahkan meninggal terutama pada anak-anak.

Angka kejadian DBD dari tahun 1968 sampai dengan 2013 meskipun flunktuatif namun cenderung meningkat. Dalam 5 tahun terakhir angka kejadian DBD di Indonesia mencapai puncaknya secara berurutan pada 2013, 2014, dan 2015 dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 100.000 penderita.

Jumlah kematian terbanyak terjadi pada 2015 dengan 1071 kematian kemudian menurun pada 2016 menjadi 564 kematian. Penurunan jumlah kasus DBD dan jumlah penderita DBD pada 2016 tidak seharusnya menjadikan kita lengah akan bahayanya. Kewaspadaan tetap perlu dilakukan mengingat pergantian musim yang sulit untuk diprediksi.

Penularan DBD

Demam Berdarah Dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes spp. Di Indonesia Aedes aegypti dan Aedes albopictus merupakan vektor utama penyakit DBD. Penularan dilakukan oleh nyamuk betina dewasa yang menghisap darah manusia ataupun hewan-hewan yang menjadi sumber protein penting untuk pematangan telurnya. Nyamuk ini bisa menghisap darah lebih dari satu kali, biasanya pada pertengahan pagi dan akhir sore.

Tempat peristirahatan yang paling disukai dari nyamuk dewasa adalah ruangan gelap tertutup di dalam rumah dan pakaian yang tergantung. Rata-rata harapan hidup nyamuk dewasa adalah 3-4 minggu.

Penyebaran spontan nyamuk dewasa biasanya terbatas, rata-rata 30-50 meter per hari untuk betina, artinya betina jarang berkunjung ke lebih dari 2 atau 3 rumah sepanjang hidupnya (Halstead, 2008). Nyamuk dewasa cenderung untuk beristirahat pada pakaian dan permukaan di dalam rumah di mana betina sering dan hampir secara eksklusif menggigit host manusia.

Karena sumber darah manusia berlimpah di dalam rumah maka Ae. aegypti dewasa cenderung tidak bepergian jauh. Dalam situasi wabah DBD beberapa nyamuk terbang lebih dari 100 meter. Untuk alasan itulah, penyebaran geografis yang cepat yang berakibat wabah dengue kemungkinan besar didorong oleh pergerakan manusia yang telah terinfeksi, daripada oleh terbangnya nyamuk yang terinfeksi.

Sebelum menularkan pada manusia nyamuk akan mengalami infeksi virus terlebih dahulu dengan periode inkubasi ekstrinsik antara 10-14 hari. Lamanya periode ini tergantung pada suhu dan jenis virus yang menginfeksinya. Semakin tinggi suhu udara maka akan semakin cepat periode ekstrinsiknya. Sedangkan masa inkubasi pada manusia berkisar antara 3 – 14 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi virus dengue.

Nyamuk ini juga menyukai bau-bau yang mengandung CO2, ammonia (NH3), dan asam laktat. Bau-bauan ini biasanya ada pada keringat manusia. Karena itu membiasakan diri mandi untuk menghilangkan bau keringat sangat penting untuk mencegah gigitan nyamuk. Warna gelap juga sangat disukai oleh nyamuk.
Siklus Hidup Nyamuk

Siklus hidup perkembangan yang dimulai dari telur hingga menjadi nyamuk berlangsung lebih kurang 7 hari. Perubahan dari telur menjadi jentik nyamuk berlangsung kira-kira 2-3 hari, kemudian dilanjutkan dengan perubahan jentik nyamuk menjadi kepompong nyamuk yang berlangsung kira-kira 5-14 hari.

Selanjutnya adalah perubahan dari kepompong nyamuk menjadi nyamuk yang memerlukan waktu kira-kira 1-2 hari. Karena itulah mengapa kegiatan membersihkan bak mandi disarankan paling sedikit 1 kali dalam seminggu.

Tanda dan Gejala Infeksi Dengue

Diagnosa infeksi dengue pada umumnya berdasarkan pada gejala klinis yang timbul seperti menurunnya nafsu makan, demam, sakit kepala yang berat, nyeri sendi, malaise (lemas dan tidak nyaman), nyeri otot, muntah dan ruam kulit berwarna merah (petekia).

Demam pada DBD biasanya berlangsung 2-7 hari dengan pola seperti pelanan kuda, yaitu tinggi di hari-hari awal dan hari-hari akhir. Hasil pemeriksaan laboratorium biasanya menunjukkan jumlah trombosit yang kurang dari 100.000 dan hematokrit yang meningkat lebih dari 20%.

Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang penularannya lewat nyamuk. Perpindahan nyamuk dari satu tempat ke tempat lainnya tidak dapat dibatasi oleh manusia. Karena itu cara terbaik dan murah dalam pencegahan DBD adalah dengan mengendalikan angka kepadatan vektornya yaitu nyamuk.

WHO merekomendasikan bahwa persentase rumah bebas jentik nyamuk idealnya adalah 95%. Artinya bila kita melakukan survei ke 100 rumah, hanya boleh ada 5 rumah yang positif jentik. Namun nyatanya di Singapura yang persentase rumah bebas jentik nyamuknya mencapai angka yang lebih tinggi yaitu 99% pernah juga mengalami wabah DBD ini. Karena itu upaya memberantas sarang nyamuk perlu terus menerus dilakukan tidak hanya ketika terjadi wabah saja. Upaya ini perlu dilakukan oleh semua penghuni rumah karena perpindahan nyamuk yang tidak bisa diatur oleh manusia. Karena itu menjadikan rumah kita saja yang bebas dari jentik nyamuk tidak cukup.

Kita perlu juga mengingatkan kepada tetangga-tetangga untuk membebaskan rumahnya dari jentik nyamuk juga. Karena nyamuk dari rumah yang jentiknya jarang dibersihkan dapat berpindah ke rumah yang jentiknya rajin dibersihkan.

Waspadai Liburan Panjang

Tidak lama lagi kita akan mendapat libur yang panjang, terutama anak-anak kita, karena ada libur sekolah dan libur lebaran. Persiapan apakah yang sudah kita lakukan agar diri kita dan keluarga tetap sehat setelah liburan?

Anak-anak dan keluarga biasanya menghabiskan waktu liburannya untuk berbagai aktivitas yang bisa jadi sangat menyita energi seperti bermain dan bersilaturahmi dengan keluarga. Anak-anak biasanya mampu menghabiskan banyak waktunya untuk bermain meskipun dalam kondisi belum makan.

Peranan orang tua sangat besar untuk tetap mengawasi putra putrinya agar tetap menjaga asupan makannya. Pada kondisi kurang makan maka daya tahan tubuh anak akan menurun sehingga lebih mudah mengalami infeksi. Demikian pula dengan orang tua juga tetap perlu menjaga asupan makan di saat liburan.

Kebersihan diri masing-masing anggota keluarga juga perlu mendapat perhatian dengan rajin mandi paling tidak 2 kali sehari. Kebiasaan mandi ini diharapkan bisa mengurangi bau badan yang dapat mengundang nyamuk.

Kewaspadaan terhadap rumah, sekolah dan perkantoran pada masa liburan juga perlu diwaspadai. Mengingat siklus hidup nyamuk berkisar antara 7 hari maka hindari mengisi bak mandi ataupun tempat-tempat yang bisa menampung air ketika akan liburan baik di rumah, sekolah, maupun perkantoran.

Pastikan wadah-wadah tersebut tertutup atau tidak memungkinkan menampung air selama liburan.
Tempat-tempat Apakah yang Bisa Menampung Air?

Pengamatan tentang ada tidaknya jentik perlu dilakukan minimal 1 minggu sekali terhadap wadah-wadah buatan seperti bak mandi, gentong, pot bunga air, vas bunga air, dispenser, alas pot bunga, kolam dan aquarium yang berisi air tapi tanpa ikan, tempat minum hewan piaraan, dan sampah-sampah plastik yang dapat menampung air. Di samping itu perlu pula pengamatan terhadap wadah-wadah alamiah seperti bunga-bunga yang mempunyai pangkal daun yang mampu menampung air, tempurung kelapa, potongan bambu untuk tiang bendera, kulit telur yang dibuang sembarangan, dan lain-lain.

Kewaspadaan terhadap demam berdarah adalah tanggung jawab kita semua, bukan hanya pemerintah. Mari jadikan liburan kita menyenangkan baik sebelum dan sesudahnya.

Oleh: Dr. Lilik Zuhriyah, SKM, MKes – Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang

Referensi:
Focks, D.A. 2003. A Review of Entomological Sampling Methods and Indicators for Dengue Vectors. Special Programme for Reseach and Training in Tropical Diseases. Geneva: World Health Organization.
Hoel, D.F., Obenauer, P.J., Clark, M., Smith, R., Hughes, T.H., Larson, R.T., et al. 2011
Efficacy of Ovitrap Colors and Patterns for Attracting Aedes Albopictus at Surburban Field Sites in North-Central Florida. Journal of the American Mosquito Control Association, 27(3):245–251, 2011
Ooi, E.E.,Goh, K.T., and Gubler, D.J. 2006.Dengue prevention and 35 years of vector control in Singapore. Emerg Infec Dis 12:887–93.
WHO. 2009. Dengue. Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New Edition.Geneva:World Health Organization.
Soedarto. 2012. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Sagung Seto
Sucipto, et al. 2016. Dominasi Virus Dengue Tipe 3di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 2015.
Prosiding Seminar Nasional Demam Berdarah Dengue (DBD) Integrated Management of Dengue(Host, Agent, and Vector) Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga Surabay, 19 November 2016.