[Catatan] Cyber Crime = Kecerdasan Minus Agama

Dunia teknologi informasi kini sudah memasuki perkembangan yang begitu pesat, sebuah kemajuan peradaban yang tak terbendung. Gadget – teknologi informasi – bukan lagi barang yang dianggap spesial. Perkembangan jaman yang semakin modern, mau tidak mau memaksa manusia untuk memilikinya demi kemudahan transaksi, komunikasi, pencarian informasi dan membangun relasi melalui media sosial.

Namun, perkembangan teknologi tanpa diiringi penanaman nilai dasar pemanfaatannya secara benar dan minimnya edukasi publik. Hal ini berdampak pada banyaknya penyalahgunaan teknologi termasuk untuk tindak kejahatan.

Salah satu kasus yang paling menyedot perhatian publik baru-baru ini adalah pembobolan situs jual beli tiket online milik PT. Global Networking. Banyak yang menjadi korban hingga milyaran rupiah masuk secara ilegal ke kantong oknum yang tidak bertanggungjawab.

Kejahatan itu dilakukan oleh beberapa pemuda, salah satunya adalah pemuda bernama Haikal usia 19 tahun. Siapa yang menyangka bahwa otak kejahatan tersebut dilakukan oleh seorang yang masih begitu muda lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan pengakuan pelaku kepada kepolisian, mereka mampu dan pernah membobol sebanyak 4.600 situs. Beragam situs milik swasta hingga pemerintah telah berhasil dibobol, termasuk milik Polri. Atas tindakan ini, pelaku terancam hukuman pidana berupa masuk penjara paling lama 8 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 800 juta.

Ironis. Kasus kejahatan berbasis teknologi ini menjadi indikasi lemahnya sistem pendidikan di negeri ini terhadap penanaman nilai-nilai dasar kepada generasi muda, terutama tentang penggunaan teknologi. Tidak hanya itu, faktor ekonomi juga turut mendukung maraknya tindak kejahatan. Sulitnya mencari lapangan kerja karena himpitan ekonomi di jaman sekarang tidak menutup kemungkinan untuk seseorang bertindak kejahatan, mengingat teknologi bukanlah hal yang susah untuk dipelajari.



Oleh karena itu, seharusnya pemerintah tidak hanya fokus pada penetapan sanksi tanpa mengimbangi adanya tindakan preventif dengan perbaikan edukasi formal sejak dini. Padahal seharusnya sanksi dan pencegahan harus berjalan beriringan untuk menghasilkan solusi tuntas dan menyeluruh. Jika tidak, maka bukan menjadi sesuatu yang mustahil apabila kejahatan berbasis teknologi akan terus terulang. Bahkan para hacker akan semakin berkembang pesat dengan terus mendalami ilmu peretasan.

Adapun tindakan preventif yang paling tepat adalah koreksi mendasar pada sistem dan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sekularisasi pendidikan telah terjadi di semua lini dalam wujud dikotomi penyelenggaraan pendidikan umum dan agama, arah pembuatan kurikulum yang lebih menitikberatkan penyiapan kerja bukan pembangunan kepribadian.

Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini terbukti telah gagal melahirkan manusia bertaqwa yang mampu bertanggung jawab pada perkembangan zaman dengan keunggulan sains dan teknologi. Penyelenggaran pendidikan harus berasaskan pada Islam agar selaras dengan perkembangan jaman sehingga dapat menjamin tercapainya generasi berkualitas.

Terwujud generasi berkepribadian Islam yang teguh berpegang pada agama dan berkomitmen mewujudkan kembali kegemilangan peradaban Islam.. Selain itu, penataan sistem ekonomi pun juga perlu dilakukan sehingga kesejahteraan rakyat terjamin sehingga angka kriminalitas dengan sendirinya bisa diminimalisir.

Oleh: Annisa Afif Abidah – Warga Sukun Kota Malang