[Catatan] Beras: Harga Melonjak, Produksi Surplus, tapi Mau Impor

Fenomena yang terjadi pada komoditas beras di awal tahun 2018 cukup mengagetkan masyarakat Indonesia. Bermula dari melonjaknya harga beras di tingkat konsumen, disusul dengan gonjang-ganjingnya data stok beras yang kurang akurat, ditambah dengan gembar-gembornya berita panen raya dan produksi beras lokal yang surplus, lalu dikejutkan oleh munculnya rencana melakukan impor beras.

Rentetan peristiwa tersebut memang sebaiknya harus dikaji lebih lanjut. Tetapi, semakin dikaji lebih dalam, semakin menimbulkan banyak pertanyaan. Tercatat, kenaikan harga beras per kilogramnya terus merangkak dari Rp 500 hingga Rp 2.000. Fenomena tersebut sudah ditengarai sejak akhir tahun 2017.

Sifatnya pelan tapi pasti; pasti melonjak harganya dan pasti masyarakat resah dan merugi. Berdasarkan hal tersebut akan muncul pertanyaan-pertanyaan, ”Mengapa harga beras melonjak? Apa penyebabnya? Apakah stok beras dalam negeri kurang?”. Tentunya pertanyaan tersebut berkaitan dengan fenomena selanjutnya.

Fenomena dalam bidang pertanian selalu begitu iramanya; adanya kelangkaan atau kekurangan stok suatu komoditas akan menyebabkan harga komoditas tersebut melonjak. Lonjakan harga akan menimbulkan peningkatan jumlah barang yang akan ditawarkan oleh produsen, dalam hal ini petani, mendapatkan insentif lebih untuk meningkatkan produksi berasnya, selaras dengan hukum teori penawaran. Namun, biasanya ketika petani telah berhasil meningkatkan produksi hingga ketersediaannya cenderung aman, harga beras di tingkat petani justru akan menurun. Tak secepat itu memang prosesnya. Pada bidang pertanian, respons penawaran cenderung membutuhkan waktu lebih lama dibanding bidang industri. Pada masa inilah justru akan menimbulkan berbagai macam respons dari berbagai pihak.

Realitanya ternyata benar. Setelah adanya lonjakan harga beras, lalu stok beras dipertanyakan, kemudian tidak lama muncul dua respons yang berbeda dari dua kubu yang berbeda pula: Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Kementerian Pertanian muncul dengan gembar-gembornya surplus pada produksi beras. Hal ini tertera pada akun Instagram resmi milik Kementerian Pertanian yang menyatakan bahwa ”Produksi (beras) melimpah bahkan surplus. Jadi kami (Kementerian Pertanian) merekomendas tidak impor.”.



Telah muncul beberapa data hasil panen di beberapa wilayah dan memang mengalami surplus. Di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sambas, mengalami surplus hingga 80%. Surplus beras sebanyak 70% dialami di Kabupaten Ponorogo. Di Jogjakarta pun demikian. Dilansir dari website resminya, Kementerian Pertanian menekankan stok beras di Jogjakarta aman dan berani memastikan bahwa akan panen setiap hari hingga bulan Maret.

Menariknya, terdapat respons yang berbeda dari Kementerian Perdagangan. Mereka justru menanggapi dengan membuat perencanaan impor beras. Berdasarkan keputusan pada saat rapat koordinasi oleh Menko Bidang Perekonomian, Bulog mendapat instruksi untuk melakukan impor beras putih sebanyak 500.000 ton dari Vietnam dan Thailand. Dikutip dari akun Instagram resminya, Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa ”Impor beras perlu dilakukan untuk menstabilkan harga beras dan mencukupi kebutuhan masyarakat”.

Respons ini akan menuai beberapa pertanyaan terkait alasan perlu dilakukannya impor, atau terdapat indikasi Kementerian Perdagangan masih mengkhawatirkan stok beras dalam negeri mengingat data stok beras di Indonesia sempat dipertanyakan keakuratannya.

Meskipun muncul dua respons yang berbeda, keduanya seakan memiliki kekuatan niat kebaikan masing masing. Kementerian Pertanian dengan niat baiknya dalam melindungi petani, sehingga tidak merekomendasikan impor. Kerap kali kegiatan impor justru membuat harga komoditas pertanian lokal di tingkat petani merosot. Sedangkan Kementerian Perdagangan juga sama, ingin melindungi konsumen dari ketidakstabilan harga beras. Baik memang, tapi apakah benar demikian yang akan terjadi, seakan kedua kubu tersebut bak malaikat tanpa sayap dan masyarakat serta petani akan terlindungi, ataukah justru akan berkebalikan? Masyarakat yang akan menjadi saksi perhelatan drama beras tahun ini. Selamat menyaksikan!

Oleh: Baroroh Nur Jihad – Penulis anggota Malang Scripter Malang dan Mahasiswi Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya.
Foto: Darmono