Cat Tiangnya, Pasang Ulang Informasinya di #SaveMalangHeritage

Penggagas Save Heritage Dwi ”Inggil” Cahyono, GM Radar Malang Don Virgo, perwakilan APPBI Sasmita Rahayu dan Erick Richardo membersihkan tiang informasi sejarah di depan Masjid Jamik kemarin (21/4).

MALANG KOTA – Aksi nyata kerja bakti budaya (Jatidaya) telah dilakukan gerakan #SaveMalangHeritage. Kemarin (21/4), ratusan relawan melakukan bersih-bersih beberapa tiang informasi atau documentary board Heritage di seputar Alun-Alun Malang. Seperti mengecat dan menempel ulang kertas informasi yang sudah usang.

Gerakan yang dimulai sekitar pukul 07.30 itu dipimpin langsung Dwi ”Inggil” Cahyono, penggagas gerakan tersebut. Sebelumnya, pemerhati sejarah ini sudah menyurvei lokasi mana saja yang akan dilakukan pengecatan tiang dan pemasangan informasi ulang. Di antaranya, Masjid Jamik, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Malang, Sarinah, Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, Bank Indonesia, dan Kayutangan.

”Kami tidak ingin omong doang di seminar dan acara-acara lainnya, tapi kami akan memberikan contoh langsung bagaimana di lapangan,” terang Dwi.

Acara tersebut memang mendapatkan dukungan dari beragam komunitas, bahkan masyarakat. Seperti Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Malang, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Malang Creative Fusion (MCF), dan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Bergabung pula Station-Komunitas Start-Up Malang, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo), Yayasan Inggil, serta Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Malang untuk melestarikan heritage yang ada di Kota Malang.

Dwi menerangkan jika gerakan ini dinilai sebagai langkah ajakan untuk menyadarkan masyarakat. Mengapa demikian? Dikarenakan kesadaran warga Kota Malang untuk merawat kekayaan heritage masih minim. Dia mencontohkan seperti ada beberapa documentary board yang hilang. Padahal, tiang tersebut diharapkan dapat mengedukasi masyarakat. Baik warga asli Kota Malang maupun pendatang.

Untuk titik yang hilang, Dwi melanjutkan, seperti di Mal Ramayana, Alun-Alun Malang, dan di Jalan Ijen. ”Seingat saya ada empat titik, di Ijen itu dua, kalau lainnya masing-masing satu board,” imbuhnya.

Padahal, setiap tiang informasi ini dulunya sudah pernah dipasang pada 2012. Setelah enam tahun berlalu, Dwi menyayangkan jika informasi-informasi ini sudah raib dari tempat yang bersejarah.

Aksi Jatidaya ini pun diharapkan Dwi akan terus berlanjut. Termasuk dengan adanya penambahan pemasangan papan-papan informasi di beberapa titik baru yang dinilai punya nilai heritage. Jadi, setiap orang yang berkunjung ke Kota Malang masih bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan ini.

”Pasti nanti kami akan lanjutkan lagi dan lebih banyak titik informasinya,” tegas dia.

Pewarta: Rino Hayyu
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Falahi Mubarok