Cari Bukti, KPK Geledah Rumah Dua Cawali

Penggeledahan KPK di rumah Calon Wali Kota Malang Yaqud Ananda.

MALANG KOTA – Untuk melengkapi berkas terkait dugaan suap APBD-P 2015, kemarin (20/3) penyidik KPK menggeledah dua rumah calon wali kota (cawali) Malang. Yakni, Moch. Anton dan Ya’qud Ananda Gudban.

Penggeledahan ini dimulai sekitar pukul 12.30 di rumah Anton, Jl Tlogo Indah, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru. Penyidik KPK langsung masuk ke dalam rumah bagian tengah dan lantai dua.

Pantauan koran ini, ada sekitar delapan orang yang berada di halaman parkir rumah Anton di Jl Tlogo Indah, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru. Selang satu jam penggeledahan, Ketua Rukun Warga (RW) 01 Tlogomas Aziz Maulana datang ke rumah Anton. Dia mengaku dipanggil penyidik untuk menyaksikan penggeledahan tersebut.

Sesaat kemudian, anak Anton datang dengan membawa helm masuk ke ruangan depan sebelah utara. ”Saya anaknya Abah,” terangnya tanpa mau dikonfirmasi kedatangannya.

Sekitar pukul 15.00, Aziz yang keluar dari rumah tersebut mengaku jika kedatangannya di rumah Anton itu untuk menyaksikan penggeledahan tersebut. Menurut dia, penggeledahan itu dilakukan pada dua ruangan rumah Anton. Tepatnya di ruang lantai dua sebelah timur. Dan ruangan tengah.



”Saya lihat itu saja, nggak ditanya apa-apa juga. Cuma disuruh menyaksikan saja,” kata Aziz.

Menurut sumber informasi koran ini, begitu keluar dari rumah Anton, KPK membawa satu koper warna merah. ”Yang saya lihat itu saja, koper. Lainnya kok nggak ada yang disita,” terangnya.

Hanya berselang lima menit dari perginya KPK, Anton bersama istrinya Dewi Farida Suryani masuk ke rumah dengan mengenakan kemeja batik warna cokelat dengan motif daun pakis. Ketika dikejar untuk diminta konfirmasi, Anton hanya melambaikan tangan. Dia langsung masuk rumah dan menutup pintu rapat-rapat.

Tak berhenti sampai di situ. Penyidik pun melanjutkan perjalanan ke rumah Ya’qud Ananda Gudban di Jl Ijen Nomor 73. Kedatangan KPK ke rumah tersebut langsung memeriksa dua mobil Honda Jazz putih N 1892 BK dan Avanza N 1298. Tak hanya itu, penyidik juga menggeledah bagian tengah dan belakang rumah Nanda–sapaan Ya’qud Ananda Gudban. Penggeledahan ini hanya berlangsung sekitar 45 menit. Penyidik meninggalkan rumah tersebut sekitar pukul 16.15. Namun, dikabarkan, tidak ada satu dokumen pun yang dibawa dari rumah Nanda.

Seorang pemuda yang bertugas menutup pagar rumah tersebut tidak mau berkata apa pun ketika dikonfirmasi tentang keberadaan Nanda kemarin. Dia hanya berucap jika Nanda sedang tidak ada di rumah.

”Nggak ada,” jawaban singkat pria yang mengenakan kaus putih itu.

Dikonfirmasi tentang penggeledahan tersebut, Kabiro Humas KPK Febri Diansyah membenarkan jika penyidik tengah melakukan penggeledahan. Hal ini dilakukan penyidik untuk mendalami kasus suap APBD-P 2015.

”Memang ada penggeledahan di rumah wali kota dan yang lain,” pungkas Febri saat ditelepon koran ini.

Terkait aksi penggeledahan oleh KPK ini, menurut pakar ilmu hukum Universitas Brawijaya (UB) Dr Muchamad Ali Syafaat SH MH, mengindikasikan jika dua cawali itu mengetahui dugaan suap pembahasan APBD-P 2015.

”Secara logis, konsekuensinya (rumah digeledah, Red) diduga kuat menggetahui (suap pembahasan APBD-P 2015, Red),” ujar Syafaat kemarin (20/3).

Menurut dia, KPK tidak akan asal menggeledah. Jika rumah Anton dan Nanda– sapaan Ya’qud Ananda Gudban– digeledah, berarti komisi antirasuah ini mensinyalir ada alat bukti di rumah kedua tokoh tersebut.

Lantas, apakah Anton-Nanda akan dijadikan tersangka? Menurut Ali Syafaat, pemilik rumah belum tentu menjadi tersangka. Sebab, untuk menetapkan status tersangka, KPK harus memastikan bahwa keduanya terlibat.

”Otomatis akan menjadi saksi, tapi belum tentu terlibat. KPK kan harus melihat perannya dulu,” kata mantan wakil dekan (wadek) I Fakultas Hukum UB itu.

Sementara itu, dosen hukum acara pidana FH UB Dr Prija Djatmika SH MSi menegaskan, penggeledahan adalah bagian dari penyidikan. Dengan adanya penggeledahan terhadap rumah Anton dan Nanda, Prija yakin bahwa KPK sedang membidik tersangka baru.

”Kalau sudah penggeledahan dan penyidikan, berarti arahnya menentukan tersangka,” tegas pria yang kini menjabat wakil dekan I FH UB itu.

Karena penggeledahan dilakukan di rumah Anton dan Nanda, dimungkinkan penyidikan mengarah kepada Anton dan Nanda. Tapi jika bukti yang ditemukan dari hasil penggeledahan itu mengarah kepada orang lain, Anton dan Nanda tidak akan ditetapkan sebagai tersangka.

”Siapa yang akan menjadi tersangka, ya bergantung barang bukti yang ditemukan itu mengarah ke mana,” kata pria yang mengajar di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, itu.

Pewarta: NR1
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka