KOTA BATU – Gema Budaya Religi Cak Nun dan Kiai Kanjeng menjadi ajang untuk memuji perkembangan pariwisata Kota Batu. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Emha Ainun Najib di hadapan ribuan jamaah maiyah saat pengajian di Balai Kota Among Tani Kota Batu Minggu malam (11/6).
”Saya kagum dengan cara ER (Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, Red) mengatur kota ini selama 10 tahun,” ungkap Cak Nun. Menurutnya, Kota Batu dibangun dengan konsep desa yang mengandalkan pertanian dan kota wisata. Baginya, membangun Kota Batu tidak dengan model metropolitan sudah tepat. Sebab, dengan begitu Kota Apel ini tetap percaya diri dengan mengandalkan kedesaannya dan kota wisatanya. Bahkan, menurutnya, model pembangunan Kota Batu harusnya diteladani oleh beberapa kota lain
Dia membandingkan Kota Batu dengan Jakarta, Jogjakarta, dan Bali. Dia bersyukur karena Kota Batu tidak dibentuk seperti Jakarta yang berkiblat pada gaya metropolitan. Malah sebaliknya, kota ini sudah memantapkan diri sebagai kota dengan pola budaya desanya yang masih kental, sehingga jalinan kerja sama antara pemerintah dan masyarakatnya terlihat harmonis dan berdampingan.
”Kalau Jogjakarta memiliki konsep taman dalam kota, sedangkan Batu ini sudah bertaman, tinggal disinggahi kota,” imbuh penceramah yang dijuluki Kyai Mbeling itu.
Pengajian yang dikemas dalam Gema Budaya Religi Cak Nun dan Kiai Kanjeng itu dihadiri ribuan jamaah maiyah. Hadir pula para pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, di antaranya Wali Kota Batu Eddy Rumpoko yang didampingi Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso. Hadir juga pejabat musyawarah pimpinan daerah (muspida). Selain itu, sederetan pejabat maupun pegawai di lingkungan Pemkot Batu juga tampak di sana.
Wali Kota Eddy Rumpoko mengungkapkan rasa terima kasihnya kepadanya Cak Nun. Dia mengungkapkan bahwa Balai Kota Among Tani merupakan bangunan yang dibantu oleh masyarakat petani. ”Jangan dilihat megahnya. Selain untuk melayani masyarakat, Among Tani juga bisa menjadi wadah masyarakat untuk beraktivitas apa saja. Kalau mau dipakai untuk acara pernikahan, silakan saja,” kata dia. (dia/c1/yak)