Butuh Rp 56 M untuk JLS Tahap Dua

KEPANJEN – Meski belum ada realisasi hingga kini, sinyal kelanjutan proyek jalur lintas selatan (JLS) di Kabupaten Malang tetap menguat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang pun terus memantau perkembangan di tingkat pusat. ”Kabarnya diperlukan dana Rp 56 miliar untuk kelanjutan JLS menuju Donomulyo,” terang Kepala Dinas PU Binamarga Kabupaten Malang Romdhoni. Panjang kelanjutan JLS itu sama dengan akses dari Pantai Sendangbiru menuju Balekambang, panjangnya 23 kilometer.

Seperti diketahui, JLS di Kabupaten Malang terbagi dalam tiga bagian. Selain jalur Sendangbiru–Balekambang dan Balekambang–Donomulyo, ada juga jalur Sendangbiru–Lumajang. ”Untuk yang dari arah Lumajang (timur) sekarang sedang dilakukan (feasibility study/uji kelayakan) ulang,” sambung Romdhoni. Tahap itu penting dilakukan karena jalur tersebut cukup ekstrem.

Medan perbukitan menjadi salah satu kendalanya. Karena itu, kemudian muncul wacana bila jalurnya bakal dialihkan menuju Kecamatan Ampelgading. Jadi, tidak ada jalan baru yang tersaji dari Ampelgading menuju Lumajang. ”Tapi sekarang dilakukan kajian ulang. Bila hasil studi kelayakannya tinggi, maka dokumennya akan dijadikan dasar bagi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mengajukan loan (pinjaman) ke luar negeri,” kata dia.

Pinjaman ke luar negeri itulah yang selama ini menjadi penghambat kelanjutan proyek JLS di Kabupaten Malang. Pemerintah pusat kabarnya masih belum mendapat pencairan dari Bank Dunia. Meski begitu, pemkab tetap bergerak menyambut wacana kelanjutan proyek JLS. Peningkatan kualitas jalan pendukung jalur Balekambang–Donomulyo bakal dilakukan mulai tahun ini.

”Secara garis besar, konsep sistem jaringannya harus bisa saling menunjang antara jalan kolektor maupun jalan arteri nasional,” tambah Romdhoni. Jalur dari Kepanjen menuju Pagak pun bakal diperhatikan pemkab. Perhatian terhadap akses jalur menuju pesisir selatan itu juga disajikan Bupati Malang Dr H Rendra Kresna. Untuk jalur Balekambang–Donomulyo, dia yakin tidak bakal ada kendala berarti. Kelanjutannya hanya tinggal menunggu pergerakan dari pemerintah pusat saja.

Dia hanya menggarisbawahi kelanjutan JLS dari Sendangbiru menuju Lumajang. ”Karena di sana medannya berbeda (dengan JLS). Jika diambil lurus dari Sendangbiru ke Lenggoksono (Tirtoyudo), kontur daerahnya cukup berat. Medannya cenderung berbukit-bukit, sehingga sulit kalau harus dijadikan jalan nasional,” beber Rendra. Dia menyadari bila kondisi itu membuat pemerintah pusat berpikir ulang.

”Makanya waktu melakukan kajian, JLS dari Pantai Tamban (Sumbermanjing Wetan) tidak langsung diarahkan ke Lenggoksono. Tapi dinaikkan ke Desa Sukodono (Dampit), baru kemudian masuk ke Tirtoyudo, tembus sampai Jalan Raya Dampit–Lumajang,”  tambah Rendra.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Bayu Mulya
Foto: Bayu Eka Novanta