Buru Tahanan, Bentuk Tim Khusus dan Libatkan Kiai

Kaburnya 17 tahanan benar-benar menjadi tamparan tersendiri bagi Polres Malang. Oleh karenanya, Polres Malang langsung membentuk tim khusus. Tim itu terdiri dari sekitar 140 petugas gabungan dari reserse kriminal, reserse narkoba, dan intel.

Mereka kemudian dibagi menjadi 17 tim untuk mencari masing-masing tahanan yang kabur. Bahkan, dari sumber yang didapat koran ini, polisi tidak hanya mengandalkan anggotanya. Kabarnya, polisi juga meminta bantuan kiai untuk mencari lokasi persembunyian para tahanan.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengungkapkan, dia mendapat laporan ada tahanan kabur sekitar pukul 04.30. ”Dan saat saya cek memang benar. Di kamar nomor enam, plafon ternyata sudah dijebol,” ujarnya.

Setelah itu, dia langsung mengapelkan para tahanan. Ketika didata, sebanyak 17 tahanan hilang. Data ini didapat dari jumlah total tahanan sebelumnya, sebanyak 101 orang. Para tahanan yang kabur sudah mendekam di tahanan dengan waktu yang bervariasi. Namun, jika dirata-rata, mayoritas sudah sampai 20 hari.


Selanjutnya, untuk melakukan pengejaran, polres membentuk 17 tim khusus. Alamat masing-masing tahanan yang kabur, sudah diidentifikasi. ”Saya harap, secara persuasif mereka menyerahkan diri. Jika tidak, mohon maaf, dalam proses penangkapan, barangkali ada tindakan keras yang kami lakukan,” ancam Ujung.
Dia meminta agar para tahanan menyerahkan diri tidak lebih dari 24 jam. Sebab, jika lewat, polisi tidak bisa menjamin penangkapan dilakukan secara baik-baik.

Sedangkan, untuk mengantisipasi kasus serupa terulang, menurut Ujung, setiap malam ada enam orang yang menjaga. Dua orang menjaga tahanan, sedangkan lainnya piket di titik lain.

Ujung melanjutkan, polres sudah memerintahkan semua petugas piket untuk diperiksa oleh Provost. Terutama, terkait bisa ditemukannya gergaji besi di dalam ruang penjara tahanan. ”Padahal, SOP (standard operational procedure) jelas. Tetapi, kenapa bisa lolos gergaji besi yang kecil,” tutur Ujung.

Ke depan, pihaknya juga akan membenahi kamar mandi. Bukan lagi tertutup penuh seperti saat ini, tetapi dengan tembok setengah badan saja. Sehingga, aktivitas tahanan dalam kamar mandi bisa terpantau dari luar.

Menurut Ujung, pengontrolan terakhir tahanan pada pukul 00.00. Ketika itu, dia memastikan kondisi ruang tahanan kondusif. Termasuk, petugas piket jaga ada di sana. ”Kami juga memiliki daily check list. Saya perintahkan agar dua jam sekali petugas memeriksa baik itu kamar mandi dan plafon juga. Nanti kami lihat, apakah penjaga melaksanakan prosedur tersebut atau tidak. Karena, itu juga harus diotentikkan dengan paraf,” lanjutnya.

Ketika disinggung apakah petugas jaga saat itu sedang menonton televisi, Ujung mengungkapkan, sedang didalami. ”Yang jelas mereka ada di situ,” tutupnya.

Lalu, adakah kemungkinan keterlibatan orang dalam pada peristiwa tersebut? Sejauh ini, tidak ada pernyataan resmi dari kapolres. Namun, menurut informasi yang didapat koran ini, diduga ada keterlibatan pembesuk tahanan. Pembesuk tersebut menyelundupkan gergaji besi ukuran kecil kepada salah satu tahanan. Sehingga, kemudian, gergaji itu digunakan untuk memotong terali besi.

Jika hal ini benar, pengawasan yang dilakukan oleh petugas penjaga tahanan Polres Malang bisa dibilang lemah. Saat ada pembesuk yang membawa gergaji besi, petugas tidak mengeceknya.

Pewarta: Bahrul Marzuki
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Falahi Mubarok