Buntut Virus Corona, Pariwisata China pun Merana

photo : bbc.com

RADARMALANG – Merebaknya virus corona berdampak besar bagi segala aspek di China. Termasuk parwisitanya.

Dilansir dari Associated Press (28/1), pemerintah China kini menambah hari libur Imlek. Bukan karena untuk merayakannya, namun untuk mencegah penyebaran virus corona di negaranya.

Hingga kini, dilaporkan 17 kota dalam status darurat akibat virus corona dengan 50 juta orang bak dikarantina karena tak boleh keluar dari kota mereka. Virus corona sendiri dinilai masih satu keluarga dengan SARS dan MERS-CoV.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus corona adalah jenis virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) dan Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS).

Virus corona menyebabkan gejala mulai dari yang ringan, seperti flu biasa, batuk, pilek dan sakit tenggorokan hingga berat seperti gangguan pernapasan, sesak, hingga demam berhari-hari. Paling parah, virus ini bisa membuat penderitanya sampai gagal ginjal dan meninggal dunia.

Terjadi kepanikan dan rasa cemas luar biasa di China akibat virus corona, terutama di Wuhan yang kini sudah disegel alias diisolasi. Suatu hal yang tak diinginkan siapapun, sebab sejatinya 25 Januari kemarin adalah perayaan Tahun Baru Imlek yang dinanti.

Alhasil, virus corona pun berdampak pada sektor pariwisata dan perekonomian. Banyak event perayaan Imlek yang dibatalkan. Tak hanya di daratan utama China, namun juga di Hong Kong.

Pemerintah Kota Shanghai melarang acara outdoor, baik itu untuk keagamaan dan event olahraga. Hong Kong melarang masuknya wisatawan dari China daratan ke kotanya.

Bahkan, banyak operator tur di China yang menghentikan perjalanan outbound (ke luar negeri). Tak ayal, wisatawan China memang kerap liburan ke berbagai belahan dunia.

“Itu akan memberikan dampak yang signifikan walau hanya dalam jangka waktu pendek,” ujar Tommy Wu, pengamat dari Oxford Economics.

Soal aspek pariwisata, dampak ‘dikurungnya’ warga China bakal memengaruhi pendapatan di bidang penerbangan, akomodasi dan tur wisata.

“Bagi negara lain seperti Filipina, Singapura dan beberapa negara di Asia Tenggara akan mengalami penurunan jumlah kunjungan wisatawan China. Itu sangat berdampak bagi pariwisata dan pendapatan ekonominya,” terang Tommy Wu.

Apalagi, beberapa negara juga melakukan pemeriksaan ketat bagi wisatawan China yang datang. Perlu diketahui, virus corona sudah menyebar ke 13 negara seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Prancis dan Singapura.

Belum ada angka pasti terkait kerugian di bidang pariwisata akibat penyebaran virus corona ini. namun jika terus buruk keadaannya, pariwisata China akan mengalami penurunan signifikan termasuk bagi negara-negara yang jadi langganan kedatangan wisatawan China.

Hingga kini, virus corona telah menyebabkan lebih dari 100 pasien di China meninggal dunia.

Penulis: Elsa Yuni Kartika
Foto: Business Insider