Buntut Proyek Long Storage, Warga Dijanjikan Akses Darurat

Buntut Proyek Long Storage, Warga Dijanjikan Akses Darurat

MOJOKERTO – Warga di tiga desa yang terisolir akibat pembangunan long storage di perbatasan Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, dengan Kecamatan Tarik, Sidoarjo, mendesak rekanan membuat jalan darurat.

Pasalnya, jalan yang terputus akibat pembangunan itu mengakibatkan warga kesulitan untuk mengakses ke kawasan Tarik. Kepala Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, Mohamad Chosim, menuturkan, saat sosialisasi dengan warga, pemutusan jalan itu hanya berlangsung sekitar dua hari. Sehingga, warga tak banyak berontak dengan rencana pembangunan yang digarap PT Nindya Karya Wilayah IV tersebut.

Namun, dalam praktiknya, hingga berlangsung 10 hari, lubang menganga tersebut tak kunjung tertutup. ’’Akhirnya, kami mendatangi kantor pemborong proyek dan meminta agar segera dibuatkan akses darurat. Dan akan dibuatkan akses,’’ katanya. Dalam pertemuan yang dilakukan sejumlah warga bersama perwakilan penanggung jawab proyek, kata Chosim, pemborong menjanjikan dalam waktu dekat bakal segera dibangun akses tersebut.

Chosim menilai, janji pemutusan jalan yang hanya berlangsung selama dua hari, karena rekanan tak memahami kontur tanah berupa pasir. Sehingga, lubang yang semula hanya ditargetkan hanya beberapa meter saja, terus longsor hingga sepanjang puluhan meter.

Desakan ke pemborong segera membuat jalur darurat, dinilai sangat rasional. Karena, akses tersebut menghubungkan kawasan Tarik dan menjadi akses utama warga di tiga desa. Yang cukup memprihatinkan dialami hampir seluruh siswa SMP. Kata Chosim, 80 persen siswa SMP, sekolah ke SMP Tarik, Sidoarjo. ’’Mereka harus memutar dan lewat akses pintu air untuk bisa cepat sampai,’’ paparnya.



Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ismail Pribadi, mengatakan, setiap pembangunan infrastruktur tidak diperbolehkan mengorbankan kepentingan warga. Pun demikian dengan langkah rekanan yang memutus jalan poros desa tersebut. ’’Harusnya tetap ada akses agar hak warga tidak hilang. Tidak bisa dibiarkan seperti itu,’’ katanya.

Melihat kondisi tersebut, politisi PDI Perjuangan ini, mengaku, akan mengkonsultasikan ke Kementerian PU Jakarta. ’’Kita memang akan menghadap ke Kementerian terkait dengan jembatan di Leminggir, Mojosari, yang sangat tidak layak. Dan, kasus ini juga akan kami bahas,’’ bebernya.

Senada diungkapkan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Mojokerto, Aang Rusli Ubaidillah. Dia menyebut, dewan akan melihat adanya proses yang tak dilakukan. ’’Semisal, jika pemda ingin membangun jalan provinsi. Maka, harus ada penyerahan dulu dari provinsi. Nah, kalau terkait proyek ini tidak pernah ada penyerahan dari pemda, tentu ada proses yang tidak dilalui,’’ tegas Aang.

Meski begitu, Aang sangat mendukung program pembangunan ini. Karena, proyek ini akan memberikan manfaat bagi warga sekitar. ’’Ini demi kebaikan bersama. Yang jelas, kami hanya meminta agar rekanan membuatkan akses agar warga tidak kebingungan ketika hendak beraktivitas,’’ pungkasnya.

Seperti diberitakan, pembangunan bendungan atau long storage di perbatasan Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, dengan Tarik, Sidoarjo, menjadi mimpi buruk bagi warga di tiga desa. Karena, jalan poros di kampung ini diputus untuk proyek, sejak 24 Januari.

Ketiga desa yang terisolir itu adalah Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, dan Desa Leminggir, serta Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari. Warga di kampung ini terisolir dan harus memutar hingga sepanjang 8 kilometer. Long storage ini mampu menampung 1,6 juta kubik air dari Sungai Brantas. Nantinya, akan dibuatkan box culver dengan sistem buka-tutup sehingga bisa menghentikan aliran air ke LS jika sudah penuh.

Di ujung LS ini akan dibuatkan rumah pompa air (RPA) untuk membagi air ke wilayah Sidoarjo maupun Mojokerto. Bendungan ini memiliki luas 5 km. Akan ada tiga kolam penampungan air dan di tiap pintu air tersebut akan dibuatkan spillway.

Selain mampu menjadi penyimpan air, lokasi ini juga akan menjadi area wisata baru di kawasan Tarik, Sidoarjo. Proyek multiyears ini dimenangkan PT Nindya Karya Wilayah IV dengan nilai proyek Rp 366,7 miliar.

(mj/ron/ris/JPR)