Bunga Berduri yang Cantik dan Bernilai Tinggi

KOTA BATU – Geliat bisnis bunga mawar di Kota Batu dari tahun ke tahun selalu ada peningkatan. Bahkan, bisa dibilang saat ini Kota Batu merajai pasar bunga mawar. Kurang lebih 59 persen pasokan bunga dengan tangkai berduri ini berasal dari Kota Wisata.

Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono mengatakan, Kota Batu memang menjadi penyuplai bunga mawar lingkup pasar nasional. Kemungkinan karena harganya yang relatif lebih murah dan kualitas yang bagus membuat hasil mawar dari petani di Kota Wisata ini bisa bersaing di pasaran.

”Bahkan, (penjualan bunga mawar dari Kota Batu) menguasai pasar nasional sampai 59 persen,” kata Sugeng. Dia menjelaskan, dari data Dinas Pertanian Kota Batu, dari tahun ke tahun produksi bunga mawar selalu meningkat. Seperti pada 2017 lalu, jumlah produksi mawar sebanyak 96.944.900 (96,9 juta) tangkai dari luas tanam sekitar 4.406.516 meter persegi.

Untuk 2018, produksi bunga mawar meningkat menjadi 101.134.739 (101,1 juta) tangkai dengan luas tanam 4.505.752 meter persegi. Sedangkan produksi mengalami lonjakan cukup tinggi. Yakni, pada 2019 jumlah produksi bunga mawar mencapai 116.053.650 (116,05 juta) tangkai dengan luas tanam 5.157.940 meter persegi.

Lebih lanjut, Sugeng menambahkan, terjadinya peningkatan ini di antaranya karena pengembangan pertanian bunga mawar ini tidak hanya fokus di satu desa, tetapi juga dikembangkan ke desa lain. ”Jadi, tidak hanya di (Desa) Gunungsari, tetapi juga (Desa) Sumberejo, Pandanrejo, Sidomulyo, (Kelurahan) Sisir, dan lainnya,” bebernya.

Pertanian bunga mawar, dia menjelaskan, selama ini memang cukup menjanjikan. Dia menyebut, harga dari petani biasanya per tangkai kisaran Rp 700–Rp 900. Jika pada 2019 lalu bisa panen sekitar 116 tangkai mawar dan harga jual minimal Rp 700 per tangkai mawar, maka perputaran uang dari penjualan mawar bisa mencapai kurang lebih Rp 81.237.555.000 (Rp 81,2 miliar).

Untuk meningkatkan produksi mawar, Dinas Pertanian Kota Batu juga tidak tinggal diam. Salah satunya dengan menyediakan bibit unggul, update mawar jenis baru, serta melakukan pembinaan terhadap petani mawar. ”Pembinaannya melalui good agricultural practices (GAP) (salah satu sistem sertifikasi dalam praktik budidaya tanaman yang baik sesuai dengan standar yang sudah ditentukan),” kata mantan kepala Dinas Perhubungan Kota Batu itu.

Sugeng berharap, bisa mempertahankan predikat ”penguasa pasar” mawar untuk penjualan tingkat nasional. Meski ada beberapa kendala selama ini yang harus dihadapi. Di antaranya, kurangnya lahan untuk bunga mawar, sebab harus bersaing dengan komoditas pertanian lainnya.”Meski begitu, saya harap mawar di Kota Batu tetap eksis di pasaran nasional,” tutupnya.

Pewarta : Ulfa Afrian
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Aris Dwi Kuncoro