Buku Monumental Bahas 25 Karya Arsitek IAI Malang

MALANG KOTA – Momen bersejarah dirasakan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Malang. Hari ini, sabtu (7/4/2018), organisasi profesi tersebut melaunching buku berjudul 25 Karya Arsitek IAI Malang di The 101 Hotel OJ, Kota Malang. Disebut bersejarah, karena sejak organisasi ini berdiri, buku tersebut merupakan buku pertama yang diterbitkan.

Proses pembuatan buku ini cukup panjang. Gagasan awal penerbitan buku ini tercetus sejak Maret 2017 silam, dan baru selesai bulan ini. Dengan demikian, pengerjaan buku ini kurang lebih memakan waktu satu tahun lebih.

Memakan waktu panjang karena buku ini berbeda dari buku pada umumnya. Buku ini menghimpun karya 25 arsitek IAI Malang, yang karyanya tersebar di sembilan kota di Indonesia. Dengan demikian, tim harus datang langsung ke lokasi itu untuk pengambilan data serta pemotretan.

Ketua IAI Malang Sahirwan mengatakan, buku ini merupakan refleksi terhadap perjalanan panjang IAI Malang selama 25 tahun.

”Meskipun buku ini tidak bisa menjadi refleksi utuh, tapi dengan buku ini kami ingin merekam karya arsitek IAI Malang selama 25 tahun,” ucap Sahirwan.

Dia melanjutkan, mula-mula ada 45 karya yang masuk ke panitia. Satu karya memilih mengundurkan diri, karena lokasi karyanya berada di Brunei Darussalam. Nah, dari 44 karya yang tersisa, lantas di seleksi menjadi 25 karya yang terpilih.

”Kenapa 25 karya, karena kita ingin mempaskan dengan umur IAI Malang yang tepat 25 tahun,” imbuhnya.

Setelah melalui proses kurasi yang panjang, dan melelahkan, akhirnya terpilih 25 karya, dari 16 arsitek. Proses kurasinya melibatkan dosen senior Institute Teknologi Surabaya (ITS) Prof Josef Prijotomo dan ketua IAI Jawa Timur Hari Sunarko.

”Kita libatkan orang luar, agar kurasi benar-benar professional,” ucap alumnus Universitas Brawijaya (UB) ini.

Lalu, bagaimana dengan 19 karya yang tidak terpilih.”Tetap kita masukan di buku ini, sebagai wujud apresiasi, bentuknya merupakan karya partisipan,” imbuhnya.

Melalui buku yang diterbitkan oleh penerbit kota tua ini, Sahirwan juga berharap buku ini bisa menjadi ajang refleksi para arsitek di Malang. Lantaran, dengan adanya buku ini, arsitek bisa mempunyai acuan.

”Yakni merefleksi tingkat profesionalisme arsitek, ini yang dibutuhkan. Karena arsitek sebagaimana profesi lain, harus terus menerus meningkatkan kemampuannya,” imbuhnya.

Dengan lahirnya buku perdana ini, Sahirwan berharap buku ini menjadi awal yang baik. Di priode kepengurusan IAI Malang, diharapkan setiap periode lahir minimal satu buah buku. Apalagi, ada ungkapan scripta manent, verba manent atau yang tertulis akan abadi, yang hanya terucap akan lenyap.  

Sementara itu, untuk spesifikasi buku, konsep yang dipilih oleh IAI Malang adalah biru-nya Arema. Hal ini tercermin dari cover biru di buku ini. Biru ini bisa diartikan sebagai birunya angkutan mikrolet yang merupakan moda transportasi di Kota Malang sejak 1990-an.

Sedangkan untuk karya yang dibahas, beraneka ragam. Mulai dari rumah tinggal, gedung pertemuan, taman rekresi, villa, rumah makan, rumah ibadah, dan lain-lain. Dengan desain yang unik serta beraneka ragam, buku dengan tebal 240 halaman ini seolah benar-benar merekam karya monumental sejumlah arsitek.

Dalam penyusunan buku ini, IAI Malang membentuk tim yang solid. Yakni Sahirwan sebagai penangungjawab, Muhammad Chottob W sebagai editor plus fotografer, Probo Hindarto sebagai penulis, Josaf Sayoko sebagai pengarah desain dan artistik, serta Silrly Intan Sayekti sebagai sekretariat.

Sumber: IAI Malang