Bukti Petugas Tak Tegas atau …

MALANG KOTA – Entah ini karena pengendara mobil tak sadar lalu lintas atau petugas yang tidak tegas. Atau justru dua-duanya. Seperti yang dipantau koran ini, ada mobil Toyota Innova dengan seenaknya parkir pada jalur khusus untuk sepeda di Jalan Arif Rahman Hakim. Padahal, di jalan tersebut sudah jelas-jelas ada tanda khusus jalur sepeda. ”Kalau menurut saya, tidak apa-apa ya, karena tidak ada sepedanya. Tapi ya bisa rusak juga itu cat jalurnya,” kata Ubaidillah, warga di kawasan Alun-Alun Merdeka.

Jawaban Ubaidillah itu menggambarkan betapa kesadaran masyarakat untuk mematuhi aturan masih begitu rendah. Mereka beranggapan, meski jalur khusus sepeda, tapi kalau sepedanya tidak ada, berarti boleh ditempati.

Kondisi ini persis dengan yang digambarkan Saiful Hadjar dalam karya puisinya tahun 1992. Dalam puisinya itu, disebutkan begini: Ikan paling besar makan yang besar. Ikan besar makan yang kecil. Ikan kecil makan yang terkecil. Sedang yang terkecil lebih siap dimakan daripada cari makan.

Sepeda bisa dibilang sebagai kendaraan paling kecil di antara kendaraan lainnya. Seolah tidak mendapat tempat. Buktinya, masih banyak pengendara roda empat yang memanfaatkan jalur tersebut seperti di Jalan Arif Rahman Hakim tadi.

Pemerhati Transportasi Universitas Brawijaya (UB) Prof Ir Harnen Sulistio menyatakan, lemahnya kesadaran berkendara yang baik dan benar dibarengi dengan tidak tegasnya tindakan aparat. Dia melanjutkan, jika misalnya mobil parkir di trotoar ataupun di jalur khusus sepeda, maka Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang harus memberi tindakan. ”Yang seperti ini kan pembiaran pelanggaran. Tentu akan jadi kebiasaan,” ujarnya.



Guru besar Fakultas Teknik UB itu menambahkan, pemerintah dalam hal ini sudah memberi ruang yang baik bagi pengendara sepeda. Hanya tinggal pengawasan dan tindakan saja jika ditemukan pelanggaran dalam pelaksanaannya. ”Jalur-jalur khusus seperti ini kan memang diperlukan. Tapi dengan pelanggaran, jadinya malah merusak,” terangnya.

”Padahal, adanya jalur ini kan untuk berbagi. Mobil di jalur mobil, sepeda di jalur sepeda,” sambungnya.

Profesor tersebut melanjutkan, dinas perhubungan tidak adil untuk urusan lalu lintas. Menurut dia, kendaraan tidak bermotor dan pejalan kaki dianggap tidak ada.

Dia membeberkan kajian baru-baru ini, perilaku berkendara yang baik dan benar di Kota Malang masih lemah. Mulai dari data skripsi, tesis, dan kajian umum. Jika kecepatan rata-rata dalam kota itu 40 km per jam, dalam kajian mendapati kecepatan rata-rata di dalam Kota Malang mencapai 60 km per jam. ”Juga knalpot yang bersuara nyaring, itu korelasinya dengan kecepatan tinggi. Tapi masih banyak terlihat ini di jalanan,” imbuhnya.

Dari data yang dihimpun koran ini, pelanggaran di jalanan Kota Malang dari Januari–Agustus tercatat 22.880 kasus. Sebanyak 17.263 kasus berupa penilangan dan 5.617 berupa teguran. Sejumlah 9.760 kasus di antaranya melanggar marka jalan.

Pewarta: Fajrus Shidiq
Penyunting: Abdul Muntholib
Fotografer: Darmono