Bukan Drainase, Ini Terobosan yang Diklaim Lebih Efektif Cegah Banjir

Bambang irianto saat menjelaskan tentang biopori di diskusi bertajuk balekno Malang ku di kantor Jawa Pos Radar Malang

KOTA MALANG – Penerima Penghargaan Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan, Ir. Bambang Irianto mengatakan di Kota Malang selama ini saat banjir hanya memperbaiki drainase dan saluranise.

“Paradigma itu yang harus dirubah menjadi Water Banking. Dengan mengatur normalisasi dan naturalisasi,” terang Ketua RW 23, Kelurahan Purwantoro itu.

Menurutnya, normalisasi dan naturalisasi bisa dilakukan di beberapa titik, terutama bantaran sungai. Fungsinya antara lain, mempercepat peresapan air hujan, mencegah genangan, erosi, dan longsor.

Inovasi yang saya ingin lakukan membuat biopori dengan memberdayakan masyarakat. Satu orang membuat satu saja di rumahnya sudah akan sangat membantu,” jelasnya

Sebagai informasi, gerakan menabung air yang telah dilakukan oleh Bambang di Glintung Go Green (3G) adalah dengan membuat 1.000 biopori serta sumur injeksi.

Dalam konsep water banking ala Bambang Irianto tersebut, setiap rumah ditiap wilayah yang rawan akan diwajibkan untuk membuat sumur resapan dengan ratio satu rumah satu sumur resapan.

Sehingga, air hujan tidak menjadi genangan dan menjadi banjir, namun langsung masuk ke dalam tanah melalui biopori. Kumpulan air tersebut akan tertabung di sumur resapan sehingga warga Kota Malang memiliki tabungan air bersih.

Inovasi gerakan ini, tentu disambut baik dengan Wali Kota Malang, Sutiaji. Bahkan akan menggelontorkan dana kurang lebih Rp 2 miliar dari APBD yang akan dibagikan kepada 57 Kelurahan di Kota Malang.

“Nanti harus ada pemaksaan dan arahan soal biopori. Akan kita kawal semua itu agar permasalahan banjir ini bisa teratasi,” tutupnya.

Pewarta : Feni Yusnia
Foto : Rubianto
Penyunting : Fia