Bukan Cacingan, Kenali Penyakit Tinea Cruris Penyebab Anus Gatal

JawaPos.com – Sering kali orang berpikiran kebiasaan menggaruk bagian anus disebabkan karena cacingan. Padahal, belum tentu karena cacingan lho! Bisa saja terjangkit penyakit kulit Tinea Cruris.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Denpasar, Bali, dr. Laksmi Duarsa menjelaskan, fakta seputar penyakit kulit bernama Tinea Cruris. Namanya cantik, tetapi rasanya betul-betul membuat penderitanya tak nyaman. Tinea Cruris adalah infeksi jamur yang bisa terjadi pada bagian depan dan belakang tubuh seseorang. Artinya bisa terjadi di area selangkangan atau anus.

“Penyebabnya adalah infeksi jamur. Bisa menyebar dari depan ke belakang. Tinea cruris dapat menyebar ke paha, bokong, hingga anus,” kata dr. Laksmi kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Menurutnya, penyakit kulit jenis ini bisa diatasi dan bukan termasuk penyakit kulit yang bahaya. Akan tetapi bisa membuat penderitanya tidak nyaman dan mengganggu aktivitasnya.



Tinea cruris disebabkan oleh jamur dermatofita yang tumbuh di daerah selangkangan atau lipat paha. Lalu menyebar hingga ke daerah anus,” ujarnya.

Gejalanya

Ilustrasi. Jika menemukan gejala anus gatal lebih baik konsultasikan dengan dokter. (Chicago)

Terasa gatal di area yang lembab, terjadi pada orang-orang yang terpapar di suhu panas, lembab, atau kurang bersih (higienis) saat menggunakan celana dalam. Rasa gatal itu juga bisa terasa nyeri atau panas jika terus digaruk. Terjadi ruam kemerahan. Kulit pecah-pecah dan terkelupas.

“Tepinya aktif, terlihat lebih merah. Dan makin lama makin meluas gatalnya. Gatal, celekit-celekit, dan perih karena pasti digaruk jadi infeksi,” jelas dr. Laksmi.

Dokter bisa mendiagnosa penyakit kulit itu secara kasat mata, atau jika ingin memastikan bisa dibantu dengan laboratorium. Secara kasat mata, terlihat berwarna merah sedikit hitam, kasar, dan jamuran.

“Bisa untuk memastikan dengan kasat mata, sebelum diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari jamur. Atau ambil sampel jaringan kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop, laboratorium,” ungkapnya.

Penyebabnya

Menurut dr. Laksmi, Jamur mudah tumbuh pada area kulit yang lembab, hangat, dan berkeringat. Salah satunya anus dan selangkangan. Atau sering menggunakan celana dalam yang ketat. Celana panjang dan denim yang ketat, banyak berkeringat, atau kegemukan.

“Bahaya sih enggak, tapi mengganggu banget. Garuk-garuk mengganggu kenyamanan. Dan dari sisi kosmetik enggak bagus. Tak hanya di anus atau selangkangan, bisa terjadi menyebar sampai ke pantatnya itu sendiri,” ungkapnya.

Beda dengan Cacingan

Penyakit kulit ini berbeda dengan cacingan. Cacingan hanya terasa di satu titik saja dan biasanya rentan terkena pada orang-orang yang hidupnya dekat dengan daerah di mana populasi cacing subur. Dan cacingan baru diketahui jika cacingnya memang keluar dari lubang anus.

“Dan bedanya lagi dengan cacingan, kalau Tinea Cruris terlihat merah-merah meradang, tepinya aktif. Kalau cacingan, itu rentan pada orang-orang yang hidup di daerah rentang cacing atau tak pakai sandal ke mana-mana di daerah becek. Jadi cacing masuk ke pori-pori kaki,” katanya.

Ketika seseorang sudah diberi obat jamur di area anus tetap merasa gatal, maka bisa berkonsultasi dengan dokter. Dan jika diagnosa dokter mengarah ke arah cacingan, maka seseorang harus tes feses untuk memastikan.

“Dan umumnya yang terkena penyakit Tinea Cruris hampir imbang. Laki-laki dan perempuan bisa kena. Dan yang gemuk juga bisa. Makanya kalau sudah lebih dari 1 minggu gatal tak hilang, sebaiknya konsultasi ke dokter,” tegas dr. Laksmi.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani