Bukan Bina TKI, Disnaker Kabupaten Malang Malah Bidik Keluarganya. Kenapa?

KEPANJEN – Banyaknya warga Kabupaten Malang yang mengadu nasib sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) membuat kiriman uang yang masuk cukup besar. Selain dikirim kepada keluarga, sebagian uang tersebut masuk ke perusahaan penyalur untuk menutupi utang. Agar uang yang dikirim bisa menjadi modal membuka usaha, pembinaan terhadap keluarga TKI perlu dilakukan.

Berdasarkan data Disnaker Kabupaten Malang, diketahui sepanjang 2017 lalu, kiriman uang atau biasa disebut remittance mencapai Rp 3,6 miliar. Sedangkan awal 2018 hingga Agustus lalu, tercatat ada pengiriman uang hingga Rp 1,6 miliar.

Uang tersebut diketahui berasal dari para TKI yang bekerja di sejumlah negara di Asia maupun kawasan Timur Tengah. Kebanyakan duit ditransfer langsung kepada keluarga yang bersangkutan. Selain itu, cukup banyak juga uang yang mengalir ke perusahaan pengerah tenaga kerja.

”Uang yang masuk memang cukup besar, tapi semua kan langsung ke bank. Pemerintah hanya tahu berdasarkan laporan saja,” jelas Kadisnaker Kabupaten Malang Yoyok Wardoyo.

Menurut dia, banyaknya uang yang dikirim dari luar negeri tersebut karena Kabupaten Malang termasuk salah satu penyumbang TKI terbesar di Jawa Timur. Berdasarkan data tahun 2018, total ada 2.679 warga Kabupaten Malang yang mengadu nasib ke luar negeri.



”Jumlahnya ada ribuan orang yang bekerja di luar negeri. Kalau setiap orang mengirimkan Rp 1 juta per bulan, sudah berapa, tapi kenyataan di lapangan kan tidak seperti itu,” ungkapnya. Sebab, tidak semua TKI mentransfer uang setiap bulan. Ada yang tiga bulan atau lebih, baru ditransfer.

Sebagian dana yang dikirim para TKI tersebut banyak juga yang langsung ditransfer ke perusahaan yang menyalurkannya. ”Ada perusahaan yang menggunakan sistem potong gaji, jadi langsung masuk ke perusahaan. Tidak semua untuk kebutuhan keluarga,” jelasnya.

Saat ini pihaknya lebih banyak melakukan penguatan di sektor keluarga TKI. Sebab, keluarga yang memiliki peran besar dalam memanfaatkan dana tersebut. Selama ini banyak masalah yang terjadi usai TKI pulang kembali ke Indonesia. Uang yang ditransfer untuk kebutuhan keluarga ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik.

”Yang dibina keluarga TKI, mereka diajari cara manajemen keuangan. Agar tidak salah penempatan, tujuannya kan untuk menyejahterakan ekonomi,” katanya.

Selain itu, keluarga TKI juga diberikan bekal pelatihan keterampilan. Harapannya, ketika sudah selesai menjadi TKI bisa memiliki usaha sendiri. Jadi, modal yang didapatkan selama di luar negeri dimanfaatkan dengan baik.

”Yang banyak kan untuk konsumtif itu malah salah. Kalau seperti itu akan selamanya di luar negeri, jadi kami arahkan untuk bikin usaha,” tandasnya. (haf/c2/nay)

Pewarta : Hafiz
foto : Rubianto
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani