Buat Spot Instagramable, Teras Rumah Jadi Jujukan Wisatawan

Eksistensi Kampung Heritage Kayutangan, Kota Malang, tak jauh-jauh dari pemukiman padat dan hadirnya barang kuno nan jadul. Sebagian warga membuka pintu rumah dan menyediakan terasnya untuk dinikmati pengunjung. Termasuk Ahmad Ilham dengan ratusan koleksi kamera dan barang antik di rumahnya.

MOH BADAR RISQULLAH

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mungkin, itulah peribahasa yang cocok disematkan kepada Ahmad Ilham, 43. Fotografer sekaligus kolektor ratusan kamera film analog lawas itu terinspirasi dari sang ayah.
”Sejak kecil saya sudah diajari fotografi sama Ayah. Ya sekitar antara umur 15–20-an lah,” ujarnya. Namun, passion mengumpulkan beragam pernak-pernik yang berhubungan dengan kamera dan barang antik sudah dilakukannya sejak kuliah.

Di ruang tamu rumahnya yang berukuran 3×2 meter, beragam benda-benda jadul tertata rapi. Ada televisi, radio, dan piringan hitam hingga ratusan kamera jadul berbagai merek dan tipe, terpajang rapi beserta filmnya.

Tak hanya sebagai barang pajangan, sebagian besar kamera yang dimilikinya masih berfungsi normal. ”Masih bisa. Tinggal pakai saja,” ungkap bapak tiga anak itu.



Dia menceritakan, untuk mendapatkan beragam kamera itu gampang-gampang susah. Dirinya sering berburu untuk mendapatkan kamera yang diincar lewat jaringan pertemanan sesama penghobi dari Jakarta, Solo, atau Palembang. Jika momentumnya pas, dia bahkan menyempatkan untuk datang langsung ke pemiliknya. ”Biasanya pas ada project foto juga. Jadi, hunting foto sekalian hunting barang,” terangnya.

Untuk mengoleksi beragam kamera jadul itu, Ilham menyatakan kegemarannya ini sudah dimulai sejak masih mahasiswa. Setiap kamera yang dibelinya selalu disimpan. ”Dulu saya punya kamera pocket keluaran tahun ’85-an (1985) saat kuliah. Tapi, kameranya sekarang sudah nggak ada. Dibeli teman mahasiswa,” kata Ling, panggilan akrabnya.

Untuk mendapatkan ratusan kamera tersebut, sebagian didapatkannya dari hunting di banyak tempat. Mulai dari toko barang antik, pasar loak ataupun ke kolektor yang berada di kota yang dikunjunginya. ”Kadang dapat kamera dari jual-beli lensa atau kamera dari sesama fotografer,” tuturnya.

Dari total 150 kamera lawas yang dimiliknya itu, ada beberapa jenis yang benar-benar langka dan jarang yang punya, apalagi yang masih berfungsi dengan baik. ”Ada yang punya. Tapi biasanya cuma sebagai pajangan. Sudah nggak berfungsi,” tuturnya. ”Misalnya kamera yang double lensa itu. Sudah jarang. Ada, tapi untuk yang normal dan masih bisa sudah jarang. Apalagi ukuran filmnya 3,5,” sambungnya.

Seiring dengan status Kampung Kayutangan yang menjadi wilayah cagar budaya dan heritage, sebagai warga dirinya ikut menyambutnya dengan baik. Ratusan koleksi kamera dan barang lawas yang dipajang di rumahnya menjadi primadona wisatawan yang berkunjung. Baik untuk sekadar foto maupun properti pre wedding. ”Lumayan banyak yang ke sini. Ya dari wisatawan-wisatawan itu,” ucapnya.

Oleh karena itulah, dia pun memiliki inisiatif untuk membuat spot foto heritage di depan rumahnya. Di mana, beragam koleksi barang lawasnya dijadikan properti tambahan. ”Sebagian dijadikan properti untuk spot foto. Biasanya banyak yang suka akan properti lawas,” imbuhnya.

Belum genap satu tahun, dirinya mengonsep spot foto yang sulit dilewatkan pengunjung. ”Mungkin ya karena barang-barang lawas yang saya tampilkan ini. Apalagi, yang menyediakan properti di sini masih jarang,” ungkapnya.

Diceritakannya, awal mula pembuatan spot fotonya itu tidak terlepas dari iseng dengan barang lawas yang dimilikinya. ”Dari situlah, saya punya ide. Enaknya buat apa ya,” ungkapnya sambil menunjuk halaman rumahnya.

Setelah itulah dia mulai berpikir untuk membuat spot foto berkonsep dengan barang lawas yang dimilikinya. ”Kalau wisata heritage hanya menampilkan kampung saja kan kurang. Baru kalau ada propertinya tambah bagus. Apalagi, properti lawas itu bagian dari heritage,” celetuknya.

Seiring berjalannya waktu, banyak wisatawan yang suka dengan adanya properti yang dibuatnya. Akhirnya banyak juga masyarakat Kampung Kayutangan yang menerapkan konsep itu.

”Dari situ juga, sekarang banyak warga yang juga memasang spot-spot foto yang ada propertinya seperti ini,” tandasnya. (*/c1/nay)

Pewarta :(*)
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani
Fotografer : Laoh Mahfud Rahmani