Brexit Segera Terwujud, Tantangan Inggris Berikutnya Soal Perdagangan

JawaPos.com – Kemenangan Partai Konservatif menjadi mimpi buruk bagi Uni Eropa (UE). Harapan mereka untuk tetap rujuk dengan Inggris pupus sudah. Kini UE harus bersiap menerima perceraian pada 31 Januari tahun depan.

Presiden Dewan Eropa Charles Michel menegaskan bahwa pihaknya siap melakukan perundingan dengan Inggris dan akan melakukan yang terbaik untuk melindungi kepentingan UE.

”Kami siap. Kami sudah memutuskan apa saja prioritas kami,” ujar Michel seperti dikutip Agence France-Presse.

Michel menegaskan bahwa 27 negara anggota UE tidak akan menerima kesepakatan dengan begitu saja. Inggris harus tetap menghormati norma-norma di Eropa untuk memenangkan kesepakatan di masa transisi nanti. Mantan perdana menteri Belgia itu menandaskan bahwa UE melakukan segala sesuatu berdasar pengalaman, secara transparan, dan tetap menjaga persatuan anggotanya.

Di pihak lain, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memaparkan bahwa waktu untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan Inggris sangat mepet. Mereka akan langsung bekerja pada 1 Februari atau sehari setelah Brexit.

Michel Barnier, kepala negosiator UE, akan memimpin negosiasi perdagangan dengan Inggris. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memiliki waktu hingga 1 Juli untuk meminta perpanjangan masa negosiasi perdagangan. Jika Johnson menolak perpanjangan, peluang terjadinya no-deal Brexit alias keluar UE tanpa kesepakatan di akhir 2020 kian besar. Jika itu terjadi, Inggris akan memutus hubungan perdagangan dengan Eropa. Perekonomian mereka bakal terancam.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemarin menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Johnson. Dia menyatakan bahwa kedua negara bisa membuat kesepakatan perdagangan besar-besaran setelah Brexit.