BPOM Temukan Mamin Mengandung Boraks

Pasar tradisional di Kota Batu belum terlepas dari incaran produsen makanan dan minuman (mamin) dengan kandungan berbahaya.

KOTA BATU – Pasar tradisional di Kota Batu belum terlepas dari incaran produsen makanan dan minuman (mamin) dengan kandungan berbahaya. Seperti halnya mamin yang mengandung boraks yang biasanya digunakan untuk bahan pembersih, pengawet kayu, hingga pengenyal.

Dari sebanyak 25 sampel makanan dan minuman yang diambil dari pasar kota ini, ditemukan dua makanan yang terindikasi mengandung boraks. Hal itu diketahui dari pengujian yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Surabaya.

Untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan boraks, makanan tersebut dimasukkan ke dalam sebuah wadah, lalu dicampurkan dengan cairan pereaksi boraks. Kemudian makanan yang sudah tercampur dengan cairan itu diaduk-aduk dan didiamkan selama sekitar sepuluh menit.

Setelah itu, makanan itu dicelupkan kertas pereaksi kandungan boraks di dalamnya. Hasilnya, jika kertas yang awalnya berwarna kuning berubah menjadi merah, maka makanan tersebut terindikasi kuat mengandung boraks.

”Temuan ini akan kami bawa ke Surabaya untuk diteliti lebih lanjut. Sebab, sementara ini masih berupa indikasi,” kata Staf Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BPOM Surabaya Erlina Widyanti kemarin (25/7).

Dia lantas menjelaskan, yang dilakukan pihaknya saat ini adalah lebih kepada pemberian pelatihan. Bukan melakukan inspeksi mendadak (sidak) maupun pemeriksaan. ”Sebab, idealnya setiap daerah memiliki alat untuk uji makanan supaya bisa melakukan pengontrolan sendiri,” beber dia.

Sementara itu, Kasubbag Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Batu Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Dinkop) Kota Batu Fadli Amarullah menyatakan, akan segera melaporkan kasus tersebut ke dinas. Dengan demikian, bisa segera dilakukan tindak lanjut atas kasus tersebut. ”Soal sanksi, biar dari dinas nanti yang memutuskan,” katanya.

Dia lantas menjelaskan, kegiatan pengujian makanan dan minuman yang dilakukan merupakan adalah tindak lanjut dari pelatihan yang sebelumnya pernah diberikan oleh BPOM. Saat ini pelaksanaan praktik dan uji coba.

Untuk keperluan tersebut, pihaknya langsung memilih secara acak makanan dan minuman yang dijual oleh para pedagang. Di antaranya, kerupuk tahu, ikan asin, mi, beras, kue basah, hingga minuman seperti cincau.

Ragam sampel itu kemudian dicampur dengan bahan cairan pereaksi boraks. Rupanya, ada yang terindikasi mengandung boraks. Dengan adanya temuan tersebut, pihaknya bakal lebih berhati-hati lagi. Selain itu, mereka sering melakukan pemeriksaan. ”Jika ada yang dicurigai, kami nanti akan langsung memeriksanya,” kata dia.

Makanan yang mengandung boraks sendiri jelas melanggar undang-undang. Yang sengaja menggunakan bahan pengawet ini bisa saja dijerat dengan Pasal 126 UU RI No 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Untuk hukumannya, diancam maksimal lima tahun penjara atau denda hingga Rp 10 miliar.

Pewarta : Bahrul MArzuki
Penyunting : Ahmad Yahya
Copy Editor : Dwi Lindawati