BPJS Ketenagakerjaan Sasar Mahasiswa. Ada Apa?

MALANG KOTA – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan gencar melakukan sosialisasi. Salah satunya yang digelar di Universitas Brawijaya (UB) kemarin (27/11). Tujuannya, agar mahasiswa sebagai calon tenaga kerja nantinya sadar akan pentingnya jaminan sosial tersebut.

”Karena jika terjadi musibah, kecelakaan, maupun kematian saat usia tidak produktif, mereka masih tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak,” ujar Agus Susanto, direktur utama BPJS Ketenagakerjaan Malang.

Menurut dia, target BPJS Ketenagakerjaan ke depan adalah memperluas cakupan kepesertaan jaminan sosial melalui program Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia). Perisai merupakan kepanjangan tangan BPJS Ketenagakerjaan yang bertugas melakukan sosialisasi dan edukasi ke masing-masing komunitas agar mendaftar ke BPJS Ketenagakerjaan.

Selain itu, tugas perisai, yakni mengumpulkan iuran. ”Ada fee insentif yang cukup besar, yakni 7,5 persen dari iuran yang terkumpul. Kemudian Rp 500 ribu per bulan dengan syarat harus mendaftarkan peserta minimal 50 orang.

”Inilah yang sekarang kita sosialisasikan kepada komunitas dan kampus” tambahnya.



Menurut dia, target kepesertaan 2017 sebanyak 25,2 juta orang, yang mana saat ini tenaga kerja aktif mencapai 24,7 juta. ”Itu data Oktober jadi masih ada 2 bulan lagi insyaallah akan bisa on the track,” ujarnya.

Namun demikian, total peserta yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan sebanyak 43 juta orang dan yang masih aktif iuran sebanyak 24,7 juta anggota. Penyebab terjadinya ketidakaktifan di antaranya karena tidak bekerja lagi, tidak diambil, sudah pensiun, kecelakan atau tidak mengangsur.

Alasan tidak mengiur kemungkinan karena ada kendala teknis pembayaran atau teknis finansial dan sebagainya. ”Oleh karena itu kita memberdayakan Perisai supaya mereka mempermudah proses pembayarannya sehingga angka yang aktif menjadi lebih tinggi,” ujar Agus.

Melalui kegiatan yang merupakan rangkaian ulang tahun BPJS yang ke 40 ini, diharapkan pada mahasiswa sebagai calon pekerja nantinya akan memiliki jaminan sosial saat memasuki dunia pekerjaan.

”Saya ingin mengajak mahasiswa untuk mengantisipasi dengan kondisi disrupsi apa yang harus di persiapkan oleh mahasiswa karena akan mempengaruhi dinamika lapangan pekerjaan yang terjadi nanti, mempengaruhi keahlian dan kompetensi,” jelasnya saat memberi materi berjudul ”Negara Kesejahteraan dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Indonesia di Tengah Fenomena Disrupsi”.

Selain mahasiswa, target BPJS Ketenagakerjaan adalah perusahaan. Karena pada kenyataannya masih banyak perusahaan yang belum mendaftar atau menunggak iuran. Irvansyah Utoh Banja selaku Deputi Bidang Humas dan Antar Lembaga mengatakan, sekitar 25-30 persen perusahaan yang menunggak iuran. Untuk itu, BPJS Ketenagakerjaan bekerjasama dengan kejaksaan agar perusahaan-perusahaan yang belum mendaftar agar segera mendaftar.

”Tahapan yang kita lakukan yakni sosialisasi, kunjungan, kalau belum mendaftar akan diberi surat peringatan maksimal dua kali, baru berurusan dengan kejaksaan,” ujar Irvansyah.

Sanksi yang diberikan kepada perusahaan bisa menyebabkan sanksi administratif pribadi seperti tidak bisa mengurus dokumen paspor, paspor, dan lain-lain.

Namun begitu, total pencapaian BPJS Ketenagakerjaan melebihi target yakni sejumlah Rp 300 triliun dari target Rp 297 triliun. ”Sebanyak 98 persen dari total capaian didominasi oleh karyawan penerima upah,” tambahnya.

Pewarta: NR8
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Octo Pratama