Bordir Benang Emas Percantik Kain Lhokseumawe Karya Wignyo Rahadi

JawaPos.com – Desainer Wignyo Rahadi memberi sentuhan yang berbeda pada kain nusantara khas Lhokseumawe, Aceh. Teknik yang dipilih kali ini adalah seni bordir di atas kain tenun dengan berbagai motif khas Aceh seperti motif ulen-ulen, pintu Aceh, dan lainnya. Semua koleksi tersebut ditampilkan dalam perhelatan Karya Kreatif Indonesia bertajuk Kain Kreatif Olahan Binaan Bank Indonesia di Jakarta Convention Center, Senin (15/7).

Kepada JawaPos.com, Wignyo menjelaskan ada 10 busana yang ditampilkan dengan sentuhan bordir Lhokseumawe, Aceh. Dia mengubah koleksi tersebut menjadi lebih modern dan kekinian, sebab selama ini warna dan motif dari Aceh lebi didominasi warna-warna tua seperti merah, hijau dan hitam. Maka Wignyo sengaja memilih warna dusty pink agar kain daerah semakin diminati anak muda.

“Konsepnya motif tradisional tetap dengan khas Aceh. Namun look-nya lebih modern dengan memilih dusty pink. Saya tak menghilangkan khas Aceh, tetapi membuatnya lebih menarik,” jelas Wignyo.

Sentuhan indah lainnya ada pada benang yang digunakan, yaitu benang emas. Sehingga membordir motif Aceh dilakukan di atas kain tenun dengan menggunakan benang emas.

“Benang emasnya yang digunakan lebih khusus sehingga lebih halus dan lembut. Motifnya tetap khas Aceh seperti Gayo, Takengon, dan lainnya,” jelas Wignyo.

Asal usul bordir Lhokseumawe tersebut semula biasa digunakan untuk berbagai produk tas di Aceh. Namun Wignyo melihatnya kerajinan itu masih bisa ditingkatkan untuk menjadi busana. Maka dia membuatnya dengan konsep Ready to Wear Deluxe.

“Ini adalah UMKM yang saya bina atas dukungan BI. Dan UMKM di sana tadinya membuat bordir tas Aceh yang sudah sangat terkenal. Namun saya rasa ini bisa lebuh ditingkatkan tak hanya sekadar tas, sayang skillnya. Maka saya tingkatkan dalam balutan busana dengan bordir yang lebih halus dan lembut,” jelas Wignyo.

Maka tema Metamorfosis dipilihnya dalam semua koleksinya. Sehingga para UMKM bisa merasa bangga atas kreasi mereka sebagai wastra Nusantara yang indah dan siap pakai.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani