Bom Surabaya, Kak Seto: Anak Adalah Korban

LPAI

RADAR MALANG ONLINE – Serangkaian teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), menarik perhatian Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Pasalnya, para pelaku melibatkan anak-anak.

LPAI bersama beberapa lembaga anak lainnya mendatangi Ruma Sakit (RS) Bhayangkara, Surabaya, Rabu (16/5). Mereka ingin memastikan kondisi anak-anak yang menjadi korban bom bunuh diri. Dari catatan RADAR MALANG ONLINE, ada tujuh anak yang merupakan keluarga pelaku teror.

Ketua Umum LPAI Seto Mulyadi mengungkapkan, rentetan aksi teror yang melibatkan anak-anak di Surabaya dan Sidoarjo adalah yang pertama kali di Indonesia. “Kami dapat kabar bahwa anak-anak ini mendapat stimulasi negatif. Mereka sangat mudah dipengaruhi,” ungkapnya di Gedung Tri Brata Mapolda Jatim.

Pria yang akrab disapa Kak Seto itu menambahkan, anak tidak bisa disalahkan. Hal itu berdasarkan Undang-undang Perlindungan Anak. Mereka tidak bisa disebut sebagai pelaku. “Anak adalah korban. Mereka korban dari lingkungan,” tambahnya.

Anak-anak tersebut perlu mendapatkan perlindungan ke depannya. LPAI yang punya cabang di 28 provinsi, akan berusaha meluruskan informasi bahwa anak-anak tersebut bukanlah pelaku.

Ada dua amanat Undang-undang Perlindungan Anak. Pertama, tidak melakukan kekerasan terhadap anak. Kedua, tidak menyuruh anak melakukan kekerasan. Pada kasus teror ini, poin kedua akan menjadi perhatian LPAI.

Menurut Kak Seto, negara harus hadir untuk melakukan terapi psikologis. Caranya dengan mengubah lingkungan anak-anak tersebut. “Sesuatu yang negatif itu bisa bisa cepat dihilangkan, diganti dengan yang positif. Harus diciptakan lingkungan yang kondusif,” tuturnya.

Bersama kepolisian, LPAI siap bekerja sama untuk memulihkan trauma pada anak-anak tersebut. Untuk menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif, harus dilihat kembali bagaimana pola asuh orang tua. “Kami akan melihat keluarganya. Apakah mereka menyebarkan paham-paham negatif. Kalau iya, harus dipindah ke lingkungan baru,” terang Kak Seto.

Untuk mendekati dan berbicara dengan anak-anak, LPAI punya trik khusus. Salah satunya pendekatan dengan kategori usia. “Kalau remaja tentu berbeda dengan anak-anak. Mungkin tidak dengan dongeng-dongeng,” papar Kak Seto.

(did/JPC)