BMKG Jelaskan Fenomena Petir di Erupsi Gunung Taal Filipina

RADARMALANGID – Dunia baru saja diguyur berita mengejutkan tentang erupsi gunung berapi Taal di Filipina. Tak hanya memuntahkan abu dan lava panas hingga sejauh 15 km, bencana ini juga disertai dengan kilatan petir yang mengerikan.

Video dan foto kilatan petir yang tertangkap oleh kamera para warga Filipina banyak tersebar di media sosial. Hal ini membuat jagat media sosial, salah satunya Twitter, membicarakan hal ini hingga membuat tagar #PrayForPhillipines menjadi topik trending.

Fenomena ini membuat salah seorang warganet Indonesia mencuit dan mempertanyakan peristiwa alam yang tak umum ini. Oleh Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, peristiwa ini dijadikan momen untuk mengedukasi masyarakat Indonesia yang juga seringkali tertimpa musibah gunung berapi.

“Terjadinya petir pada saat erupsi gunung berapi tidak jauh berbeda dari mekanisme petir yang biasa. Hanya saja, awan cumulunimbus yang menjadi “sarang” petir tergantikan oleh awan kepulan uap air, abu, debu, dan partikel vulkanik lain yang menyembur ke angkasa secara massif,” jelas akun tersebut.

Sebuah utas panjang oleh BMKG menjelaskan teori terjadinya Petir Vulkanik yang menjadi penyebab fenomena erupsi genung berapi disertai dengan kilatan petir. Secara sederhana, petir vulkanik dapat terjadi akibat tiga kemungkinan, yang dapat dijelaskan secara teoretis.

Teori pertama menunjukkan bahwa sebagian besar atom-atom yang mulanya netral bertemu dengan energi bebas yang disertai suhu 1500 Kelvin. Kemudian, terjadi peristiwa yang menciptakan ion-ion positif dan ion-ion negatif yang sleanjutnya berpisah.

BMKG lanjut menjelaskan, “Ketika ion-ion tersebt terpisah dengan jarak yang cukup, muncullah beda potensial listrik yang akan menyebabkan sambaran petir.”

Dalam teori kedua, gunung berapi yang meletus dan mengeluarkan partikel abu panas, upa dan gas yang mulanya netral saling bertabrakan dan akhirnya berubah menjadi massa positif atau negatif.

“Ketika partikel debu vulkanik bertabrakan satu sama lain, kemudian terjadi (ionisasi) pemisahan muatan terjadi dengan proses yang disebut aerodynamic sorting,” cuit @infoBMKG. Sekali lagi, pemisahan muatan positif-negatif tersebut menyebabkan listrik mulai mengalir dan ketika ada letusan, terjadilah petir tersebut.

Sementara itu, teori lain berpendapat bahwa partikel yang lebih besar mungkin memiliki muatan positif dan partikel yang lebih kecil mungkin memiliki muatan negatif. “Dan sebagai partikel yang lebih besar jatuh lebih cepat, yang mungkin membuat pemisahan yang diperlukan untuk menghasilkan petir,” cuitnya lagi.

BMKG menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa aktivitas erupsi gunung berapi bukan pemicu secara langsung terjadinya petir. “Jadi meskipun terjadi erupsi utama, tidak berarti kejadian petir memiliki kuantitas yang paling besar,” tutupnya.

Penjelasan tersebut dapat ditemui lebih lengkap dalam situs resmi BMKG yang ditulis oleh tim Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG.

Penulis: Ananda Triana
Foto: istimewa
Penyunting: Fia