BJ Habibie dan Prestasi Aviasi Indonesia

Keluarga Benarkan BJ Habibie Meninggal Dunia - JPNN.com

MALANG – Hari ini (12/9), Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie akan dimakamkan. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 tersebut meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto sejak 1 September lalu.

Meski telah tiada, sosok murah senyum itu telah memberikan kontribusi besar untuk dunia aviasi Indonesia. Sedari muda pun, Habibie sudah menekuni keilmuan tentang mesin dan penerbangan.

Habibie pernah menempuh perkuliahan di jurusan teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (kini Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954, dan melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang pada tahun 1955-1965 di RWTH Aachen, Jerman Barat, dan menerima gelar diplom ingenieur pada tahun 1960 serta gelar doktor ingenieu pada 1965. Terkenal berotak encer, Habibie pun juga diganjar predikat summa cum laude.

Awal karir Habibie dalam dirgantara Indonesia dimulai pada 1974. Saat itu, ia dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk mengembangkan industri penerbangan dalam negeri. Habibie pun menyetujui dengan syarat dibiayai dari penjualan sumber daya alam.

Sepak terjangnya pun dimulai dengan Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) yang menjadi akar dari PT Dirgantara Indonesia, yang menjadi produsen pesawat Indonesia. Idenya diungkap dalam Pair Air Show 1989. Tahun 1995, pesawat N-250 pun mengudara untuk kali pertama dan menjadi kado ulang tahun RI ke-50.



N-250 merupakan jenis armada penumpang sipil regional komuter turboprop (baling-baling) dengan kapasitas 50-70 penumpang. Produksi purwarupa pertama yakni N-250 PA-1 dengan versi Gatotkaca diluncurkan Agustus 1995, sedangkan N-250 PA-2 diberi nama Krincing Wesi, diluncurkan pada Agustus 1996.

Sayang seribu sayang, proyek ini harus terhenti kala krisis moneter menyerang diiringi dengan penutupan IPTN. Kini, 2 pesawat N-250 terparkir dan sebatas menjadi besi tua di apron milik PTDI di Bandung.

Tahun 2013, Habibie membuat inisiatif tentang pembuatan pesawat turboprop R80, dikembangkan oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) dengan PTDI, dan dikabarkan bakal selesai pada 2021 mendatang, serta membutuhkan dana kurang lebih Rp 21,6 triliun. Pada 2018, Ilham Habibie, putra B.J Habibie, mengatakan bahwa proyek R80 sedang dalam proses desain, mulai dibuat pada 2019 dan akan memakan waktu sampai 4 tahun. Masyarakat Indonesia pun menyambut baik proyek R80 tersebut.

Nama B.J. Habibie memiliki pengaruh besar dalam dunia aviasi Indonesia. Meski raga telah terbujur kaku, jasa dan kontribusinya bagi bangsa Indonesia tetap terpatri abadi.

Pewarta: Elsa Yuni Kartika
Foto: dok JPNN
Penyunting: Fia