Bisnis Toilet, 60 Persen Masuk Kantong Pelaku Usaha

Quoue: Bisnis Toilet, 60 Persen Masuk Kantong Pelaku Usaha
(dok)

Banyaknya toilet umum yang ada di Terminal  Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo mampu membantu perekonomian masyarakat sekitar. Sebab, penghasilan dari bisnis ‘pesing’ tersebut tak sedikit.  

Pengamat ekonomi, Kresnayana Yahya menjelaskan, keberadaan toilet umum merupakan lahan kerja atau sumber pendapatan yang potensial. Satu kali pipis saja untuk setiap orang harus merogoh kocek Rp 2 ribu. Belum kalau ingin mandi, wajib merogoh kocek dua kali lipat, Rp 4.000. “Namun banyak ponten yang tidak memperhatikan kenyamanan dan kebersihan toilet tersebut,” tegas Kresnayana,  Sabtu (15/2).

Lebih lanjut ia menjelaskan, bisnis toilet di terminal masuk kategori usaha jasa. Dimana kenyamanan serta kepercayaan menjadi salah satu syarat mutlak bagi masyarakat yang ingin menggunakan jasa ponten umum ini. “Jadi, kalau sudah adanya kenyamanan, kebersihan, dan hal penunjang lainnya, masyarakat tidak akan merugi jika akan menggunakan ponten dengan harga yang sebanding,” ucapnya.

Lebih jauh pakar statistika ITS ini mengungkapkan, perlu adanya penanganan serius dari pemerintah untuk pengelolaan ponten umum yang ada di terminal. Disarankan harus ada standar khusus dari pemerintah untuk membuat masyarakat lebih nyaman sekaligus aware jika hendak menggunakan toilet. “Karena 30 persen hingga 40 persen masyarakat di Surabaya dan sekitarnya, saat ini lebih mobile dan hidup di jalan. Dengan ponten umum yang bersih, wangi, aman dan nyaman orang pasti senang. Kebutuhan mereka buang hajat tidak sulit lagi,” terang Kresnayana.

Bagi pelaku ‘bisnisnya’, keberadaan toilet umum di terminal juga membantu perekonomian mereka. Setidaknya sebanyak 60 persen dari penghasilan harian mereka, bisa untuk menutup kebutuhan sehari-hari. “Nah, yang 40 persennya digunakan untuk perawatan ponten. Bisa untuk bayar listrik, air, beli pembersih ataupun biaya operasional lainnya,” ungkapnya.

Kresnayana menyoroti, saat ini masih banyak masyarakat yang kurang perhatian terhadap keberadaan toilet umum di terminal. Hal itu diperparah dengan sikap egois pelaksana usahanya, sehingga toilet hanya digunakan untuk menghasilkan uang. Tapi, tidak dirawat dengan selayaknya. Buktinya, banyak ponten yang lampunya mati, pintunya jebol, bau pesing, gayungnya rusak, menggunakan ember bekas tempat cat, saluran airnya buntu, dan sebagainya. 

Perlu adanya pihak profesional yang harus menangani kebersihan ponten umum ini di terminal. “Dengan dikerjakan secara profesional, ini membuat ponten akan semakin bagus dan seperti toilet yang ada di bandara yang memang dijaga betul bersih, dan diberikan wewangian di toiletnya,” beber Kresnayana.

Kresnayana tak menampik jika terminal menjadi salah satu tempat yang kerap dikunjungi wisatawan lokal, atau manca negara yang ingin lewat jalur darat dengan bus. Karena itu, kebersihan maupun kenyamanan menjadi sangat mutlak, “Jika pontennya kotor, bau, dan fasilitas pendukungnya masih kecil, ini yang membuat malu kita semua,” bebernya.

Dengan peningkatan kualitas ponten ini akan lebih meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar terminal. Ini dikarenakan masyarakat akan lebih memilih tempat yang memiliki kualitas ponten bersih, wangi, dan fasilitas lainnya terpenuhi. “Ditambah lagi jika menjual kebutuhan mandi, seperti sabun atau sikat gigi. Makah al itu menjadi nilai plus bagi masyarakat yang ingin mandi. Kalau laku, juga menjadi penambah pemasukan bagi mereka,” bebernya. (sar/opi)

(sb/sar/jek/JPR)