Bila Ingin Bertahan, Media Massa Harus Gunakan Pendekatan Perpustakaan

KOTA MALANG – Arus informasi yang menyebar di platform digital memerlukan tata kelola yang baik. Tak seperti pada platform konvensional (koran), arus informasi digital yang tak terkendali berpotensi menjadi hoax.

Isu ini menjadi perhatian utama Program Studi Ilmu Perpustakaan FIA (Fakultas Ilmu Administrasi) UB (Universitas Brawijaya). Bersama dengan profesor Universiti Teknologi MARA (UiTM), Assoc Prof Dr Azman Mat Isa, sejumlah akademisi FIA UB menyambangi kantor Jawa Pos Radar Malang, Selasa (15/10).

Dalam pertemuan ini, FIA UB mengangkat three in one program bertema ‘Information Governance: Philosophies, Concepts, and Strategis’.

“Media saat ini seperti kasus (merk kamera) Kodak, yang fokus mengembangkan kamera film. Tahun 70-an memang populer. Ketika ada era digital, mereka takut mengembangkan (teknologi digital). Takut bakal mematikan film,” kata Azman.

Seperti kisah yang banyak diketahui orang, Kodak tetap bertahan memproduksi film untuk kamera. Keputusan itu salah, lantaran film perlahan tergerus oleh keberadaan produk digital.

“Saya katakan memang (media) online suatu saat juga akan menjadi pilihan utama. Memang (media) print out akan tetap ada, tapi ya itu (bukan pilihan utama),” tambahnya.

Hal tersebut diamini oleh Direktur Jawa Pos Radar Malang. “Kita lihat online memang masa depan. Dari survei pembaca (koran) kami memang dominan umur 35 tahun ke atas. Maka saat ini kami sedang menyusun strategi mengembangkan online tanpa mematikan (koran) cetak,” katanya.

Artinya, koran tidak serta merta akan lekas mati. Sebab, masih ada segmen koran yang ternyata belum mampu dijangkau media online.

Koran harus mampu meyuguhkan konten deep news.

Sementara itu, Ketua Prodi S1 Ilmu Perpustakan FIA UB, Dr Mohammad Shobaruddin, MA mengatakan bahwa yang perlu dibenahi oleh media cetak adalah big data. Media menurutnya harus punya bank data yang lengkap.

“Penting bagi media untuk melakukan pendekatan perpustakaan. Tata kelola informasi yang baik. Saya rasa wartawan ini lebih lincah ya menabung data dari pustakawan,” ujarnya.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Rida Ayu
Editor: Indra M