Bikin Sabun dari Jelantah, Sisa Plastik Jadi Bahan Furnitur

Dian Kusuma Wardhani bisa jadi contoh hidup yang ramah lingkungan. Di rumahnya nyaris tidak ada sampah yang terbuang sia-sia. Semua diolah jadi barang yang bernilai manfaat. Seperti apa?

ARLITA ULYA KUSUMA

Sepintas, rumah minimalis berwarna cokelat muda milik Dian Kusuma Wardhani tak jauh berbeda dengan rumah kebanyakan orang. Namun jika dilihat lebih dalam, ada sesuatu yang membuatnya berbeda dengan rumah-rumah lainnya.

Tak terlihat satu pun tempat sampah di dalam ataupun halaman rumah dia di Bumi Meranti Wangi, Pandanwangi, Blimbing. Penulis hampir 50 judul buku tersebut memang sudah tidak lagi menyumbang sampah selama 1 tahun ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Padahal, di sudut halaman rumahnya, ada pohon besar yang daunnya kerap berjatuhan. Tapi, daun rontok itu juga tidak ada yang dibuang ke tempat sampah. ”Saya biasanya menjadikan daun-daun ini untuk kompos,” ungkap Dini.

Ibu dari sepasang anak kembar ini memasukkan sampah organik ke dalam sebuah drum biru setinggi 0,5 meter yang dia letakkan di halaman depan.

Di dalam drum itu pula sisa makanan dia campur untuk bahan kompos yang akan dia peruntukkan sebagai media tanam berbagai tumbuhan.

Dia sejak sembilan tahun silam telah belajar tentang pembuatan kompos. ”Saya mulai aware dengan 3R (reduce, reuse, recycle), padahal istilah itu sudah didengungkan sejak lama,” tutur alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Gaya hidup ramah lingkungan dan minim sampah juga dia perlihatkan dengan tidak lagi membeli kebutuhan keluarga. Seperti sabun mandi, shampo, obat lantai, hingga detergen di pasaran. Dini dan keluarganya terbiasa membuat sendiri di rumah dengan memanfaatkan bahan-bahan alami.

”Saya pakai buah klerek untuk dijadikan detergen dan minyak jelantah untuk diolah menjadi sabun cuci,” tutur mantan dosen perencanaan wilayah dan kota Universitas Brawijaya (UB) ini.

Dia berusaha ketat untuk menghindari pemakaian barang yang berpotensi menjadi sampah anorganik (tidak bisa terurai). Karena itu, di keluarganya dia terapkan untuk mengurangi penggunaan plastik.

Dia memilih membawa wadah sendiri saat membeli makanan dan minuman. Juga mengganti plastik dengan tas belanja. Hal tersebut pun dia terapkan kepada kedua anaknya. Memang, imbuh Dini, tidak mudah menerapkannya.

Karena terkadang dua anaknya meminta untuk membeli makanan ringan yang menghasilkan sampah. Namun, solusi yang diberikan Dini patut untuk ditiru.

”Saat anak-anak ingin makan es krim misalnya, saya beri pengertian bahwa mereka harus membawa pulang sampah plastiknya, karena itu adalah tanggung jawab mereka,” imbuh dia.

Dini mengajarkan kepada kedua anaknya yang berumur 11 tahun itu untuk menjadikan plastik sisa bungkus es krim, permen, serta makanan ringan mereka menjadi eco brick (bata ramah lingkungan).

Yakni, dengan menyusun rapi plastik-plastik tersebut ke dalam botol air mineral 600 ml hingga penuh dengan sisa bungkus plastik warna-warni. Selanjutnya, eco brick yang telah terkumpul akan disumbangkan ke komunitas eco brick untuk menjadi bahan dasar membuat meja dan furnitur lainnya.

Sampah anorganik lain yang tidak dapat dia kelola pun disetorkan ke Bank Sampah untuk selanjutnya di-recycle (daur ulang). ”Yang kami setorkan ke Bank Sampah pun jumlahnya tidak banyak, hanya 1 kardus dalam 1 tahun,” tutur perempuan asli Malang tersebut.

Giat Dini dalam menularkan gaya hidup minim sampah rupanya bukan hanya di lingkup keluarga kecilnya saja, dia menggagas sebuah komunitas bernama Sahabat Alam Cilik.

Itu adalah komunitas belajar yang mengumpulkan anak-anak sebulan sekali untuk diskusi santai sambil menonton film mengenai lingkungan. Sebanyak 50 judul buku yang telah dia terbitkan pun 80%-nya adalah mengenai lingkungan.

Selain itu, dia juga menjadi founder kelas online yang diberi nama ”belajar zero waste”. Perempuan berusia 40 tahun itu juga aktif menyuarakan zero waste movement di Instagram-nya dengan 33 ribu pengikut.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib