Bikin Aplikasi Didaya, Mudahkan Difabel Bekerja

Prihatin karena kerap ada lulusan sekolah luar biasa (SLB) yang ditolak perusahaan untuk bekerja, Irawati pun membuat terobosan. Lewat aplikasi bernama Didaya, penyandang difabel sudah bisa usaha secara mandiri. Seperti apa?

SANDRA DESI CAESARIA

”Kalau segitiga, garisnya ada tiga. Kalau segi empat, garisnya ada empat,” suara lembut Irawati sudah terdengar dari tangga bawah menuju lantai dua tempat dia mengajar di SMA Luar Biasa Yayasan Putra Pancasila (SMALB YP2) Kedungkandang, Kota Malang.

Ira–begitu siswanya memanggil dia– terlihat enjoy saat mengajar. Cenderung santai dan ramah.

Ruangan lantai II SMALB YP2 itu begitu sederhana. Tidak begitu lebar. Kira-kira seukuran 4×3 meter. Itu pun harus disekat tiga papan tulis untuk menjadi tiga kelas.

Irawati kebagian mengajar enam siswa kelas X tunagrahita. ”Saat ini saya juga sedang menyempurnakan program saya untuk persiapan di ajang internasional,” ujarnya di sela-sela mengajar.

Ya, Irawati ini bukanlah guru biasa. Dia memiliki kreativitas tinggi. Buktinya pada 12–18 Agustus 2019 untuk kategori lomba kreativitas guru SMALB, dia memenangkan juara I di tingkat nasional Lomba Guru Berprestasi yang diselenggarakan Kemendikbud RI. Itu atas inovasinya membuat program aplikasi praktis untuk para difabel.

Namanya ”Didaya”. Yakni, sebuah aplikasi untuk memudahkan anak berkebutuhan khusus bisa mandiri dalam mencari rezeki. Salah satunya dengan aplikasi ini, siswa-siswi diajari mengolah budi daya tanaman organik. Mulai dari cara menanam, mengenal jenis sayuran organik, hingga pemasarannya. Semuanya melalui aplikasi Didaya ini.

”Program saya, terdiri dari unsur edukasi, teknologi, dan kewirausahaan,” kata perempuan berusia 34 tahun ini. Perempuan asal Kelurahan Tasikmadu, Lowokwaru, ini mengatakan, awalnya mendapat ide membuat aplikasi Didaya gara-gara melihat minimnya serapan alumni anak hambatan intelektual sedang oleh perusahaan.

”Sebab, ada beberapa anak berkebutuhan khusus yang sempat ditolak perusahaan besar. Misalnya, penyandang tunagrahita sedang dan penyandang Tuli dengan tantrum, kadang kala mereka ditolak oleh perusahaan,” jelas dia.

Melihat kenyataan itu, membuat dia bersedih. Namun, dia tidak mau terus larut dalam kesedihan. So, di awal 2019, Ira langsung mengaplikasikan ide menanam tanaman organik yang sudah dia geluti sejak 2017 dan berani membuat market plan-nya sendiri.

Sebelumnya, dia juga sudah diskusi dengan pemilik PT KKAF yang tinggal di sebelah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang sebagai mitra pemkot terkait budi daya tanaman organik. ”Lalu (temuan aplikasi) ini saya coba daftarkan ke Lomba Guru Berprestasi,” jelasnya.

Untuk pemilihan tanaman organik, Ira memiliki alasan karena dari sistem penanaman dan keuntungannya lebih mudah diajarkan kepada siswanya.

”Kalau mau hidroponik, belum tentu aman bagi para siswa. Terutama menanam dengan cara biasa karena masih menggunakan pupuk cair yang mengandung bahan kimia sehingga kurang baik bagi siswa,” jelasnya.

Bermodal satu bibit sayuran seharga Rp 4 ribu, bisa menghasilkan keuntungan berlipat-lipat. Saat ini ada lebih dari empat varietas yang ditanam di kebun mungil SMALB Yayasan Putra Pancasila. Ada aneka jenis bayam, kangkung, hingga sawi yang lebih dari satu jenis. Per bulan, kebun mungilnya sudah bisa mengirim lebih dari 30 kg sayuran ke berbagai daerah.

Awalnya yang diajak menanam hanyalah siswa dari kelas Tuli. ”Nah, ini susahnya, suasana hati mereka tak stabil. Kalau sudah terik mataharinya, mereka lebih rewel,” kata ibu satu anak ini.

Dari pengamatannya, siswa Tuli lebih suka belajar dari handphone (HP). Maka, dia bikinkan aplikasi Didaya. Dalam aplikasi itu, ada 12 fitur yang menarik. Mulai dari pengenalan K3 (kesehatan dan keselamatan kerja), glosarium, hingga pembelian melalui aplikasi.

Bahkan, Ira harus merogoh kocek sekitar Rp 750 ribuan dari kantong pribadinya untuk membuat aplikasi ini. Karyanya tersebut langsung dia ikutkan lomba di tingkat kota. Dari tingkat kota, melaju ke provinsi, berlanjut ke tingkat nasional. Semua biaya perjalanan ditanggung sendiri.

Total biaya selama lomba yaitu Rp 10 juta. ”Dan untuk itu, saya utang ke mana-mana, saya tunda bayar biaya uang pangkal anak saya sebesar Rp 2,5 juta. Ini semata-mata untuk anak-anak difabel,” kata istri dari M. Efendi tersebut.

Tidak ada hadiah di tingkat kota hingga provinsi. Dia baru dapat hadiah setelah menang di tingkat nasional yaitu Rp 20 juta. Itu pun sudah habis untuk membayar utang dan untuk program Didaya-nya. ”Mau cobaan sebesar apa, upaya saya buat anak-anak saya, tidak terbatas. Apa yang saya lakukan, ya kembali ke mereka,” ujar alumnus SMKN 1 Singosari ini.

Saat ini program budi daya tanaman organiknya dijadikan rujukan sekolah luar biasa di Kota Malang. Sebab, programnya menjadi yang pertama di Kota Malang. ”Ada banyak sih yang sudah ke sini dan belajar.

Ada mahasiswa juga. Semoga saja dari apa yang saya curahkan bisa mengatasi pengangguran dari penyandang difabel,” terang perempuan yang mengaku bukan lulusan IT ini.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib