Bijak Pakai Antibiotik saat Sakit, Kuman Kebal karena Salah Kita

Tidak semua sakit itu, solusinya antibiotik. Misalnya, terasa nyeri telan, buru-buru mengonsumsi antibiotik. Atau, gonta-ganti antibiotik karena menganggapnya kurang cespleng. Hentikan kebiasaan itu!

FAKTOR penyebab antimicrobial resistance (AMR) adalah penggunaan antibiotik yang salah kaprah. Karena itu, sangat penting bersikap bijak dalam mengonsumsi antibiotik.

Berdasar survei kesehatan nasional 2013, ada 86 persen antibiotik di Indonesia yang disimpan tanpa resep dokter. Presiden Direktur PT Pfizer Indonesia Anil Argilla memperkirakan, pada 2050 lebih dari 4,7 juta orang di Asia Pasifik meninggal setiap tahun karena infeksi yang sebelumnya bisa disembuhkan dengan antibiotik. Angka tersebut tertinggi yang diproyeksikan secara global.

Dia menyebutkan, faktor penyebabnya, antara lain, kondisi lingkungan, sosio-ekonomi, pertanian, geografis, dan demografi. Kemudian, ditambah kebijakan untuk urusan kesehatan yang masih lemah. ”Antibiotik sering diperoleh dengan mudah,” tutur Anil saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pada pertengahan bulan lalu.

Dr dr Hari Paraton SpOG menambahkan, tidak semua penyakit disembuhkan dengan antibiotik. Padahal, umumnya, orang dengan gampangnya minum antibiotik. Apa pun sakit yang diderita. Sikap seperti itu keliru. Pasien tidak boleh memaksa dokter untuk menulis resep antibiotik jika memang tak membutuhkannya.

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba itu menyebutkan, di Indonesia, banyak sekali penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Sekitar 80 persen pemakaian antibiotik perlu dikoreksi. ”Tidak ada indikasinya, tapi diberi antibiotik,” terangnya saat ditemui di lokasi yang sama dengan Anil.

Ada juga fenomena membeli antibiotik sendiri tanpa resep di apotek atau apotek online. Dia menilai kondisi tersebut sangat merugikan diri sendiri. ”Setiap orang yang minum antibiotik, sebagian bakteri akan mati dan sebagian lagi berubah menjadi resistan. Lalu, tersimpan di tubuh kita,” paparnya.

Bahkan, berdasar data yang didapat Hari, sekitar 70 persen kematian pasien di ICU disebabkan kuman kebal beraneka antibiotik. Hal itu, lanjut dia, terjadi karena kebiasaan minum antibiotik sejak usia dini.

Lantas, apakah antibiotik sama sekali tidak boleh dikonsumsi? Dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang berdinas di RSUD dr Soetomo Surabaya itu mengatakan, boleh-boleh saja. Dengan catatan, tubuh terserang infeksi bakteri. Untuk memastikan penyebab sakit, virus atau bakteri, harus dilakukan tes darah.

Meski begitu, ada beberapa kuman yang tak membutuhkan antibiotik. Sakit tenggorokan, misalnya. Hari menjelaskan, sakit tenggorokan bisa disembuhkan dengan istirahat yang baik.

Lain halnya jika pemicu sakit adalah virus. Dia mencontohkan pasien demam berdarah yang penyebabnya virus dengue. Sampai koma pun, antibiotik tetap tak dibutuhkan. ”Antibiotik tidak bisa menyembuhkan sakit karena virus,” ujarnya. ”Contoh lain, penyakit usus buntu atau pneumonia. Ada yang disebabkan virus. Ada juga yang penyebabnya bakteri. Yang (penyebabnya) bakteri, butuh antibiotik,” sambungnya.

Penggunaan antibiotik yang bijak juga perlu dilakukan ibu hamil menjelang persalinan. Ketika akan menjalani operasi Caesar, biasanya dibutuhkan antibiotik. Setelah operasi, pasien tak lagi membutuhkan. Sebab, jahitan bekas operasi akan mengering tanpa perlu antibiotik. Kecuali, bila memang ada kondisi khusus yang berkaitan dengan infeksi bakteri.

BENTENGI DIRI DARI KUMAN

Melawan bakteri tak melulu dengan antibiotik. Anda bisa membentengi diri dari serangan bakteri melalui beberapa cara.

CUCI TANGAN

Dengan cuci tangan, sebagian besar bakteri atau virus bisa hilang. Pastikan sabun yang digunakan mengandung bahan antiseptik sehingga optimal mengenyahkan kuman di tangan. Saat mencuci tangan, Anda bisa menggunakan air yang mengalir.

VAKSINASI

Kenapa? Menurut dr Hari, vaksinasi mampu melindungi tubuh dari kuman tertentu. ”Kita nggak sakit. Begitu tidak sakit, kita tidak ke dokter. Maka, kita tidak dapat antibiotik,” tuturnya. Jika Anda merasa sakit, misalnya demam, Hari menyarankan cek darah di laboratorium. Pengecekan itu dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi bakteri atau virus. ”Kalau leukosit darah normal, maka ada infeksi virus. Tidak butuh antibiotik. Sementara jika leukositnya terlalu tinggi atau rendah, tubuh butuh antibiotik,” terangnya.

BERSIH DAN SEHAT

Jika harus membeli makanan dan minuman di luar rumah, lihat kondisi makanan dan minuman yang dijajakan. Apabila banyak lalat atau tampak kotor, mending Anda urung beli.

TIGA PENYAKIT YANG DISEBABKAN BAKTERI

Menurut Hari, tiga penyakit berikut bisa menyerang siapa pun. Tidak terkecuali ibu hamil atau menyusui. Apa saja ya?

RADANG USUS BUNTU

Penyakit yang satu ini menyerang bagian usus buntu atau apendiks. Penderita akan merasa nyeri di bagian kanan bawah perut. Jika dibiarkan, usus buntu bisa pecah dan membahayakan nyawa si sakit. Hari menjelaskan, penyebab radang usus buntu adalah bakteri. Karena itu, pasien membutuhkan antibiotik.

PNEUMONIA

Gejala infeksi paru-paru ini, antara lain, batuk, berkeringat, susah bernapas, hingga menggigil. Biasanya, pneumonia disebabkan oleh bakteri streptokokus.

INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

Bakteri yang menginfeksi saluran kemih didominasi E. coli. Bakteri itu masuk melalui lubang kencing. Rasa nyeri hingga panggul menjadi salah satu keluhan seseorang terserang ISK.