Bibit Radikalisme Tumbuh Karena Adanya Pembiaran

Lukman Edy

RADAR MALANG ONLINE – Calon gubernur Riau nomor urut 2, Lukman Edy mengaku prihatin dan miris dengan fakta bahwa di Riau saat ini selain masih banyak koruptor juga banyak teroris.

Penyerangan Mapolda Riau pekan lalu dan ditemukannya beberapa terduga teroris yang beralamat di Riau adalah alasannya. Menurut cagub Riau zaman now tersebut, hal ini terjadi karena adanya pembiaran oleh pemerintah provinsi terhadap pihak-pihak beraliran radikal.

“Selama ini pemerintah provinsi membiarkan kelompok agama yang terbiasa membid’ahkan kelompok lain, mengkafirkan kelompok lain, bahkan yang paling ekstrem adalah menghalalkan darah kelompok di luar mereka,” ujar Lukman saat silaturahmi dengan warga dusun Kencana, Bagan Sinembah, Rokan Hilir seperti yang diterima RADAR MALANG ONLINE, Rabu (23/5).

Lebih lanjut, mantan Menteri Desa era SBY itu menyayangkan kurangnya kepedulian pemerintah dengan tidak memberi bantuan kepada pondok-pondok pesantren di Riau.

“Semenjak reformasi pondok pesantren ini tidak pernah dibantu pemerintah, apalagi rumah-rumah suluk di Kampar yang ribuan itu. Sedangkan Riau ini dijuluki Negeri Sejuta Suluk. Inilah salah satu PR kita nanti, bagaimana mempertahankan tradisi-tradisi keagamaan ini,” tambah cagub yang berpasangan dengan Hardianto dan diusung oleh koalisi PKB-Gerindra itu.

Apabila terpilih sebagai Gubernur Riau 2019-2024 mendatang, imbuh LE, ia akan menghidupan tradisi keagamaan dengan salah satunya menggelar secara rutin Festival Suluk se-Riau.

“Ini kan sebenarnya potensi yang bisa dimaksimalkan. Setelah festival suluk ini jamaah bisa kembali ke surau masing-masing dan mengembangkan agama di daerah mereka,” terangnya.

Selain mencegah paham-paham radikal, kegiatan ini bisa jadi sarana menitipkan keselamatan bangsa dan pemimpin kita melalui para mursyid dan khalifah.”Inilah bentuk perjuangan, selain membangun infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, juga mempertahankan tradisi keagamaan kita,” pungkasnya.

(ica/JPC)