Bertandang ke Malang, Jokowi Minta Dirinya Difotokopi

JawaPos.com – Calon Presiden (capres) nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) melontarkan kalimat cukup unik saat berkampanye di GOR Ken Arok, Kota Malang, Senin (25/3) malam. Jokowi meminta agar dirinya bisa difotokopi. Hal itu menyusul banyaknya wilayah yang harus dia kunjungi selama masa kampanye ini. 

“Indonesia negara besar, semua bisa dikunjungi. Kalau saya bisa difotokopi saya minta difotokopi,” ujarnya di depan ribuan pendukungnya. 

Bahkan, dirinya mengeluhkan badannya lama-lama semakin kurus karena harus mengunjungi beberapa daerah dalam sehari. Jokowi bercerita, tiga hari lalu dirinya harus mengunjungi 5 provinsi dalam sehari. 

“3 hari lalu sehari ada di 5 Provinsi. Bangun di Istana Bogor, itu Provinsi Jawa Barat, kemudian meluncur ke (Bandara) Halim itu di DKI Jakarta, 2 provinsi. Kemudian terbang ke Nusa Tenggara Barat (NTB) sampai jam 3 sore, 3 provinsi. Jam 3 sore ke Bali 4 provinsi. Tengah malam ke Jogja. Sehari ada 5 provinsi, lama-lama saya bisa kurus,” ujarnya diikuti gelak tawa. 



Jokowi juga bercerita bila dirinya pernah dibilang gemuk oleh seseorang. “Saya dibilang, pak agak gemuk sekarang. Bukan gemuk, tapi gede bajunya,” ceritanya sembari tertawa dan diikuti oleh peserta yang memenuhi GOR. 

Sebagai informasi, untuk hari ini saja, Jokowi mempunyai agenda di tiga wilayah. Yakni di Banyuwangi, Jember, dan terakhir di Malang. 

Ketika pertama kali memasuki GOR, ribuan pendukung langsung menyerbu Jokowi. Mereka berebut untuk berswafoto. Dia pun menyapa pendukungnya dengan bahasa khas Malangan. “Yaopo kabare rek? Apik a? Sae nggih? (Gimana kabarnya? Baik kan?). Salam satu jiwa Arema,” seru Jokowi. 

Dia mengungkapkan, Malang merupakan kota yang menjadi barometer Indonesia di bidang seni, olahraga, kuliner, hingga politik. Oleh karena itu, dia merasa bila Kota Malang harus dikunjungi. “Semuanya ada di Malang. Oleh sebab itu Malang menjadi tempat yang saya kunjungi dalam kampanye nasional. Semoga selalu kompak, solid, militan,” pungkasnya.

Editor           : Sari Hardiyanto

Reporter      : Fiska Tanjung