Bersih-Bersih 4 Bendungan Hanya Gertakan?

KEPANJEN Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta 1 kembali mengeluhkan potensi pencemaran air. Lagi-lagi, keramba apung milik warga dituding sebagai salah satu penyebabnya. Direktur PT Jasa Tirta I Reymond Valiant Ruritan menyatakan, dampak yang ditimbulkan dari keramba apung itu cukup luas. Pertama, bisa berasal dari pakan ikan. ”(Pakan ikan) itu mengandung bahan kimia dan sulit terurai,” kata dia. Menurut dia, itu bakal berpengaruh terhadap kondisi air.

Dampak berikutnya, yakni terganggunya sistem operasi di empat bendungan yang ada di Kabupaten Malang. Yaitu, di Bendungan Lahor, Karangkates, Sengguruh, dan Selorejo. Kemungkinan itu mencuat karena tak sedikit keramba yang tidak lagi dipergunakan warga. Umumnya dibiarkan terbengkalai begitu saja. Nah, bekas dari keramba itulah yang kerap mengotori bendungan.

Sekretaris Perum Jasa Tirta 1 Fahmi Hidayat menambahkan, kondisi itu memang menjadi penyebab dominan pencemaran air di Kabupaten Malang. Tidak hanya di bendungan, tapi juga meluas hingga ke waduk-waduk. ”Pencemarannya itu memang banyak penyebabnya. Bisa dari limbah rumah tangga dan limbah pertanian. Yang paling banyak memang dari pakan (ikan) karena banyaknya keramba,” imbuh dia. Dari dokumentasi berita koran ini, gejala tersebut sebenarnya sudah diketahui sejak 2008 silam.

Sayangnya, langkah tegas masih belum petugas tunjukkan. Fahmi  berujar jika pihaknya baru menjalankan tahap pendataan dan sosialisasi pada pemilik keramba. ”Untuk penertiban memang belum dilakukan,” katanya. Dia mengaku masih membutuhkan proses pendataan dan sosialisasi lebih lanjut. Langkah itu dilakukan agar potensi konflik bisa diminimalisasi.

Dukungan pada Perum Jasa Tirta 1 untuk melakukan penertiban sebenarnya sempat disuarakan. Seperti disampaikan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Endang Retnowati. ”Kami masih menunggu untuk melakukan penertiban. Sudah pernah ada komunikasi, tapi belum berlanjut,” tambah Atik–sapaan akrabnya.



Dia berharap agar komunikasi lebih lanjut bisa terjalin. ”Kan harus turun bersama untuk melakukan pantuan lapangan,” imbuh dia.

Dukungan serupa juga datang dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang Budi Iswoyo. Dari pantauannya, problem maraknya keramba apung memang cukup kompleks. Dia  menjelaskan, awal pemanfaatan waduk untuk keramba memang diperbolehkan oleh Perum Jasa Tirta 1. Dengan catatan, hanya boleh dilakukan warga yang terdampak pembangunan. Dalam perkembangannya, dia mengindikasikan banyak pihak yang memanfaatkan kelonggaran tersebut.

”Awalnya masyarakat yang memanfaatkan. Tapi, sekarang lebih banyak menggunakan ya pemodal yang masuk,” jelas Budi. Dia juga sependapat tentang bahaya pakan ikan terhadap kondisi air. ”Ya bahaya itu, apalagi kalau semakin banyak zat pencemarnya,” imbuh mantan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang tersebut. Dari pengamatannya, pakan ikan yang memiliki nutrisi tinggi bisa mempercepat pertumbuhan alga.

Kondisi alga blooming atau tertutupnya permukaan waduk oleh alga bisa saja terjadi. Kondisi itulah yang bisa menurunkan kadar oksigen dalam air. ”Alganya kan tumbuh semakin cepat dari biasanya. Sebab, dia menyerap nutrisi dari pakan ikan,” terang Budi. Jika itu dibiarkan, jumlah biota di dalam air juga bisa tergerus.

 

 

Pewarta: Hafis Iqbal, dan Silvi
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Falahi Mubarok