Bermodal Lahan Pinjaman, Sukses Promosikan Atlet Muda

Tidak memiliki basic sebagai atlet maupun pelatih, tetapi sumbangsih Nurul Huda di cabang olahraga (cabor) tenis meja cukup nyata. Dengan Persatuan Tenis Meja (PTM) Petoeng yang didirikannya tiga tahun silam, beberapa atlet

Tidak memiliki basic sebagai atlet maupun pelatih, tetapi sumbangsih Nurul Huda di cabang olahraga (cabor) tenis meja cukup nyata. Dengan Persatuan Tenis Meja (PTM) Petoeng yang didirikannya tiga tahun silam, beberapa atlet

Suara gergaji terdengar cukup nyaring dari bangunan semipermanen di pinggir Jalan Hasyim Asyari, Kelurahan Penarukan, Kecamatan Kepanjen. Di depan pintu masuk berukuran 1,5 meter ada tulisan PTM Petoeng. Penanda bahwa bangunan tersebut merupakan markas dari perkumpulan tenis meja.

Suasana berantakan langsung tersaji saat wartawan koran ini berkunjung kemarin siang (22/10). Saat itu, seluruh anggota PTM Petoeng memang sedang melakukan renovasi di tempatnya latihan. Meja tenis tampak dilipat dan disisihkan. ”Bangunannya kan semipermanen. Jadi, harus sering dirawat agar nyaman,” terang Nurul Huda, ketua PTM Petoeng, menyambut koran ini.

Huda, sapaan akrabnya, menjelaskan, pada 2012 lalu PTM Petoeng hanya wadah perkumpulan warga yang hobi bermain tenis meja. Anggotanya setiap sore dan malam selalu bermain di pinggiran sungai. ”Namanya orang kampung kan hiburannya hanya tenis meja. Tapi, lama-lama malah banyak tawaran untuk uji coba termasuk ada anak-anak juga yang ikut,” sambungnya.

Dari seringnya tawaran yang datang itulah, pada 2014 dia mulai berniat mengumpulkan beberapa orang untuk membuat klub tenis meja. Meski tidak memiliki pengalaman, Huda tetap melakukannya. Beberapa orang pun bergabung dengan klub tenis mejanya. Gayung pun bersambut. Ada salah satu wali atlet yang memberikan bantuan berupa tanah.



Tanah seluas 6×18 meter itulah yang kemudian dipergunakan untuk tempat latihan. Ukuran memang memenuhi, tetapi belum memadai. Sebab, belum ada bangunan yang bisa digunakan untuk berteduh. Meski hanya mampu mendirikan bangunan semipermanen, semangat memperkenalkan tenis meja tidak pernah luntur. Huda yang tidak memiliki dasar melatih juga mau belajar secara otodidak.

”Kadang saya dan teman-teman juga ikut sparing. Agar ilmunya bertambah, apa lagi sudah banyak anak-anak yang ikut berlatih,” terangnya. Saat ini, ada 10 anak tingkat SD hingga SMA yang menjadi anggota klubnya. Mereka hanya dibebani iuran Rp 40 ribu per bulan. Yang dialokasikan untuk membeli bola.

 

Sementara untuk anggota senior tidak dibebani iuran bulanan. Namun, jika ada kebutuhan mendadak, akan diberlakukan patungan secara spontan. ”Kalau yang tua kan niatnya cari keringat, jadi lebih bebas. Tapi, kalau ada kebutuhan ya seadanya saling membantu,” ungkap pria kelahiran 25 Desember 1969 tersebut.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan ini mengaku bahwa klubnya lebih intens untuk melatih atlet muda. Beberapa atletnyanya pun terbukti mampu membuktikan kapasitasnya. ”Ada dua atau tiga anak yang diambil menjadi atlet kabupaten. Ini jadi motivasi sendiri. Apa lagi, kami masih baru dan belajar melatih juga otodidak,” ungkapnya.

Dia pun berharap bisa memiliki lahan yang lebih luas. Sebab, bangunan yang ada sekarang memang kurang representatif. Untuk latihan, hanya mampu memuat dua meja. Idealnya, harus bisa menampung empat meja. ”Jelas ingin punya gedung latihan sendiri, semoga saja nanti terlaksana. Sekarang juga sudah mulai banyak yang tertarik dengan tenis meja,” tutupnya.

Pewarta: Hafis Iqbal
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Indah Setyowati
Fotografer: Hafis Iqbal