Bermalam di Rumah Warga, Pernah Dihadang Diminta Mengisi Sumur Sinergi Jawa Pos

Gersang. Itu kesan pertama ketika Koran ini mengijakkan kaki di perbukitan Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan, kemarin(6/9). Sebuah mobil tangki berkapasitas 4 ribu liter terlihat tengah mengisi tandon air di desa tersebut.

Ya, pada saat musim kemarau, para petugas ini harus dengan sabar melayani masyarakat yang membutuhkan air bersih. Pada awal-awal kekeringan, seperti bulan ini biasanya cukup ditangani oleh beberapa personel. Namun saat puncak kekeringan, mereka harus bolak balik dari pusat kota menuju daerah yang terdampak kekeringan. Karakter daerah Trenggalek yang didominasi pegunungan  pun menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap tahun.

Saat sekarang ini, kegiatan distribusi air bersih bisa dikatakan santai. Per hari rata-rata 5 sampai 6 tangki ditransfer ke tandon atau tempat-tempat penampungan air bersih di beberapa daerah. Setidaknya dua buah armada mobil dan dua  personil dikerahkan untuk aktivitas tersebut. Berbeda ketika dampak kekeringan telah melanda sebagian besar daerah di Trenggalek.

“Oalaah wes entek, mbalik maneh to mas (Oalaah udah habis, kembali lagi to mas)?” kenang Kukuh Sasmito, seorang petugas menirukan ujar kekecewaan warga saat tangki penuh air yang dibawanya telah habis terdistribusikan. Dengan berat hati dia pun harus menjawab bahwa nanti petugas pembawa air bersih tersebut akan kembali. Meskipun nyatanya hal itu  sebagai lips service, untuk menenangkan warga yang belum kebagian air. “ Hari sudah menjelang malam, lokasinya pun jauh di daerah pedalaman Kecamatan Panggul sana. Dan tidak memungkinkan petugas untuk mengirim air lagi,” jelas dia.

Salah satu musim kering terparah terjadi pada 2015 lalu. Sejumlah daerah Panggul harus mendapatkan penanganan lebih dibandingkan daerah lain. Pasalnya, lokasi yang perbukitan dan akses cukup sulit turut menjadi kendala saat proses distribusi air bersih. Seperti di Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul.

Di lokasi ini sebenarnya terdapat sumur umum yang biasanya digunakan masyarakat sekitar untuk mencukupi kebutuhan air bersih. Namun saat musim kemarau datang, sudah hampir bisa dipastikan daerah tersebut memerlukan bantuan air bersih dari orang lain.

Medan yang naik turun dan kondisi jalan terjal menjadi kendala utama mendistribusikan air tersebut. Bahkan, setiap momen kekeringan sudah dipastikan membutuhkan personel dobel untuk mencukupi kebutuhan air di daerah ini. “ Biasanya kami gantian. Jadi ada petugas  yang bermalam di sana untuk mendistribusikan air,” katanya.

Dikatakan dia, di Panggul memang terdapat sumber dari PDAM yang bisa disalurkan kepada warga yang terdampak kekeringan. Namun, karena daerah terdampak kekeringan tersebut cukup jauh, sehingga cukup melelahkan jika petugas berangkat dari kantor alias wilayah kota.

Untuk itu sebagian personel harus menginap di sana (Panggul,red) agar fisik petugas tidak drop. “ Wah kalau berangkat dari kantor terus ke lokasi kekeringan ya jauh sekali,” kata kukuh.

Biasanya, para petugas ini memanfaatkan kantor kecamatan atau rumah seorang perangkat desa menjadi tempat istirahat atau bermalam saat suplai air bersih tersebut.

Hal senada diungkapkan Sutopo. Menurut dia, rekor bolak balik dari daerah kota menuju lokasi kekeringan sebanyak tujuh kali dalam sehari. Itu pun diakuinya sudah sangat ngoyo alias berat. Semua armada dan pesonel dikerahka  saat puncak kekeringan. Di sisi lain, petugas harus antre saat mengisi tangki untuk dibawa ke lokasi kekeringan.  “ Kalau pas ramai, ada lima armada yang antre ngisi di PDAM,” akunya.

Dikatakan dia,  ada suka duka saat menjadi petugas penyuplai air bersih. Suka ketika melihat mereka yang membutuhkan air bisa tersenyum, dukanya saat apa yang mereka bawa ternyata tidak mampu mengcover semua kebutuhan, bahkan ada yang tidak kebagian air bersih tersebut.

Pernah juga pihaknya dihadang warga dan diminta mengisi sumur dengan air di tangki tersebut. Hal ini sebenarnya dipicu emosi warga, yang mungkin khawatir tidak kebagian air bersih. Namun, petugas memliki penilaian lain. Jika air tersebut dimasukkan semua ke sumur justru jumlah mereka yang mendapatkan air akan berkurang. Pasalnya, air akan meresap ke tanah yang  kekeringan. Beruntung warga bisa menerima penjelasan tersebut. “ Wah kalau namanya orang butuh air itu, bahaya kalau emosi,” jelas dia. (*) 

(rt/muh/dre/JPR)