Berkat Siswa SMA, Tanam Sayuran Tak Lagi Butuh Lahan

Kreativitas dua siswa SMAN 8 Kota Malang ini patut diacungi jempol. Karya mereka seolah menjawab permasalahan kaum urban selama ini, yakni ingin bercocok tanam, tapi tidak memiliki lahan. Inovasi siswa ini diberi nama Portable 3 Teknik Aquaponik (P3TA). Seperti apa?

Inovasi ini pada dasarnya menggabungkan tiga teknik penanaman menggunakan air yang mengutamakan efisiensi. Selain itu, kelebihan dari P3TA ini adalah sifatnya yang portable atau mudah dibawa dan dipindah-pindah.

Karena inovasi tersebut, tim SMAN 8 Malang yang terdiri dari Muhammad Daffa’ Dhiya Ulhaqq Wahyu Putra (siswa kelas XII), Nova Isra’ Murima (siswa kelas XII), Wiedia Carullina Purwanti SPd (guru pembimbing), dan Muzeki (pembimbing), meraih juara 3 dalam lomba Inovasi Teknologi (Inotek) 2017 Kota Malang untuk kategori Lingkungan Hidup.

Dalam P3TA yang berukuran sekitar 60 cm x 45 cm x 130 cm tersebut, ada tiga sistem penanaman. Yaitu, Nutrien Film Technique (NFT), Wick System, dan Floating System. Ketiga sistem ini dibentuk seperti rak yang dihubungkan dengan pipa-pipa. Paling atas adalah NFT, lalu di tengah terdapat Wick System, dan paling bahwa adalah Floating System. Pembuatan desain dan uji coba alat ini dilakukan sejak Desember 2016.

”Sementara ini kita sudah coba menanam kangkung dan sawi pagoda,” ungkap Daffa’, sapaan akrabnya, saat ditemui di lahan Egoponik (Edukasi Toga dan Hidroponik) di SMAN 8 kemarin (9/11).

Teknik NFT dan Wick System digunakan untuk menanam sawi, sedangkan Floating System (sistem mengapung) khusus digunakan untuk kangkung.

Jika ingin menanam sawi, pertama-tama bibit harus disemaikan dahulu di tempat gelap. Setelah mulai berkecambah, ditaruh di Wick System yang menggunakan kain flanel untuk membawa larutan nutrisi kepada tanaman. ”Kalau sudah sekitar 2-3 minggu, lalu dipindah ke NFT,” ujar Daffa’.

NFT adalah sistem sirkulasi air bernutrisi. Jadi, akar tanaman akan tumbuh pada lapisan nutrisi yang dicampur dengan air. Dengan P3TA, terbukti pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat karena dalam waktu empat minggu sudah bisa dipanen.

Dalam hal ini, nutrisi yang mereka gunakan adalah nutris AB Mix berupa cairan dan nutrisi organik yang diambil dari kotoran ikan.

”Kita berusaha menggunakan nutrisi yang organik agar lebih aman untuk tanamannya sendiri,” kata Nova, sapaan akrabnya. Dalam perawatannya, tim P3TA juga selalu menggunakan racikan alami.

”Biasanya untuk mengusir hama, kita pakai larutan tiga siung bawang putih yang dicampur air dan disemprot 1-2 minggu sekali,” jelasnya.

Hasil dari P3TA ini sudah mereka manfaatkan di sekolah. Harga sayur-mayur sudah tertera di dalam area Egoponik SMA 8. Misalnya, kangkung per satu kilogram bisa dibeli seharga Rp 10 ribu, lalu sawi pagoda Rp 40 ribu per kilogram, sawi pakcoy Rp 32 ribu, dan masih banyak lagi.

Pewarta: Tabita Makitan
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Tabita Makitan